Kunjungan Bush dan Upaya Pemulihan Citra

by LareSabin

Kunjungan singkat Presiden AS George W. Bush ke Indonesia dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang pemikiran. Satu yang belum diangkat adalah melihat kunjungan tersebut dalam konteks diplomasi publik, khususnya sebagai upaya pemulihan citra, baik bagi Indonesia maupun AS.

Persoalan citra

Pada konteks yang berbeda, baik Indonesia maupun AS saat ini sedang menghadapi persoalan seputar citra (image). Belum pulih akibat hantaman krisis ekonomi tahun 1997, Indonesia kemudian dihadapkan pada sejumlah persoalan terkait dengan aktivitas jaringan teroris internasional. Puncaknya adalah peristiwa Bom Bali Oktober 2002, yang dapat dikatakan merupakan titik nadir merosotnya citra Indonesia di mata internasional. Citra tentang masyarakat yang toleran dan terbuka seperti menguap begitu saja. Indonesia saat ini kerap disamakan dengan teroris dan tindak kekerasan.

Keberhasilan membangun pranata politik yang lebih demokratis juga belum banyak membantu. Meski pemilu terakhir dan dua putaran pemilihan presiden mendapatkan pujian banyak pihak, sejumlah persoalan lain masih menjadi ganjalan. Menilai keberhasilan di bidang demokrasi, publik akan segera mengingat Indonesia sebagai negara demokratis terbesar ketiga di dunia. Namun ketika topik pembicaraan dialihkan ke isu terorisme, publik melihat Indonesia sebagai ancaman.

Dalam konteks berbeda, AS juga menghadapi masalah seputar citra. Citra AS sebagai penganjur demokrasi dan pengusung kebebasan juga sedang berada pada titik nadir. Menyusul serangan teroris 11 September 2001, AS di bawah kepemimpinan Presiden Bush memilih mengedepankan pendekatan partisan dalam penyelesaian masalah. Salah satu yang paling disorot adalah kebijakan menyerang Irak dengan dalih bahwa negara tersebut menyimpan senjata pemusnah massal dan memiliki kaitan dengan jaringan teroris internasional. Atas dasar tersebut AS memilih kebijakan pre-emptive atau ‘terlebih dahulu menyerang sebelum diserang musuh.’

Serangan ke Irak selain tidak didukung oleh masyarakat internasional juga tidak didasarkan pada data intelijen yang akurat. Dua hal yang menjadi alasan Bush menyerang Irak tidak pernah terbukti. Situasi keamanan Irak juga tidak kunjung membaik. Sampai hari ini AS telah kehilangan lebih dari 3000 prajuritnya.

Konsekuensi

Merosotnya citra mendatangkan persoalan serius bagi kedua pihak. Dipersepsikan sebagai ‘sarang teroris,’ Indonesia menemui kesulitan meyakinkan masyarakat internasional bahwa kondisi domestiknya sudah aman. Akibatnya pelaku bisnis masih enggan menanamkan modal di Indonesia. Meski pemerintah menciptakan banyak program untuk menarik investor asing, sebagian besar masih menunggu situasi membaik. Sebagian lainnya memilih berbisnis di negara lain di kawasan, seperti Vietnam, Malaysia, atau China. Jaminan keamanan di ketiga negara tersebut dianggap lebih menjanjikan.

Sektor lain juga mengalami persoalan serupa. Pada sektor wisata, misalnya, Indonesia tidak lagi menjadi pilihan utama wisatawan asing. Kondisi diperburuk dengan terjadinya bencana alam tsunami dan gempa bumi. Demikian besarnya dampak penurunan citra membuat Indonesia merasa perlu menetapkan agenda pemulihan citra sebagai prioritas diplomasi.

Konsekuensi akibat merosotnya citra bagi AS memiliki dimensi yang berbeda. Pada tingkat internasional, AS – khususnya Presiden Bush – mendapatkan kecaman dari berbagai pihak: media, akademisi, bahkan pemimpin politik negara lain. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Presiden Venezuela Hugo Chavez mengatai Bush dengan sebutan yang tidak pantas. Uniknya, serangan terhadap Bush dilontarkan di forum Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian peserta menyambutnya dengan tepukan tangan.

Pada tingkat domestik, kepercayaan rakyat AS terhadap kepemimpinan Bush merosot tajam. Meski kinerja di bidang ekonomi dianggap memuaskan, kebijakan Bush di Irak membuat sebagian besar rakyat AS kehilangan kesabaran. Pada pemilu sela awal November lalu, sebagian pemilih mengalihkan suaranya ke kelompok oposisi, Partai Demokrat. Akibatnya kubu Republikan kehilangan sejumlah kursi dan Partai Demokrat beralih menjadi mayoritas di dua badan legislatif, Senat dan DPR. Dengan kondisi demikian, Bush diperkirakan akan menghadapi masa sulit dalam dua tahun terakhir masa pemerintahannya.

Pemulihan citra

Kunjungan Bush ke Indonesia dapat dilihat sebagai upaya pemulihan citra dari kedua pihak; Indonesia sebagai pihak yang mengundang dan AS sebagai tamu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin menunjukkan kepada Bush – dan juga masyarakat internasional – bahwa kondisi keamanan Indonesia sudah kondusif. Harapannya kunjungan Bush dapat menaikkan ‘skor kemananan’ Indonesia dan membawa dampak positif bagi perekonomian.

Saran SBY tentang solusi alternatif penyelesaian masalah Irak juga dapat dilihat bagian dari pemulihan citra. Pesan yang disampaikan jelas, yaitu menegaskan status Indonesia sebagai kekuatan yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah-masalah internasional. Terlebih setelah terpilihnya Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Bagi Bush, kunjungan ke Indonesia – negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar – dimaksudkan sebagai upaya memerbaiki citra di kalangan umat Islam. Bersama upaya diplomasi publik AS lainnya, kunjungan Bush bertujuan untuk mengembalikan citra sebagai negara penganjur demokrasi dan kebebasan.

Sayang sekali makna kunjungan Bush dan pertemuannya dengan SBY dan sejumlah warga masyarakat tertutup oleh maraknya penolakan atas kehadiran orang nomor satu AS tersebut. Hal ini semakin menegaskan apa yang diungkap Barston (2006) bahwa publik sering kali memberikan persepsi dan interpretasi yang keliru mengenai makna kunjungan pemimpin pemerintahan dalam konteks diplomasi. Publik sering terjebak pada pemikiran bahwa kunjungan dan pertemuan pemimpin politik akan menghasilkan keluaran yang sifatnya riil.

Persepsi dan interpretasi yang keliru tersebut membuat publik tidak melihat agenda pemulihan citra sebagai isu utama. Justru yang mengemuka adalah penolakan atas kunjungan Bush atau kritik seputar hal-hal yang sifatnya

teknis. Oleh karenanya tidak berlebihan jika media AS lebih banyak menampilkan riuh-rendahnya demonstrasi menolak kedatangan Bush dibandingkan mengulas makna kunjungan tersebut.

Demonstrasi merupakan hal yang lumrah dalam demokrasi. Namun dalam konteks kunjungan Bush ke Indonesia, satu hal perlu mendapat perhatian. Publik AS tidak hanya melihatnya perwujudan kebebasan berpendapat, tetapi juga salah satu tolok ukur untuk menilai kemoderatan kita.

Catatan: Artikel ini belum pernah dipublikasikan

 

 

Advertisements