Underdog

Kompetisi bola basket NBA sudah memasuki babak play-off. Hanya delapan tim terbaik dari tiap-tiap wilayah yang berhak mengikuti babak ini. Sisanya harus puas menjadi penonton. Atau pergi berlibur lebih awal.

Dua tim dengan kondisi bertolak belakang bertemu di wilayah Barat: Dallas Mavericks versus Golden State Warriors. Mavericks adalah tim dengan rekor kalah-menang terbaik tahun ini: 67 berbanding 15. Jatah ke babak play-off sudah dikantongi jauh hari sebelum babak reguler selesai. Bintang tim ini, yaitu Dirk Nowitzki, juga dinominasikan sebagai salah satu kandidat Most Valuable Player. Catatan akan semakin mengilap jika prestasi tahun lalu juga disebutkan. Mavericks maju ke final, meski harus mengakui keunggulan Miami Heats. Tidak ada yang perlu diragukan dengan tim unggulan pertama ini.

Sementara lawannya, Warriors, oleh banyak pihak diperkirakan hanya akan numpang lewat saja. Keberhasilan maju ke babak play-off tahun ini adalah untuk pertama kali dalam 12 tahun. Dan tidak diperoleh dengan mudah. Warriors harus menunggu sampai pertandingan terakhir untuk memastikan maju ke babak play-off. Bahkan di tengah musim kompetisi, Don Nelson – sang pelatih, dua kali mengatakan kepada pers bahwa peluang timnya maju ke babak play-off sudah habis. Penyebabnya adalah kekalahan beruntun yang diderita Warriors, pertahanan yang mudah ditembus, dan absennya beberapa pemain andalan karena cedera.

Menjelang akhir musim, ceritanya menjadi lain. Grafik permainan Warriors meningkat. Kemenangan mulai datang menyapa. Meski demikian, peluang maju ke babak play-off tetap tipis mengingat besarnya defisit di tangga klasemen.

Menduduki peringkat delapan berarti harus menghadapi peringkat pertama. Dan Mavericks adalah tim yang sedang panas-panasnya. Rekornya seperti yang disebut di atas tadi.

Tetapi, selalu ada kata namun. Beberapa hal membuat Warriors sedikit percaya diri. Pertama, rekor pertemuan kedua tim di musim reguler ini adalah 3-0 untuk Warriors. Kedua, Mavericks selalu kalah dalam 6 pertandingan terakhir melawan Warriors. Ketiga, Don Nelson sangat memahami karakter Mavericks karena pernah lama menjadi pelatih tim tersebut. Keempat, pelatih Mavericks – Avery Johnson – pernah menjadi anak buah Nelson, sebagai pemain maupun asisten pelatih. Kelima, moral Warriors sangat tinggi menyusul keberhasilan menembus babak play-off setelah 12 tahun berpuasa.

Menghadapi tim terbaik NBA, meski demikian, tetap lain ceritanya. Apalagi lawan memiliki keuntungan lebih banyak bermain di kandang. Beberapa pemain Warriors juga belum memiliki pengalaman bertanding di babak play-off.

Dan partai pertama digelar di kandang Dallas. Tim underdog mencoba menghadang tim terbaik tahun ini. Dan hasilnya di luar dugaan. Warriors memenangi pertandingan 97-85. Di kandang Mavericks, tim terbaik tahun ini.

Kedua tim banyak membuat kesalahan pada awal pertandingan. Bedanya, Warriors berhasil menguasai keadaan sedangkan Mavericks tetap mengulang kesalahan. Pemilik Mavericks, Mark Cuban, yang terkenal agak eksentrik; terlihat seperti setengah tidak percaya. Ditulis di salah satu koran: ekapresi Mark Cuban seperti anak laki-laki umur 10 tahun mendapati sepedanya dicuri, dan pencurinya ternyata anak perempuan umur 9 tahun. Moral pemain Warriors naik. Sebaliknya dengan pemain Mavericks.

Pertandingan kedua juga berlangsung di kandang Mavericks. Tuan rumah turun ke lapangan dengan was-was. Sang tamu dengan agak jumawa, berpikir bahwa kemenangan akan kembali dipetik. Akibatnya mereka bermain penuh emosi. Dua pemain andalan Warriors dikeluarkan. Skor akhir 112-99 untuk Mavericks. Kedudukan menjadi sama kuat 1-1.

Bukan Don Nelson jika tidak lihai memotivasi anak buah. Kesalahan pada pertandingan kedua menjadi fokus utama menjelang pertandingan ketiga. Pemain yang dianggap tidak dapat mengendalikan emosi didenda. Kesalahan sedikit akan berakibat fatal. Terlebih ketidakmampuan mengendalikan emosi.

Buah manis dipetik pada pertandingan ketiga. Di depan pendukung yang telah menunggu 12 tahun untuk menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga di babak play-off, skuad Warriors kembali menemukan kepercayaan diri. Dan Mavericks, tim terbaik tahun ini, kembali dibuat tidak berdaya. Skor akhir 109-91 untuk Warriors.

Sampai malam ini empat jempol layak diacungkan kepada Warriors. Mereka mampu mengalahkan tim terbaik dua kali. Bukan karena keberuntungan. Tapi berkat perhitungan matang, kekompakan, semangat, dan kepercayaan diri.

Masih ada empat pertandingan sisa. Jika tetap tampil seperti pertandingan pertama dan ketiga, tidak mustahil Mavericks dapat dikalahkan. Artinya prestasi luar biasa akan terukir. Hanya pernah ada dua kejadian saat peringkat delapan mengalahkan peringkat pertama sepanjang sejarah NBA. Seandainya tersingkir, Warriors tetap layak diacungi jempol. Terserah. Empat jempol boleh, kurang juga silakan. Bagaimanapun, lawan yang dihadapi adalah tim dengan rekor terbaik.

Yang jelas, saat ini beban ada pada Mavericks. Pemeo Jawa sangat tepat untuk menggambarkan posisi mereka. Menghadapi peringkat delapan menang ora kondang kalah ngisin-isini. Menang dianggap wajar, kalau sampai kalah benar-benar memalukan.

Kita tunggu saja partai berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s