Nuklir Korea Utara

by LareSabin

Akhirnya Korea Utara (Korut) melakukan percobaan senjata nuklir. Nyaris tak terdengar, hampir tanpa aba-aba sebelumnya. Bukan Iran, yang selama ini dianggap nakal karena mencoba-coba mengembangkan teknologi persenjataan maut tersebut. Bukan juga Irak, yang sudah terlanjur luluh lantak menjadi korban perang karena dicurigai menyimpan sejumlah senjata rahasia.

Apa yang dilakukan Korut mengejutkan banyak pihak. Pertama, percobaan nuklir dilakukan hampir bersamaan dengan terpilihnya Ban Ki-Moon, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, sebagai Sekjen PBB. Artinya pekerjaan rumah Sekjen PBB yang baru bertambah satu, bahkan sebelum resmi dilantik. Selain mewujudkan reunifikasi dua Korea, Ban Ki-Moon juga memiliki tugas dalam konteks yang lebih luas: menghindarkan dunia dari ancaman nuklir Korut.

Kedua, percobaan nuklir Korut dilakukan di tengah polemik seputar program nuklir Iran, khususnya di Amerika Serikat. Beberapa waktu lalu media AS, misalnya, menganalisis sejumlah skenario operasi militer di Iran. Asumsinya negara tersebut akan diserang juga seperti Irak. Percobaan nulkir Korut juga dilakukan di tengah semakin tidak jelasnya persoalan di Irak, senjata pemusnah massal tak kunjung ditemukan dan kondisi negeri tersebut kian memburuk dengan ancaman perang sipil.

Ketiga, situasi internal Korut juga diperkirakan semakin memburuk. Menjalankan politik isolasi, perekonomian Korut dapat dikatakan tidak berfungsi. Hal tersebut diperburuk dengan meluasnya bencana kelaparan akibat bencana alam. Saat ini Korut juga menjadi salah satu dari sedikit negara yang mempertahankan sistem komunis. China yang selama ini menjadi sekutu dekat, meski tidak secara terbuka menyatakan meninggalkan paham tersebut, secara de facto telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam sistem ekonomi kapitalis.

Kondisi pada butir tiga di atas mungkin menjadi alasan utama Kim Jong-Il melakukan percobaan nuklir. Pada saat negerinya dianggap sebagai pariah dan terbukanya kemungkinan untuk dijadikan sasaran operasi militer (multilateral maupun unilateral), Kim membutuhkan ‘sesuatu’ untuk menaikkan posisi tawar-menawarnya.

Masalah menjadi semakin kompleks karena pribadi Kim yang sering digambarkan eksentrik. Sangat wajar apabila komunitas internasional mengkhawatirkan ancaman nuklir Korut terhadap perdamaian dunia.

Percobaan nuklir yang dilakukan Korut sekali lagi menguatkan argumen bahwa mewujudkan dunia yang aman dan damai bukan pekerjaan mudah. Namun, lebih penting dari itu, monopoli penafsiran tentang konsep perdamaian dunia juga harus dihindarkan. Dengan demikian penyelesaian masalah nuklir Korut ini seyogyanya dilakukan secara multilateral, dengan menaati kaidah-kaidah hubungan antar-negara yang telah disepakati bersama. Cara-cara unilateral harus dihindari. Jika tidak, kesalahan akan kembali terulang dan kali ini taruhannya jauh lebih besar. Tidak hanya kepentingan sekelompok kecil negara, tetapi masyarakat internasional secara umum.

 

 

Advertisements