Outsourcing dan Imigran Gelap

Outsourcing dan imigran gelap. Meski tidak memiliki hubungan saudara, keduanya memiliki kesamaan: perannya begitu penting bagi ekonomi California.

California merupakan negara bagian dengan kekuatan ekonomi terbesar di Amerika Serikat (AS). Nilai pendapatan domestik bruto (PDB) negara bagian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan negara bagian-negara bagian lainnya, bahkan lebih dari hampir 95% negara-negara di dunia. Apabila dianggap sebagai entitas tersendiri (sederhananya, dianggap sebagai sebuah negara), California akan berada di peringkat ke-8. Negara berdaulat di dunia saat ini berjumlah 193. Artinya, nilai PDB California lebih tinggi dibandingkan 185 negara lain di muka bumi.

Lalu, apa kaitannya dengan dua hal yang disebut dalam judul di atas?


Teknologi informasi (IT) dan pertanian merupakan dua sektor industri utama California. Silicon Valley – pusat IT dunia – berada di sini. Setelah sebelumnya melambung pada akhir 1990-an dan kemudian terjerembab pada tahun 2001, sektor IT terlihat mulai bangkit kembali. Bedanya, penanam modal tidak lagi terlihat jor-joran mengucurkan dana. Mereka lebih selektif dalam berinvestasi.

Dari sektor IT ini outsourcing bermula. Dengan kecanggihan teknologi, pekerjaan dapat dilakukan di belahan bumi lain. Setelah selesai baru dikirimkan kembali ke majikan yang berada di AS. Ada dua alasan mengapa metode ini dipilih. Alasan pertama adalah efisiensi biaya. Menggaji insinyur di India untuk melakukan pekerjaan data-entry, misalnya, jauh lebih murah dibandingkan dengan menggaji karyawan untuk jenis pekerjaan serupa di AS.

Alasan kedua adalah perbedaan waktu. Ketika rancangan pekerjaan selesai sore hari waktu AS, di India baru beranjak pagi. Pekerjaan tersebut kemudian diteruskan di India, sementara sang majikan tidur di AS. Ketika bangun pagi harinya, pekerjaan telah dilengkapi oleh pekerja yang berada di India. Sambil berdiang, nasi masak. Ditinggal tidur, pekerjaan terselesaikan.

Dari IT, outsourcing merambah ke sektor lain. Satu contoh yang paling menonjol adalah call center. Banyak perusahaan AS menyediakan layanan pelanggan 24 jam. Kapan pun pelanggan menelepon, akan dilayani. Layanan 24 jam tidak berarti jam lembur bagi karyawan di AS. Banyak perusahaan di India yang menyediakan jasa layanan call center.

Efektif tetapi juga agak ironis. Pernah pada suatu tengah malam saya harus menunda penerbangan yang sedianya akan akan dilakukan pada pagi hari berikutnya. Saya telepon ke nomor layanan pelanggan, yang menjawab adalah nona (atau nyonya, saya tidak tahu) dengan logat India. Setelah urusan beres, saya tanyakan dimana posisi nona (atau nyonya) tersebut. Ternyata di Mumbai. Efisien, karena saya segera mendapatkan kepastian mengenai perubahan jadwal penerbangan. Ironis, karena karena kantor perwakilan masakapai penerbangan yang akan saya gunakan hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari tempat saya menelepon, sementara Mumbai terpisah oleh gunung dan samudera.

Bagaimana dengan imigran gelap? Pokok masalahnya hampir sama dengan outsourcing. Pada sektor pertanian, gaji pekerja asing lebih murah dibandingkan gaji pekerja lokal. Terlebih mayoritas warga AS tidak mau lagi melakukan ‘pekerjaan kasar’, semisal memetik buah pada saat panen. Alternatifnya adalah pekerja asing, termasuk imigran gelap, yang umumnya berasal dari Meksiko. Selain murah, mereka juga butuh penghidupan. Klop.

Ketika warga AS mulai tidak mau menjadi pekerja kasar di sektor konstruksi, posisi kemudian diisi oleh imigran dari Meksiko. Begitu pula pada beberapa sektor lain. Menyusul peristiwa 9/11, pintu masuk ke AS diperketat. Pendatang haram dipulangkan. Masalah kemudian timbul. Siapa yang akan memetik jeruk pada saat panen? Siapa yang mau menjadi tenaga bongkar muat di pelabuhan Oakland?

Outsourcing dan keberadaan imigran gelap menggambarkan sisi lain kemajuan ekonomi AS. Bagi sebagian kalangan, kenyataan ini dianggap tidak fair karena merugikan angkatan kerja lokal. Namun kenyataannya, warga AS memang tidak mau (dan juga tidak mampu) melakukan pekerjaan tersebut.

Menyusul rencana razia besar-besaran terhadap imigran gelap, komunitas Meksiko melakukan di demonstrasi di berbagai kota. Muncul lelucon bahwa orang AS juga juga ‘sudah tidak mau melakukan demonstrasi’. Orang Meksiko yang kini menggantikannya.

Akhirnya, perubahan selalu disertai dua dampak: positif dan negatif. Khalayak ramai di AS merasakan dua hal yang menjadi pokok bahasan tulisan ini merupakan dampak negatif. Sebaliknya pemilik modal yang mendapat keuntungan besar akan berkata sebaliknya. Dan kita (Indonesia, maksudnya) masih harus puas hanya sebagai penonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s