Martin Luther King Jr. Day alias Libur Lagi …

by LareSabin

Long weekend di Amerika. Senin ini kantor tutup untuk memeringati Hari Martin Luther King Jr., pejuang hak-hak warga kulit hitam AS yang tewas terbunuh pada 4 April 1968. Salah satu pidato King yang paling monumental, I Have A Dream, menjadi inspirasi bagi kaum minoritas untuk memerjuangkan hak-haknya. Tidak hanya warga kulit hitam di AS, tetapi juga menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Mengenang King, ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Satu di antaranya adalah perlu waktu untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia (HAM). Bahkan di negara yang sudah maju dan mapan seperti AS sekalipun.

Sebagai sebuah negara, AS terbentuk pada tahun 1776. Pada tahun 1861-1865 negeri ini mengalami perang saudara. Pokok persoalannya adalah perbedaan pendapat seputar penghapusan perbudakan. Alasannya jelas, perbudakan melanggar HAM.

Perang saudara selesai dan perbudakan resmi dihapus. Meski demikian bukan berarti selesai semua masalah yang terkait dengan ketidakadilan, khususnya bagi warga kulit hitam. Oleh karena itulah King gencar melakukan kampanye. Mewujudkan sistem masyarakat yang lebih adil. Perlu digarisbawahi, era King adalah sekitar 180 tahun setelah AS terbentuk. Betul, dua abad kurang sedikit.

Menyebut 180 tahun bukan berarti berpendapat bahwa selama itu juga keadilan baru bisa diwujudkan, misalnya di Indonesia. Sama sekali tidak. Lebih cepat, lebih bagus. Namun sebagai sebuah proses, perubahan ke arah itu harus dilakukan secara bertahap. Keadilan dan penghormatan terhadap HAM akan lebih mudah diwujudkan pada masyarakat yang sejahtera. Singkatnya begitu. Dengan demikian, upaya mewujudkian keadilan harus dilakukan simultan dengan upaya mencapai kemakmuran.

Menjadikan AS sebagai contoh juga dimaksudkan agar kita tidak perlu minder dan berkecil hati. Negara maju pun perlu waktu. Selain itu, apa yang dialami King juga merupakan contoh bagi kita agar tidak mengulang kesalahan serupa. Jadi target waktu untuk mewujudkan keadilan dapat dipangkas.

Sebagian perjuangan King sudah terwujud saat ini. Golongan minoritas memiliki hak yang sama untuk duduk, misalnya, di pemerintahan. Saat ini sudah ada menteri, gubernur, senator, anggota DPR, dan pejabat-pejabat pemerintah pada level lebih rendah dari golongan kulit hitam. Hal ini patut diacungi jempol.

Tentu saja masih ada impian King yang belum terwujud. Pada beberapa kasus, tindakan rasialis masih terjadi. Menyusul peristiwa 9/11, kecurigaan terhadap penganut kepercayaan tertentu (baca: Islam) meningkat di sebagian kalangan. Kebijakan pemerintahan Bush melakukan perang global terhadap terorisme secara sepihak sedikit banyak memengaruhi peningkatan kecurigaan tersebut.

Saat ini kecurigaan tersebut mulai memudar. Terpilihnya Keith Ellison sebagai anggota DPR mewakili negara bagian Minnesota menunjukkan hal ini. Ellison adalah seorang muslim dan dia menjadi muslim pertama yang terpilih sebagai anggota DPR. Artinya, publik AS mulai bersikap objektif.

Semoga perjuangan Martin Luther King Jr. menjadi inspirasi untuk mewujudkan keadilan, di mana saja.

Advertisements