Search

LareSabin

-nyanyian sepanjang jalan-

Australia yang (selalu) gamang

Tempat yang selalu menarik dikunjungi di airport adalah toko buku. Saat pulang dari Perth minggu lalu saya melihat buku ‘The Rise and Fall of Australia’ karya Nick Bryant. Penulis adalah koresponden BBC berkewarganegaraan Amerika yang pernah bertugas di Negeri Kanguru selama lima tahun.

Dengan teknik penulisan gaya wartawan yang enak dibaca Bryant menggambarkan bagaimana tetangga selatan kita itu secara terus-menerus berada di persimpangan. Hampir di sepanjang perjalanan sejarah mereka merasa ‘gamang’.

Persimpangan paling berat yang mereka hadapi adalah identitas. Pertama, Australia adalah bangsa Eropa yang berada di tengah-tengah bangsa Asia dan Pasifik. Awalnya mereka membanggakan peradaban Eropa sebagai aspek paling penting yang menjadi pembeda dengan negara-negara di sekitarnya.

Pendulum bergerak dan dewasa ini Asia-Pasifik menjadi lebih penting bagi Australia dibandingkan Eropa. Setidaknya secara ekonomi. Australia mulai menganggap diri mereka bagian dari Asia, meski masih malu-malu.

Kedua, Australia masih juga bimbang apakah akan menjadi republik atau tetap menjadikan tahta Inggris sebagai kepala negara. Sejumlah tokoh pro-republik pernah menjadi perdana menteri. Sayangnya saat menjadi perdana menteri semangat republikan mereka seperti melemah lalu hilang begitu saja. 

Bryant menyebut nuansa romantisme masa lalu yang masih begitu kental yang membuat Australia merasa perlu tetap mempertahankan ikatan mereka dengan Inggris.

Dua contoh di atas menggambarkan banyak persimpangan yang ada. Dapat dikatakan sudah jamak karena persaingan antara Sydney dan Melbourne sudah muncul saat negara ini baru lahir. Persaingan membuat mereka perlu ‘menciptakan’ kota baru Canberra sebagai ibukota.

Selain persimpangan di atas Bryant juga mengupas kegaduhan politik tingkat federal dua dekade terakhir. Setelah John Howard lengser, belum ada perdana menteri yang berkuasa lebih dari tiga tahun. Masa pemerintahan Kevid Rudd berlangsung singkat karena ‘dikudeta’ oleh sesama politisi Partai Buruh. Posisinya kemudian digantikan oleh Julia Gillard. Rudd kemudian naik lagi sebelum akhirnya Partai Buruh kalah dari Partai Koalisi. 

Partai Koalisi juga tidak solid. Perseteruan antara Tony Abbott dan Malcom Turnbull mendominasi dinamika internal partai ini setelah duduk kembali di pemerintahan. Pada pemilu terakhir mereka hanya unggul tipis dari Partai Buruh.

Gonjang-ganjing politik ini membuat Bryant secara cerdas menyebut Canberra sebagai ‘coup capital of the democratic world.’ Dinamika politik federal pada hakikatnya juga merupakan cerminan dari kegamangan Australia menatap masa depan. Baik Partai Buruh maupun Koalisi sepertinya tidak memiliki perbedaan platform yang jelas.

Satu hal yang tidak lagi membuat mereka gamang, menurut saya, adalah soal sepakbola. Australia terlihat nyaman berpindah dari konfderasi Oceania ke Asia. Harapan mereka untuk dapat berlaga di zona yang lebih kompetitif terkabul. Fakta ini membuat pikiran usil saya muncul: mereka merasa nyaman menjadi bagian dari Asia jika hal tersebut dianggap menguntungkan hehehe…

Akhirnya, saya menilai buku ini layak dan enak dibaca. Sebagai ‘orang Barat’ Bryant relatif objektif dalam menganalisis Australia yang juga berbudaya Barat. Latar belakangnya sebagai jurnalis juga membuat buku ini tidak membosankan untuk dibaca.

Penangkapan Diponegoro

Tahun 1990, atau 1991, saya berkesempatan mengunjungi rumah tempat Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda. Terletak di sisi barat kota Magelang, rumah yang kini difungsikan sebagai museum berada di lingkungan yang asri. Dari halaman rumah terhampar pemandangan indah lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Setelah lima tahun berperang, Diponegoro memutuskan menerima ajaka Belanda untuk berunding. Ternyata ajakan berunding itu tipu muslihat belaka. Alih-alih diajak bernegosiasi, Diponegoro ditangkap oleh Letnan Jenderal De Kock. Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado, lalu dipindah ke Makassar.

Minggu lalu saya berkesempatan melihat lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh. Lukisan yang termasyhur itu sedang dipamerkan di Galeri Nasional bersama dengan sejumlah lukisan lain koleksi Istana Presiden.

Penangkapan Pangeran Diponegoro dilukis pada tahun 1857. Melalui lukisan ini Raden Saleh mempersepsikan penangkapan yang terjadi pada tanggal 28 Marer 1830.

Satu hal yang menonjol adalah bagaimana Raden Saleh melukis bentuk tubuh orang-orang Belanda secara tidak proporsional. Berbeda dengan bentuk tubuh Diponegoro dan pengikutnya yang dilukis secara proporsional. Untuk pelukis dengan kaliber maestro, melukis tubuh orang dalam bentuk yang tidak proporsional tentulah bukan suatu kebetulan, apalagi kecelakaan. Bentuk tidak proporsional ini mengandung pesan tentang ‘ketidaknormalan’ Belanda karena telah berlaku lancung. Mereka pura-pura mengajak berunding, namun ajakan itu ternyata jebakan. Mereka telah mengkhianati niat baik Diponegoro.

Raden Saleh juga menggambarkan sosok Diponegoro yang gagah, terlihat seperti melakukan perlawanan terakhir sebelum dimasukkan kereta milik Belanda. Sosok Diponegoro versi Raden Saleh berkebalikan dengan sosok yang digambarkan dalam lukisan mengenai peristiwa yang sama karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman. Dalam lukisan yang diselesaikan tahun 1835 itu Diponegoro digambarkan sebagai sosok yang lesu dan terlihat tak berdaya di hadapan Belanda.

Meski ‘dibesarkan’ oleh Belanda, Raden Saleh tidak kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia. Melalui lukisan itu Raden Saleh menciptakan suasana baru peristiwa penangkapan Diponegoro, bertolak belakang dengan apa yang digambarkan Pieneman. Raden Saleh juga mencibir De Kock dan kawan-kawannya sebagai orang yang tidak normal karena sifat mereka yang licik dan menghalalkan secara cara.

Tahun 2011 saya berkunjung ke Makassar, tempat Pangeran Diponegoro wafat dan dimakamkan. Karena waktu yang terbatas, makam dan museum Diponegoro urung dikunjungi. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi di lain waktu untuk mengunjungi tempat peristirahatan sang pangeran yang pernah membuat Belanda kewalahan ini.

Sapu Tangan dan Perjuangan

Beberapa waktu lampau sapu tangan adalah benda penting. Bukan hanya karena fungsinya, tetapi juga karena nilainya sebagai pengikat memori. Setidaknya itu yang tersirat dari beberapa lagu  jadul.

Sapu Tangan dari Bandung Selatan adalah salah satu contoh. Lagu ini berkisah tentang asmara yang berkobar di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seperti pergulatan antara cinta kepada kekasih dan cinta kepada tanah air. Di akhir lagu sang gadis pujaan merelakan kekasihnya mendahulukan cintanya kepada negara. Sapu tangan menjadi ‘tanda kasih jaya sakti’ mereka.

Setelah kemerdekaan diraih muncul lagu tentang ‘sapu tanganku warna merah jambu.’ Saya lupa judul lagu itu. Jika tidak salah sapu dalam lagu ini juga menjadi tanda ikatan kasih asmara ‘di zaman susah.’ 

Saat belum alamat email, pin BB, dan nomer HP belum menjadi bagian dari peradaban, para pecinta berharap sapu tangan dapat menjadi penolong mereka untuk bertemu dengan kekasih yang hilang entah kemana. Setiap hari sapu tangan itu mereka pandangi, seperti orang zaman sekarang memerhatikan telepon genggam menunggu pesan atau panggilan masuk.

Di zaman perjuangan sapu tangan memiliki makna yang tidak kalah penting dari senjata. Jika senjata mewakili kedahsyatan – atau kebrutalan – sebuah perang sebagai bagian dari pejuangan, sapu tangan menggambarkan sisi lain dari sudut pandang kemanusiaan. Saat perang berkecamuk, soal asmara tetap ada dan bergelora.

Dua minggu ini sapu tangan juga kembali menjadi benda penting bagi saya. Bukan sebagai penanda kekasih yang hilang, tapi sebagai senjata dalam perjuangan melawan macet di Jakarta yang panas. Memang sapu tangan itu tidak lagi menyimpan kenangan manis, tetapi bau apek keringat yang mengering dan debu jalanan yang tertinggal di badan. Tidak disimpan sebagai kenangan, tetapi harus dicuci setiap hari agar bisa dipakai lagi esok lusa.

Turun 15 kg dalam 2 Bulan

Ini adalah cerita klasik soal berat badan berlebih akibat perpaduan antara makan tidak teratur dan kurang gerak. Gerak saja kurang, apalagi olahraga. Dan ini saya alami sendiri. Pertengahan tahun 2015 berat badan saya sudah melewati ‘batas psikologis’ tiga digit alias 100kg!

Melihat angka di timbangan – dan juga potret diri di cermin – muncul niat untuk menurunkan berat badan. Mulailah saya berselancar di dunia maya, mencari referensi tentang diet untuk menurunkan berat badan. Buku tentang diet pun saya beli – meski tidak kunjung dibaca.

Lagi-lagi ketemu persoalan klasik. Seperti tulisan di stiker angkot: sekarang bayar, besok gratis. Niat untuk diet selalu kalah dengan slogan: sekarang makan banyak, besok baru diet. Dan alasan besok-besok terus diulang.

Pertengahan November 2015 saya mulai latihan jogging. Dengan susah payah, tentu saja. Selain lama tidak jogging, faktor berat badan juga berpengaruh.

Seminggu kemudian lutut saya mulai terasa tidak enak, sampai akhirnya bengkak dan bahkan susah untuk dipakai jalan. Alamak. Setelah diperiksa, dokter menyarankan untuk menurunkan berat badan dulu. Kalau berat badan sudah turun, lutut tidak akan terlalu tersiksa menahan beban yang berat.

menu1

Oke. Tanggal 20 November saya bertekad bulat untuk mulai program diet. Asupan kalori dipangkas. Karbohidrat dikurangi. Gula dikurangi. Cemilan dilarang. Benar-benar seperti revolusi. Dibutuhkan keingan untuk mengubah gaya dan pola makan secara drastis.

Menu makanan saya mulai didominasi hijau sayuran seperti terlihat di foto. Untuk asupan protein, telur rebus dan susu rendah lemak saya masukan dalam menu makan pagi. Juga daging ayam tanpa lemak. Masakan Indonesia yang penuh bumbu sementara dikurangi. Nasi juga dibatasi. Mie instan untuk sementara tidak dilirik.

menu3

Godaan? Tentu saja datang tanpa diundang. Paling berat adalah saat ditugaskan kantor ke luar kota. Sayang sekali melewatkan wisata kuliner di tempat yang belum pernah dikunjungi. Jika sudah begini, terpaksa harus berusaha keras menahan air liur.

Juga ketika teman-teman kantor mengajak makan di luar. Apalagi ditambah label gratis. Untunglah teman-teman memiliki empati yang tinggi. Tahu saya sedang diet, intensitas ajakan makan di luar menurun. Kalaupun mengajak biasanya cuma sekadar kelakar.

menu2

Menjalani diet perlu dukungan dari orang-orang di sekitar kita. Dan untunglah istri tercinta sangat total dalam mendukung. Menu diet selalu disiapkan, termasuk bekal makan siang di kantor.

Saya juga memasang aplikasi weight tracker di hp, untuk mengetahui asupan kalori yang masuk tiap hari serta perkembangan berat badan. Aplikasi ini juga menambah pengetahuan tentang kandungan kalori beragam jenis makanan. Baru tersadar jika selama ini saya makan tanpa menghitunh kalori, lalu menumpuk menjadi lemak.

Konsisten dalam diet tidak mudah. Ada kalanya semangat untuk diet berkurang. Namun semangat itu kembali muncul saat melihat angka timbangan turun dan terus turun. Artinya diet berhasil dan semangat untuk melanjutkan diet muncul kembali.

Seperti pagi ini, timbangan memunculkan angka 87,3 kg. Berdasarkan BMI, berat badan saya tidak lagi masuk kategori obesitas namun sudah naik kelas jadi overweight. Dan perjuangan sejak 20 November – atau sekitar dua bulan terakhir – mulai membuahkan hasil: berat badan sudah berkurang 15 kg!

Angka di timbangan – dan juga tulisan ini – menjadi penyemangat saya untuk mencapai target berikut: 80 kg.

Mohon doanya ya… Salam.

Libur Panjang dan Macet di Jalan Tol

Setiap libur panjang kita disuguhi – dan kadang menikmati – kemacetan parah di jalan tol. Jalan bebas hambatan yang dibangun untuk mempercepat pergerakan kendaraan mendadak berubah menjadi tempat parkir tiban. Penyebab kemacetan ini demikian kompleks. Ada yang menyebut pintu masuk dan keluar tol sebagai biang keladi.

Di Austria, berbeda dengan di Indonesia, tidak dikenal gerbang masuk dan keluar tol. Kendaraan yang melintasi jalan tol dikenakan bea tapi tidak dengan membayar di tempat saat masuk atau keluar gerbang tol. Austria – dan juga beberapa negara lain di Eropa – menerapkan sistem stiker. Stiker tol yang dikenal juga sebagai vignette ini dipasang di bagian kiri atas kaca depan kendaraan.

Ada tiga jenis stiker tol untuk kendaraan pribadi – ukuran kecil dan sedang. Pertama adalah stiker dengan masa berlaku 10 hari seharga €8.80. Sekitar 132ribu rupiah dengan kurs 15ribu. Stiker dengan durasi terpendek ini biasanya dibeli oleh kendaraan yang melintas di Austria untuk sementara waktu. Misalnya mereka yang tengah melancong.

Kedua adalah stiker dengan masa berlaku 2 bulan seharga €25.70 atau sekitar 385ribu.

Ketiga adalah stiker dengan masa berlaku setahun seharga €85.70 atau sekitar Rp 1.285.500. Dengan stiker ini kita bisa berkendara di tol sak monahe. Mau ngalor-ngidul di tol sepanjang tahun juga boleh

Denda dikenakan untuk kendaraan yang tidak memiliki stiker yang valid. Jika dibaya di tempat, besarnya denda adalah €240. Denda akan lebih mahal jika dibayar di waktu lain. Misal: lagi bokek berat.

Tidak adanya gerbang tol membuat antrian kendaraan masuk atau keluar tol jarang ditemui. Tol selalu lancar, kecuali dalam kondisi darurat.

Selain itu sistem stiker juga membuat ongkos tol menjadi murah – jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Tol tahunan seharga €85.70 jika dibagi 365 jatuhnya hanya kisaran 3.000-4.000 rupiah.

Berapa rata-rata ongkos tol yang harus dikeluarkan di Indonesia dalam sehari? Bisakah sistem stiker diterapkan di Indonesia?

Jangan dipikir terlalu serius, ndak merusak mood liburan hehehe…

Topi Hijau, Maulid dan Natal

Sebelum kembali ke Wina siang ini, saya berkesempatan melihat-lihat kembali pusat kota Ljubljana. Meski bulan Desember hampir habis, salju juga belum juga turun. Matahari bersinar lumayan cerah membuat hawa musim dingin menjadi sedikit hangat.

Suasana Natal begitu terasa. Pohon Natal lumayan tinggi berdiri kokoh di depan katedral. Di sekelilingnya berdiri kios-kios yang menjual aneka pernak-pernik Natal. Tidak jauh dari katedral empat orang bertopi ala Sinterklas menyanyi lagu dalam irama ceria diiringi akordeon dan seruling.

Lalu saya melihat topi berwarna hijau dengan gambar bintang merah ini. Sekilas mirip topi tentara. Aku jatuh hati kepada topi ini pada pandangan pertama. Dan pada pandangan kedua, aku memutuskan membelinya.

“Rojen pod srečno zvezdo”. Tulisan dalam bahasa Slovenia ini tertera di lidah topi. Terjemahannya dalam bahasa Inggris tertera di bagian atas topi: born under under a lucky star.

Topi langsung aku pakai, menemaniku menyusuri sudut kota tua Ljubljana. Beberapa langkah dari kios penjual topi, saya baru sadar jika hari ini umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad dan sehari berikutnya umat Kristen merayakan kelahiran Yesus.

Ah, mungkin cuma kebetulan yang direka pikiran saya saja. Namun topi ini akan menjadi selalu pengingat saat hari lahir dua figur paling penting dalam sejarah manusia diperingati back to back.

Dulu saya menyambut hari lahir Nabi Muhammad dengan membaca dan melagukan syair dari kitab Al-Barzanji. Perjanjen, demikian orang-orang di kampung saya menyebutnya. Syair Al-Barzanji merupakan lantunan rasa bahagia menyambut kelahiran Nabi. Belum ada tradisi saling mengucapkan Selamat Maulid Nabi. Yang ada adalah lantunan doa Yaa Nabi salaam ‘alaika. Wahai utusan Allah semoga keselamatan selalu bersamamu.

Setelah merantau meninggalkan kampung halaman, saya mulai bertemu dengan sahabat-sahabat yang beragama Kristen. Sejak itu tradisi kebhinekaan bertambah satu lagi: mengucapkan Selamat Natal kepada teman dan sahabat yang merayakan.

Perayaan Maulid Nabi dan Natal yang berdampingan mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Namun kita selalu memiliki kesempatan untuk menjadikan perbedaan sebagai nikmat dan anugerah. Bukan sebagai alasan untuk saling mengalahkan.

Yaa Nabi salaam ‘alaika, yaa Rasul salaam ‘alaika. Yaa habib salam ‘alaika, shalawatullah ‘alaika. Wahai nabi, rasul dan sang kekasih semoga keselamatan selalu bersamamu dan rahmat Allah selalu tercurah untukmu.

Untuk seluruh saudara dan sahabat yang beragama Kristen, Selamat Natal semoga damai selalu bersama kita semua.

(Tol A2 selepas kota Graz menuju ke Wina)

Nonton ‘Siti’ di Vienna Film Festival

Setelah sekian lama tidak menyaksikan film Indonesia, kemarin sore saya berkesempatan menonton sebuah film berjudul Siti di layar lebar. Kebetulan film besutan sutradara Eddie Cahyono produksi tahun 2014 ini diputar di ajang Viennale atau Vienna International Film Festival. Siti menjadi satu-satunya film karya sutradara Indonesia yang diikutkan dalam festival film tahunan di ibukota Austria ini. Oleh karenanya kesempatan menonton film ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

viennale2
Deskripsi film Siti di buku program Viennale.

Saat film mulai diputar, di layar terpampang adegan dalam format hitam putih. Saya berfikir format hitam putih hanya digunakan sebagai pembuka, untuk menambah kesan flashback yang kuat pada adegan yang menggambarkan masa lalu Siti sang tokoh utama. Berikutnya saya dengar dialog pembuka dalam bahasa Jawa. Lagi-lagi saya menduga penggunaan bahasa Jawa ini hanya sementara. Hanya untuk menegaskan setting film di pesisir selatan Yogyakarta.

Ternyata dugaan saya keliru. Format hitam putih dipakai di sepanjang film, menguatkan nuansa pahit getir kehidupan yang dijadikan tema utama film Siti. Hampir seluruh dialog juga diucapkan dalam bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa ini membuat suasana terbangun begitu sempurna, menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Karena kebetulan berasal dari Jawa Tengah, saya tidak perlu melihat subtitlebahasa Inggris di layar untuk menghayati dialog di sepanjang film. Sementara tiga teman yang kebetulan lahir dan besar di Jakarta harus melihat subtitle agar bisa memahami dialog dengan sempurna.

Cerita film Siti menggambarkan secara lugas fenomena yang banyak dijumpai di kalangan bawah. Kali ini yang dimunculkan adalah kegetiran hidup sebuah keluarga nelayan. Bagus – suami Siti – mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan saat melaut. Tidak hanya itu, kapal yang dibeli dengan uang pinjaman karam dalam kecelakaan itu. Akibatnya Siti harus berjuang mati-matian untuk melunasi pinjaman serta menghidupi Bagas, anak mereka satu-satunya yang duduk di bangku SD.

Penghasilan dari berjualan kerupuk jingking di pantai Parangtritis yang tidak seberapa membuat Siti harus mencari pekerjaan lain. Tidak tamat SMA, Siti tidak memiliki banyak pilihan. Bahkan mungkin tidak memiliki pilihan. Tuntutan hidup membuat Siti terpaksa bekerja sebagai pemandu lagu di warung karaoke remang-remang tidak jauh dari rumahnya. Sejak Siti bekerja sebagai pemandu lagu, Bagus suaminya tidak mau lagi berbicara dengan Siti.

Inti dari film ini adalah konflik batin Siti. Pada satu sisi dia masih mencintai suaminya Bagus yang saat ini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Namun di sisi lain di harus mencari uang untuk menyambung hidup dan melunasi hutang. Kemudian juga muncul tokoh Gatot – seorang bintara polisi yang jatuh hati dan mengajak Siti menikah. Meski sebenarnya kehadiran dan peran Gatot di film ini patut dipertanyakan. Jika memang dia mencintai Siti, kenapa dia – misalnya – tidak mengingatkannya untuk berhenti mencari nafkah di ‘kehidupan malam’. Kelihatannya sutradara perlu menambah tokoh untuk meningkatkan kerumitan konflik batin Siti.

Cerita berakhir dengan keberhasilan Siti mengumpulkan uang lima juta rupiah untuk membayar hutang. Gatot – sang polisi yang baik hati – memberi Siti uang. Juga pemilik warung karaoke yang setelah berdemonstrasi ke Polsek diizinkan lagi untuk membuka usahanya.

Pulang dalam keadaan mabuk dan sakit perut, Siti berkata kepada Bagus bahwa ada lelaki bernama Gatot yang mengajaknya menikah. Siti minta pendapat Bagus. Menjawab pertanyaan Siti, Bagus membuka suara – untuk pertama kalinya di sepanjang film – dan dengan nada getir mengizinkan Siti pergi. Mungkin karena kecewa mendengar jawaban tersebut, Siti meraung – maaf – “Asuuuu…” Dalam subtitle bahasa Inggris raungan Siti diterjemahkan sebagai – sekali lagi maaf – asshole.

Tertatih-tatih sambil menahan sakit di perut Siti mengambil uang dari lemari dan menyerahkan kepada ibu mertuanya. “Nggo mbayar kapal, Mbok”. Dia membangunkan Bagas anak satu-satunya namun Bagas menolak dengan alasan mau tidur karena besok haris ke sekolah. Siti keluar dari rumah di pagi buta. Sang ibu mertua tak kuasa menahannya.

viennale
Tiket nonton Siti di Bioskop Gartenbau, Vienna.

Saya lihat penonton – meski jumlahnya tidak begitu banyak – tidak ada yang beranjak dari kursi selama film diputar. Mereka tampak menikmati adegan demi adegan dalam film yang mengalir dan tidak membosankan. Sutradara patut diacungi jempol karena berhasil membangun cerita yang padat, tanpa dialog yang bertele-tele. Sutradara juga membuka mata penonton dan menunjukkan sisi lain dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Getir namun artistik. Sangat pantas jika film ini meraih penghargaan di festival film Hamburg (2015), Taipei (2015), dan Singapura (2014).

Saat beranjak dari kursi, saya menduga para penonton keluar bioskop sambil bertanya-tanya bagaimana nasib Siti selanjutnya. Film ditutup dengan adegan Siti yang dengan tertatih-tatih berhasil mencapai garis pantai. Apakah Siti akan melompat ke laut? Apakah sakit perutnya serius? Apakah sakit perut itu disebabkan oleh minuman keras oplosan yang ditenggaknya di tempat karaoke? Atau ibu mertuanya meminta bantuan para tetangga untuk mengejar Siti? Semua hanya bisa menduga dan menerka.

Siti adalah kisah hidup yang getir namun nyata dan masih banyak dijumpai di Indonesia. Siti adalah potret perempuan marjinal yang dipaksa oleh keadaan menjadi ujung tombak ekonomi keluarga. Dia harus bekerja meski batinnya menjerit karena menjadi pemandu lagu tidaklah sejalan dengan nuraninya.

Saya tidak tahu apa yang muncul di benak penonton Austria saat mereka menyaksikan rumah beralas tanah dan berdinding bambu tempat tinggal keluarga Siti. Juga peralatan rumah tangga yang begitu minim dan orang sakit yang terbaring di tempat tidur tanpa jaminan kesehatan. Bagi mereka yang hidup di negara maju dengan sistem jaminan sosial dan kesehatan yang tertata rapi, kehidupan yang dialami Siti mungkin dianggap sebagai dongeng. Padahal banyak Siti-Siti lain – bahkan dengan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan – yang ada di Indonesia.

Angin dingin musim gugur senja itu segera menyambut saya saya keluar dari bioskop. Sepanjang perjalanan pulang saya terus berusaha menduga akhir kisah Siti. Saya berharap Bagus suaminya sembuh dan bisa kembali bekerja sebagai nelayan, Siti tidak lagi menjadi pemandu lagu, dan Bagas bisa lebih berkonsentrasi dalam belajar untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pilot.

Nikmatnya Angsa Panggang Khas Slovakia

Kuliner khas suatu kota atau daerah selalu menjadi ‘destinasi’ wisata yang wajib dicoba. Selain maknyus dan membuat kenyang, sering ada cerita menarik di balik terciptanya kuliner khas tersebut. Akhir pekan lalu saya dan sejumlah teman berwisata kuliner merasakan nikmatnya nikmatnya angsa panggang khas daerah Slovensky Grob – wilayah pedesaan berjarak sekitar 30 kilometer arah timur laut dari ibukota Slovakia Bratislava. Musim gugur atau autumn dikenal sebagai goose and duck feast season, saat paling tepat untuk menikmati menu bebek dan angsa.

Jam 11 pagi kami berangkat dari kota Vienna, Austria menuju Bratislava menggunakan mobil. Jarak antara dua ibukota negara ini sekitar 80 kilometer – kurang lebih sama dengan jarak Jakarta-Cikampek. Melewati jalan bebas hambatan, perjalanan Vienna-Bratislava kami tempuh sekitar satu jam. Artinya dalam waktu satu jam kami sudah berpindah negara, sementara di Jakarta dalam satu jam saya baru bisa berpindah dari Gambir ke Pancoran.🙂

Grob02
Angsa panggang khas Slovakia saat dihidangkan.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari Bratislava, kami tiba di restauran yang menjadi TKP. Separuh perjalan melalui jalan bebas hambatan, selebihnya kami melewati daerah pertanian. Sampai di restauran kami dipersilakan menuju ruangan di bawah tanah. Maklum, anggota rombongan ‘berburu angsa’ berjumlah 28 orang. Dan ternyata restauran tersebut memiliki ruangan di bawah tanah yang mampu menampung 30 orang.

Oh ya, kami telah melakukan pemesanan satu hari sebelum kunjungan lewat telepon. Tidak hanya untuk memastikan ketersediaan tempat, tetapi juga memberi waktu bagi restauran untuk menyiapkan hidangan. Proses memanggang angsa memakan waktu yang cukup lama. Nggak lucu jika pengunjung tiba-tiba datang dan harus terkantuk-kantuk menunggu proses pemanggangan.

Singkat kata, pramusaji menerangkan urutan hidangan yang akan disajikan. Pertama akan disajikan hati angsa bersama salad dan roti. Berikutnya menu utama angsa panggang. Terakhir hidangan penutup – jika masih ada kavling yang tersisa di perut.

Grob01
Hidangan pembuka: hati angsa, salad dan roti.

Tanpa harus menunggu lama, hati angsa dihidangkan. Tidak disajikan utuh tetapi diiris tipis-tipis. Teksturnya empuk dan lembut. Ibaratnya tidak perlu dikunyah sudah lumer dengan sendirinya di mulut. Salad yang disajikan adalah zucchini, irisan kol, irisan paprika dan cabai yang sudah diawetkan dalam larutan asam atau cuka (pickled). Sambil menikmati enaknya hati angsa, saya berkesimpulan salad disajikan sebagai pendamping untuk menetralisir rasa hati angsa.

Setelah urusan hati selesai tibalah saat menikmati menu utama. Website restauran menyebutkan satu ekor angsa panggang cukup untuk dinikmati oleh 4-5 orang. Berdasarkan informasi ini kami memutuskan memesan 5 ekor angsa. Melihat angsa panggang sudah terhidang, ingatan saya melayang ke masa kanak-kanak. Seperti anak-anak yang lain, saya jeri dengan angsa. Selain ukurannya yang besar, angsa juga termasuk unggas yang agresif. Mereka berani mengejar dan nyosor siapa pun yang dianggap mengganggu. Namun karena yang terhidang adalah daging angsa nan menggugah selera, rasa takut itu hilang sudah.

Grob03
Satu potong besar angsa panggang.

Setelah dipanggang kulit angsa menjadi renyah sementara dagingnya menjadi empuk. Rasa kulit angsa asin dan gurih, mirip kerupuk. Daging angsa terasa lembut dan tidak alot saat dipotong maupun dikunyah. Rasa daging angsa mirip dengan dading bebek yang banyak menjadi menu kuliner Indonesia. Namun jika di tanah air bebek umumnya digoreng atau dibakar lalu dihidangkan dengan nasi hangat kebul-kebul dan sambal, di sini angsa panggang kami santap dengan roti yang bentuknya mirip roti prata. Tidak ada sambal. Mungkin karena tambahan rasa yang terlalu pedas justru ‘merusak’ rasa asli daging angsa. Karena proses pemanggangan yang lama, bumbu – yang entah terdiri dari apa saja – juga meresap ke dalam daging.

Sambil makan saya lihat anggota rombongan mulai ‘bersusah-payah’ menghabiskan daging angsa di depan mereka. Bayangkan saja lima ekor angsa disajikan dalam potongan besar-besar. Mungkin setara dengan 10-12 ekor ayam. Alhasil, di akhir jamuan masih tersisa beberapa potong besar angsa yang kami bungkus dan bawa pulang.

Grob05
Suasana ‘berburu angsa’.

Menurut cerita, tradisi menikmati angsa panggang sudah berumur lebih dari seratus tahun. Tradisi ini bermula saat kondisi ekonomi memburuk. Para istri peternak unggas berusaha mencari penghasilan tambahan karena lesunya penjualan daging mentah. Mereka mulai memanggang angsa dan menjajakannya dari rumah ke rumah. Lama-kelamaan angsa panggang dari desa Slovensky Grob ini mulai dikenal luas di area Bratislava dan orang-orang mulai mendatangi desa tersebut. Awalnya angsa panggang tidak dijual di restauran, tetapi di rumah-rumah penduduk. Lambat laun restauran dibuka. Untuk mempertahankan tradisi, restauran umumnya dibangun dalam bentuk menyerupai rumah. Sekarang angsa panggang menjadi salah satu menu wajib wisata kuliner di Bratislava.

Grob06
Bratislava selepas senja.

Akhirnya enjelang sore kami mengakhiri acara ‘berburu angsa’ dengan perut kenyang dan rasa puas. Rasa penasaran akan angsa panggang Slovensky Grob terjawab sudah. Sebelum kembali ke Vienna, kami menghabiskan sisa sore itu di Bratislava.

Dalam perjalanan pulang ke Vienna sayup-sayup terdengar lagu ‘Potong Bebek Angsa’, theme song perjalanan wisata kuliner akhir pekan ini.🙂

Sejuta Warna Musim Gugur di Eropa

zellamsee05

Musim gugur, saat udara cerah, adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan alam di negara dengan empat musim. Di musim gugur atau autumn alam seperti bersolek, berubah menjadi penuh warna. Dedaunan berubah dari hijau menjadi kuning atau merah. Daun yang rontok membentuk hamparan seperti permadani. Perpaduan warna kuning keemasan dan merah yang merona.

Akhir pekan lalu saya dan beberapa rekan kerja plus keluarga berkonvoi menyusuri jalanan Austria untuk menikmati indahnya musim gugur. Perjalanan dimulai dari kota Vienna hari Sabtu pagi, berhenti untuk piknik makan siang di tepi Danau Hallstatt, lalu ke Zell am See – sebuah kota kecil di negara bagian Salzburg. Setelah menginap semalam di Salzburg, hari Minggu pagi rombongan terpecah menjadi dua. Kelompok pertama memilih untuk mendaki pegunungan Schmitten, kelompok kedua meneruskan perjalanan ke kota Hallein dan Salzburg. Perkiraan jarak tempuh perjalanan ini menurut Google Maps adalah 806 kilometer.

Rute perjalanan menikmati keindahan musim gugur.
Rute perjalanan menikmati keindahan musim gugur.

Mengendarai enam mobil, kami berangkat dari Vienna hari Sabtu jam 9 pagi. Destinasi pertama adalah rest area di tepi Danau Hallstat, sekitar 280 kilometer dari titik start. Sesuai kesepakatan, setiap keluarga membawa bekal makan siang untuk dinikmati bersama di tepi danau.

Pemandangan di tepi jalan antara Vienna dan Hallstat.
Pemandangan di tepi jalan antara Vienna dan Hallstat.

Keluar dari kota Vienna kami disambut dengan pemandangan warna-warni. Kuning dan merah dedaunan terselip di antara pohon-pohon cemara yang tetap setia dengan warna hijau. Indahnya pemandangan di kanan-kiri jalan serta kondisi jalanan yang mulus dan bebas macet membuat waktu tiga jam berkendara seperti tidak terasa. Sekitar jam 12 siang rombongan tiba di tepi Danau Hallstatt. Pemberhentian pertama adalah rest area yang dilengkapi taman serta bangku dan meja kayu. Tempat ideal untuk menikmati makan siang.

Pemandangan dari tepi Danau Hallstatt.
Pemandangan dari tepi Danau Hallstatt.

Turun dari mobil, anak-anak berhamburan menuju tepi danau. Ibu-ibu mulai menata bekal makan siang di atas meja kayu di tengah taman. Bapak-bapak – yang dalam perjalanan ini berperan sebagai sopir – duduk bergerombol, bertukar cerita tentang kondisi jalanan di etape pertama.

Setelah perbekalan semua digelar, acara makan siang pun dimulai. Karena yang ikut jalan-jalan adalah orang Indonesia, makanan yang tersaji juga mirip menu piknik di Ancol. Tersedia nasi, telor dan ayam balado, oseng ikan asin, pepes ikan, ayam goreng, asinan, sambal andaliman, dan masih banyak lagi. Rute boleh belantara Eropa tapi soal makanan kami tetap cinta Indonesia.🙂

zellamsee03
Jalan kampung ala Austria.

Selesai menikmati makan siang kami melanjutkan perjalanan etape kedua. Tentu saja bangku dan meja taman kami tinggalkan dalam keadaan rapi seperti semula. Setiap orang bertanggung jawab membuang sampah masing-masing. Tempat-tempat sampah disediakan di pinggir taman. Jadi tidak ada alasan untuk meninggalkan taman dalam keadaan kotor.

Di etape kedua ini kami menyusuri jalan kecil alias jalan kampung, menurun dan mendaki di sela perbukitan. Warna hijau hutan cemara mendominasi area perbukitan. Dedaunan tidak berubah warna dan juga tidak rontok pada musim dingin. Karenanya hutan di pegunungan sering disebut evergreen forest alias hutan yang selamanya hijau.

Setelah menempuh jarak sekitar 110 kilometer dalam waktu dua jam, kami tiba di penginapan di Zell am See. Di depan penginapan terhampar danau Zeller dan di seberang danau terlihat Pegunungan Schmitten yang sudah dibalut salju. Menyaksikan pemandangan yang indah, setelah check-in kami bergegas ke tepi danau. Setelah sibuk dengan foto bersama, selfie, unggah foto ke media sosial, kami berjalan menyusuri tepi danau sambil menunggu mentari tenggelam. Suasana lengang di tepi danau yang cantik dan bersih membuat kami betah berlama-lama meski hawa dingin mulai terasa menusuk tulang.

Danau Zell am See.
Danau Zell am See.

Hari mulai gelap saat kami berjalan kaki kembali ke penginapan. Acara selanjutnya adalah makan malam bersama dengan menu spesial: ikan forelle panggang. Menurut pengelola penginapan, ikan-ikan yang dihidangkan malam ini dipancing dari danau siang tadi. Jadi dijamin sangat segar dan seratus persen bermuatan lokal. Jika makan siang tadi bertema selera Nusantara, makan malam kali ini bernuansa Eropa. Meski begitu tetap saja ada yang mengeluarkan botol saus sambal. Kurang mantap kalau cuma pedas merica, katanya. No sambal no fun!

Salah satu sudut kota Hallein.
Salah satu sudut kota Hallein.

Di hari kedua, rombongan terpisah menjadi dua. Setelah check out saya dan tiga keluarga lain melanjutkan perjalan ke kota tua Hallein – sekitar satu jam perjalanan dari penginapan. Hallein adalah kota tua dan pada masa lalu dikenal sangat makmur gemah ripah loh jinawi. Zaman dulu Hallein adalah penghasil garam dan zaman itu garam adalah komoditi yang mahal harganya. Tidak heran jika timbul peperangan yang dipicu oleh perebutan wilayah yang menghasilkan garam. Uang hasil perdagangan garam digunakan penduduk Hallein untuk membangun kota mereka. Alhasil, Hallein menjadi salah satu kota paling maju di zamannya.

Jika boleh jujur, tidak ada yang terlalu istimewa di kota Hallein – selain riwayat masa lalu yang gilang-gemilang. Namun karena promosi yang ditata dengan baik di dunia maya membuat banyak orang tertarik untuk mendatangi kota ini. Termasuk kami, tentu saja. Pelajaran yang dapat dipetik hari ini: jangan kepalang tanggung dalam mempromosikan wisata. Tapi tentu saja promosi yang bertanggung jawab. Promosi juga diikuti dengan penyediaan fasilitas untuk pengunjung serta kebersihan yang terjaga.

Perjalanan dari Hallein ke Salzburg.
Perjalanan dari Hallein ke Salzburg.

Dari Hallein kami bergerak menuju Salzburg, sekitar 20 kilometer ke arah utara. Salzburg merupakan salah satu destinasi wisata utama Austria. Selain dikenal sebagai kota kelahiran komponis Mozart, Salzburg juga indentik dengan film The Sound of Music.

Hari Minggu itu kota tua terlihat ramai dan dipenuhi pelancong. Setelah memarkir mobil, kami berjalan menyusuri kota tua – melewai depan rumah tempat Mozart dilahirkan sampai ke katedral.

Deretan bendi di kota tua Salzburg.
Deretan bendi di kota tua Salzburg.

Meski banyak pelancong berkunjung, toko-toko tetap tutup di hari Minggu. Yang diperbolehkan buka hanya toko souvenir, restauran, warung makan, dan cafe. Sering saya tidak habis pikir. Bagi orang Austria uang mungkin bukan segalanya. Jika buka di hari Minggu pasti para pelancong yang jumlahnya ribuan itu akan berbelanja. Namun orang Austria memilih mempertahankan nilai yang selama ini mereka anut. Minggu adalah hari untuk keluarga.

Kuningisasi.
Kuningisasi.

Setelah puas menikmati suasana menjelang sore di Salzburg, kami melanjutkan perjalanan ke Vienna. Jarak Salzburg-Vienna sekitar 300 kilometer. Artinya kami perlu waktu sekurang-kurangnya tiga jam untuk sampai ke Vienna – plus waktu untuk makan malam dan rehat di perjalanan.

Demikian cerita perjalanan menikmati warna-warni musim gugur di Austria akhir pekan lalu. Menyenangkan dan menjadi pengalaman baru. Terima kasih sudah mampir dan selamat menikmati rakhir pekan.

zellamsee04
Danau Zeller di saat musim gugur.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑