State of Denial

by LareSabin

State of Denial. Demikian Bob Woodward, editor koran terkemuka Washington Post, memberi judul buku tersebut. Dikemas dalam bentuk narasi, buku ini mengulas bagaimana keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Irak dibuat. Beberapa hal yang diungkap merupakan temuan baru, selebihnya adalah fakta yang sudah lama diketahui publik. State of Denial merupakan buku ketiga Woodward yang menyoroti kebijakan AS di Afghanistan dan Irak, setelah Bush at War (2002) dan Plan of Attack (2004).

Pro dan kontra segera muncul menyikapi hasil investigasi Woodward. Pihak yang mendukung kebijakan AS di Iraq berkomentar bahwa apa yang tertuang dalam buku tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagian lainnya menganggap peluncuran buku tersebut, yang dilakukan menjelang pemilu sela awal November mendatang, dirancang untuk menghentikan dominasi Partai Republik yang saat ini berkuasa.

Pihak yang menentang kebijakan AS di Irak – dan tentu saja kalangan oposisi – menjadikan buku ini sebagai tambahan amunisi. Apa yang selama ini mereka kampanyekan telah tersusun sistematis dalam buku Woodward.

Terlepas dari pro dan kontra di atas terkait dengan paparan Woodward yang cenderung memojokkan pemerintah yang saat ini berkuasa, beberapa kesimpulan dapat ditarik setealh membaca buku tersebut. Pertama adalah besarnya pengaruh dan kekuatan AS dalam menentukan peta politik dunia. PBB dan semangat multilateral terlihat tidak berdaya dalam kasus Irak.

Kesimpulan kedua adalah kenyataan bahwa dalam sistem pemerintahan secanggih AS masih terdapat pengambilan keputusan – untuk perkara yang demikian penting – yang dilakukan secara terburu-buru dan tidak dipersiapkan dengan matang. Tentu saja dengan asumsi bahwa apa yang diungkap Woodward benar adanya.

Pada skala yang lebih luas, apa yang terjadi di Irak saat ini akhirnya tidak hanya menjadi pekerjaan rumah AS tetapi juga masyarakat internasional secara keseluruhan. Meminjam judul film komedi Indonesia yang populer akhir abad lalu, posisi AS di Irak saat ini dapat dikatakan maju kena mundur kena. Lebih rumit lagi formula dangdut klasik – dan sederhana – kau yang mulai kau yang mengakhiri tidak dapat diterapkan disini. Ibarat salah memberi obat, pernyakit yang seharusnya hanya memerlukan rawat jalan harus disembuhkan dengan operasi.

Akhirul kalam, agaknya baik yang pro maupun kontra terhadap kebijakan AS dapat bersepakat bahwa permasalahan di Irak terlihat semakin rumit dan tidak mudah dipecahkan. Jika tetap demikian adanya, yang akan semakin menderita adalah rakyat Irak.

Advertisements