Menjual Indonesia

by LareSabin

Menyimak taklimat pengamat ekonomi Dr. Sjahrir kemarin siang, optimisme untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi mengemuka. Sjahrir saat ini sedang berada di Amerika Serikat untuk memberikan ceramah seputar perkembangan ekonomi Indonesia di berbagai forum, seperti Indonesian Caucus di Kongres AS, US-Indonesia Society, dan US-ASEAN Business Council. Selain itu Sjahrir juga mengadakan pertemuan dengan beberapa pejabat pemerintah AS.

Sebelum berbicara mengenai perkembangan ekonomi, menurut Sjahrir, umumnya pihak-pihak yang ditemui menyatakan keprihatinan atas musibah banjir yang melanda Jakarta. Selain Indonesia, sepertinya tidak ada negara yang mendapatkan musibah secara beruntun. Mulai dari tsunami, gempa bumi, dan sekarang banjir. Oleh karenanya prestasi pemerintah, termasuk di bidang ekonomi, menjadi tidak kentara. Demikian Sjahrir mengutip penilaian salah seorang yang ditemuinya di AS.

Kembali ke perekonomian Indonesia, beberapa langkah yang ditempuh pemerintah mendapatkan respon positif. Satu di antaranya adalah keputusan untuk melunasi hutang IMF dan membubarkan lembaga donor CGI. Langkah ini dianggap sebagai bukti keseriusan pemerintahan SBY dalam menjalankan roda pembangunan secara lebih mandiri.

Respon positif juga terlihat pada sambutan pasar terhadap peluncuran obligasi dengan nilai US dollar yang diterbitkan pemerintah beberapa waktu lalu. Tingginya minat pasar merupakan salah satu indikator meningkatnya kembali minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Meski demikian Sjahrir mengingatkan bahwa kepercayaan pasar masih terbatas pada investasi portofolio dan sejauh ini belum beranjak ke investasi riil. Sebagaimana diketahui, dampak investasi riil terhadap pertumbuhan ekonomi lebih terasa. Upaya untuk menarik investasi riil, dengan demikian, harus tetap diupayakan. Tujuannya antara lain adalah untuk menyediakan lapangan kerja. Perlu dicatat, tingkat pengangguran di Indonesia masih di atas 10% dengan pertumbuhan di atas 2 juta pencari kerja baru setiap tahun.

Untuk menarik investasi riil, banyak pekerjaan rumah yang harus dirampungkan. Reformasi di sektor birokrasi harus dilanjutkan, baik di pusat maupun daerah. Demikian juga pembenahan di sektor perundang-undangan, khususnya yang terkait dengan ketenagakerjaan, pajak, bea cukai, dan penanaman modal. Pembenahan di kedua sektor tersebut juga harus dibarengi dengan perbaikan infrastruktur.

Banyaknya sektor yang harus dibenahi tidak harus membuat kita pesimis, ungkap Sjahrir. Pertumbuhan ekonomi tetangga-tetangga kita yang menakjubkan, khususnya China dan India, juga tidak boleh dijadikan alasan untuk minder. Sebaliknya harus dijadikan sebagai pemicu untuk meningkatkan kinerja. Kuncinya adalah koordinasi dan kerjasama semua pihak. Tanpa perbaikan di dalam negeri, upaya menjual potensi Indonesia di luar negeri seperti kurang greget.

Akhirnya, semoga setelah banjir surut kita menemukan kembali kesadaran, ide-ide baru, serta semangat untuk menata kembali Indonesia. Yang terakhir ini datang dari saya, bukan dari Dr. Sjahrir. Maklum, bisanya baru sekadar menyimak dan mengamini.

 

Advertisements