Argentina! Argentina!

by LareSabin

Kesempatan mengunjungi Argentina seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Mengapa? Karena Argentina adalah negara yang selalu saya dukung dalam setiap perhelatan Piala Dunia (sepakbola!), sejak tahun 1986. Sebelum berangkat ke negeri Tango yang terbayang adalah sebuah perjalanan yang mengasyikkan.

Menginjakkan kaki di Buenos Aires (BA) pada hari Minggu pagi, suasana terasa begitu sepi. Terlebih saat melewati jalan protokol yang demikian lapang. Pertanyaan yang muncul di benak adalah: Kemana orang-orang pergi? Bukankah 38% penduduk Argentina hidup di kota ini?

Rasa sepi semakin kentara saat tiba di hotel tempat menginap. Melihat lokasinya yang berada di jalanan sempit satu arah, suasana di sekitar hotel mirip dengan Jakarta.


Untungnya acara pertama di hari Minggu sore adalah tour keliling kota. Tepatnya bukan keliling. Mengingat area kota yang begitu luas, lebih bagus dikatakan sebagai mengunjungi beberapa tempat.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Plaza de Mayo yang berada di depan Pink House alias gedung pusat pemerintahan Argentina.

Plaza de Mayo sudah tersohor, tidak hanya karena merupakan plaza tertua di BA tetapi juga merupakan ajang hampir setiap demonstrasi. Yang paling terkenal adalah demonstrasi ibu-ibu yang anaknya hilang selama junta militer berkuasa yang digelar tiap hari Kamis.

(Karena penasaran, pada hari Kamis saya sempatkan melihat demonstrasi ibu-ibu tersebut. Suasananya mengharukan. Di tengah teriknya matahari musim panas, ibu-ibu yang renta berjalan mengitari plaza. Beberapa tampak begitu letih, sehingga harus dipapah oleh yang lebih muda. Foto anak mereka yang hilang didekap di dada. Sementara lagu-lagu dengan irama duka terdengar di pengeras suara, diiringi senandung syahdu para ibu. Amazing.)

Meski tahu bahwa apa yang mereka lakukan tidak akan mengembalikan anak mereka yang hilang, pelajaran yang ingin diberikan sangatlah mulia. Yaitu pesan agar generasi berikutnya tidak mengulangi kesalahan pendahulu mereka.

Sambil melihat ritual tersebut, saya sempatkan melihat guntingan koran tahun 70-an yang dipajang di pinggiran plaza. Sebagian besar berisi berita tentang penghilangan paksa para demonstran di era junta militer.

Kembali ke Pink House, warna gedung ini terasa janggal. Sebuah gedung dengan arsitektur gaya Eropa kuno diberi warna pink. Kenapa bukan putih atau gading biar terlihat anggun?

Pertanyaan ini tidak sempat saya utarakan ke pemandu wisata yang terlihat asyik menjelaskan bagaimana BA dibangun oleh pendatang dari Eropa.

Yang justru ingin saya tanyakan adalah: Apakah ada rencana untuk memberi nama jalan atau gedung tertentu dengan nama Maradona? Ups, ternyata saya bertanya pada orang salah. Bukan marah. Tetapi sang pemandu wisata ternyata bukan fans berat Maradona. Dengan tegas dia mengakui Maradona hebat sebagai pesepakbola, tapi namanya tidak akan pernah diabadikan untuk tempat-tempat publik. Buset.

Oke, deh. Kalau begitu, apakah kita juga akan melewati La Bombonera? Yang ini adalah nama lain stadion milik klub Boca Juniors yang pernah dibela Maradona. Terkesan dengan pengetahuan saya tentang sepakbola Argentina (terima kasih Tabloid BOLA!), pemandu wisata mengabulkan permintaan tersebut.

Ternyata bus harus melewati jalanan sempit dan perkampungan padat untuk bisa menuju stadion tersebut. Melihat lokasi stadion, masuk akal jika Boca Juniors merupakan klub yang mewakili kalangan bawah.

Tersendatnya laju bus di jalanan nan sempit membuat saya merasa bersalah. Jangan-jangan hanya kerena ingin mengabulkan permintaan saya melihat La Bombonera, anggota rombongan yang lain harus merasakan tidak enaknya melewati rute sempit ini.

Belum sempat memikirkan lebih jauh, sang pemandu wisata sudah minta maaf untuk urusan jalan nan sempit tadi. Ternyata rute ini memang harus dilewati untuk menuju La Boca, sebuah daerah wisata yang disebut-sebut sebagai tempat lahirnya tarian tango. Syukurlah kalau begitu.

La Boca tidak begitu besar. Yang menonjol adalah bangunan flat dan apartemen lama yang dicat dengan warna menyala. Juga toko-toko yang menjual souvenir khas Argentina.

Satu yang menarik perhatian adalah bagaimana orang-orang tetap menghargai seni. Terlihat tiga orang separuh baya berjalan beriringan. Satu memainkan biola, dua lainnya memainkan drum dan harmonika.

Sambil berjalan mereka memainkan musik sambil memberi salam kepada orang-orang yang menonton di pinggir jalan. Tidak seperti lazimnya pengamen, mereka sama sekali tidak tidak terlihat mengharapkan upah. Just for fun. Laksana karnaval kecil-kecilan. Cukup aneh. Kata teman saya, biar hidup susah seni jalan terus. Bisa jadi.

Dari La Boca rombongan kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan pemandu wisata menjelaskan gedung dan bangunan bersejarah yang dilewati.

Rata-rata bergaya Eropa. Dan konon bahan-bahan bangunannya didatangkan langsung dari benua biru tersebut. Meski sekarang terlihat sedikit kumuh, Argentina pernah jaya di masa lalu, kata pemandu wisata. Sangat masuk akal. Tahun 30-an mereka telah membangun jaringan kereta bawah tanah. Pertama di Amerika Latin.

Begitulah. Roda berputar. Cerita tentang ‘pernah berjaya’ bagi penikmat sepakbola seperti saya juga punya makna lain. Argentina pernah berjaya pada Piala Dunia 1978 dan 1986. Dua puluh tahun berlalu dan kejayaan tersebut belum juga kembali. Mirip, kan?

Advertisements