Pelancong India

by LareSabin

Ini bukan kisah mengenai saudagar dari Gujarat yang berlabuh ke Indonesia beberapa abad silam. Pelancong India di sini adalah wisatawan asal India yang berkunjung ke Amerika Serikat, yang jumlahnya semakin banyak saja.

Pengalaman kemarin dan hari ini dapat dijadikan contoh. Tanpa direncanakan sebelumnya, saya dan keluarga ‘mencari angin’ ke dua lokasi tujuan wisata kota San Francisco: Lombard Street dan Coit Tower. Udara yang dingin tidak menghalangi niat mengunjungi dua tempat tersebut. Belum pernah mengambil gambar di situ, bela istri.

Suasana terlihat hingar bingar di Lombard Street. Terus terang saja pemandangan tidak lagi bagus. Pohon-pohon yang mewarnai ‘jalan kelok tujuh’ itu telah jatuh layu. Musim semi telah lewat. Corak warna yang tersisa hanya coklat meranggas.

Yang terlihat penuh warna justru busana pengunjungnya. Wisatawan perempuan (wisatawati?) asal India – yang cukup banyak terlihat hari itu – banyak yang mengenakan sari, baju tradisional mereka. Warnanya rata-rata cerah.

Saya amati, rombongan wisatawan India biasanya datang berempat. Sepasang suami-istri berusia tigapuluhan dan sepasang suami-istri berusia enampuluhan. Saya hanya bisa menduga mengapa begitu susunannya. Pasangan muda tersebut merupakan pekerja asing sektor teknologi informasi asal India. Di kawasan sekitar San Francisco, jumlah mereka cukup banyak. Satu jam berkendara dari San Francisco ke arah selatan, kita menjumpai banyak perusahaan teknologi informasi. Mulai dari kelas kakap macam Google dan Intel, sampai dengan perusahaan-perusahaan kecil yang namanya belum terdengar. Nah, banyak engineer asal India yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut.

Satu dua tahun bekerja, mereka kemudian mendatangkan orang tua (atau mertua) untuk melancong ke Amerika, tanah impian. Bisa jadi, mendatangkan orang tua ke Amerika juga menjadi simbol kesuksesan. Seperti juga tabiat kita pada saat mudik lebaran.

Dunia dua generasi tadi, sekilas saya amati, terlihat berbeda. Anaknya doktor di bidang komputer, tapi orang tuanya terlihat bersahaja. Seperti layaknya orang India kebanyakan yang kita lihat di film-film Bollywood itu. Ibu-ibunya memakai sari. Bapak-bapaknya memakai kacamata dengan bingkai tebal.

Bukan maksud saya mencemooh tampilan mereka. Terus terang saja, dibanding mereka kedua orang tua saya masih lebih ndeso lagi. Yang ingin saya kemukakan adalah bagaimana perubahan terjadi begitu cepat. Dunia orang tua berbeda jauh dengan dunia anak-anaknya.

Dalam konteks pelancong India, perbedaan ini bernilai positif. Teknisi muda India tidak sekadar mencari kerja di Amerika. Lebih dari itu, keberadaan mereka dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Patut diberi acungan jempol. Meminjam istilah kaum perantau, mereka berhasil menaklukkan Amerika. Dan sekarang saatnya mengajak orang tua menikmati bagian dari keberhasilan ini.

Puas di Lombard Street, perjalanan dilanjutkan ke Coit Tower. Pelancong India juga banyak dijumpai di situ. Mereka menikmati indahnya pemandangan kota dan teluk San Francisco dari atas bukit. Sari mereka berkibar, angin bertiup agak kencang.

Hari berikutnya saya diajak makan siang di sebuah restauran India, tidak jauh dari kantor. Meski hari libur, saya harus ke kantor. Piket. Tiba agak awal, restauran masih sepi. Namun ketika makanan yang dipesan siap, pengunjung mulai berdatangan. Dan yang datang pertama adalah pasangan suami istri India.

Yah, namanya juga restauran India. Jika banyak orang India yang makan di situ, wajar bin jamak dong. Bukan itu maksud saya. Pasangan ini terlihat seperti kelompok yang berhasil menaklukkan Amerika. Artinya, keberadaan mereka tidak hanya mandatangkan keuntungan bagi Google atau Intel. Tetapi juga bagi pemilik restauran yang sedang saya singgahi.

Mereka, sayup-sayup terdengar, memesan lamb biryani. Saya sudah akan menghabiskan setengah piring.

Advertisements