Mendirikan Partai Baru

by LareSabin

Satu jurus yang kerap diperagakan oleh politisi kita ketika mengalami masalah dengan partai induknya adalah mendirikan partai baru. Alasannya mudah ditebak, keyakinan masih memiliki banyak pendukung. Juga karena adanya ‘kesadaran berpolitik’ bahwa untuk tetap eksis di lingkar kekuasaan diperlukan kendaraan.

Terdepak dari partai, apapun alasannya, merupakan sebuah resiko dalam berpolitik. Seperti juga dialami oleh Joe Lieberman, Senator dari Partai Demokrat yang mewakili negara bagian Connecticut.

Di lingkaran Partai Demokrat, Lieberman yang menjadi Senator sejak tahun 1989 termasuk orang penting. Buktinya dia dijadikan calon wakil presiden oleh partainya pada pemilu tahun 2000 mendampingi calon presiden Al Gore.

Posisi sebagai orang penting tidak membuat Lieberman menjadi ‘tidak tersentuh’. Menjelang pemilu bulan November 2006 lalu, anggota Partai Demokrat negara bagian Connecticut membuat semacam mosi tidak percaya terhadap Lieberman. Salah satu alasannya adalah dukungan Lieberman terhadap kebijakan Presiden Bush di Irak yang dianggap melenceng terlalu jauh dari kebijakan Partai Demokrat.

Solusinya adalah pelaksanaan pemilihan pendahuluan internal partai. Pemilihan pendahuluan lazimnya dilakukan oleh partai yang sedang tidak menduduki kursi, atau ketika tidak ada calon incumbent yang bertarung. Oleh karena itu apa yang dialami Lieberman termasuk jarang terjadi. Jika Lieberman mutung alias ngambek dapat dimengerti. Sebagai politisi senior, kurang apa lagi dedikasinya buat partai. Masa mau nyalon lagi harus melalu babak eliminasi.

Lieberman ternyata kalah di pemilihan tingkat partai. Artinya dia tidak mendapatkan mandat untuk memertahankan kursinya mewakili Partai Demokrat. Media massa menganggap kekalahan ini sebagai ‘kiamat politik’ Lieberman. Oleh partainya sendiri saja sudah nggak dipercaya, apa yang mau diharapkan dalam pemilu nanti.

Namanya juga politisi ulung, Lieberman tidak kehilangan akal. Dia memilih maju ke pemilu sebagai calon independen. Untuk itu partai Connecticut for Lieberman didirikan. Meski demikian partai ini dibentuk hanya untuk tujuan ‘sesaat’, yaitu mendapatkan tiket ‘calon independen’ untuk Lieberman. Sebagaimana diketahui, politik Amerika Serikat menggunakan sistem dua partai dan identik dengan Partai Demokrat dan Partai Republik.

Lieberman yang maju sebagai calon independen memenangi pemilu, mengalahkan calon-calon lain termasuk calon Partai Demokrat yang mengunggulinya di pemilihan tingkat partai. Tema yang diangkat oleh Lieberman menjelang pemilu adalah pengalaman, dan hal tersebut dijadikan alasan oleh publik untuk memilihnya kembali.

Ketika ditanya akan bergabung ke fraksi apa di Senat, Lieberman menyatakan bahwa dirinya tetaplah seorang Demokrat. Dia secara tegas menyatakan akan bergabung dalam kaukus Demokrat.

Keputusan ini sangat penting artinya bagi kubu Partai Demokrat. Saat ini Demokrat menguasai 49 kursi dan Republik 49 kursi. Dua senator independen (Lieberman dan Bernie Sanders) menyatakan bergabung dengan kaukus Demokrat. Dengan demikian Demokrat menjadi mayoritas dengan perimbangan 51-49.

Coba kalau Leiberman ngambek dan bergabung dengan kaukus Republik. Perimbangan kursi menjadi 50-50. Jika skor imbang, Republik yang menjadi mayoritas karena mereka memiliki suara tambahan dari Wakil Presiden Dick Cheney. Sesuai konstitusi, Wapres AS secara otomatis juga merupakan Presiden Senat. Meski diganjal oleh anggota partainya sendiri, Lieberman tetap berpikir jernih. Dan dia mampu mebuktikan dirinya masih dipercaya pemilih.

 

Advertisements