Fenomena China

by LareSabin

Membaca majalah Newsweek edisi terakhir, perhatian tertuju pada cover story yang ditulis Fareed Zakaria. Intinya adalah kebangkitan China sebagai superpower. Suka atau tidak suka, status China sebagai superpower bukan lagi sebuah wacana namun telah menjadi kenyataan.

Publik Amerika menaruh perhatian yang cukup besar terhadap fenomena China ini. Logika awamnya, lima belas tahun terakhir Amerika menjadi negara adikuasa sendirian. Sekarang mereka mendapat pesaing.

Banyak yang melihat kebangkitan China sebagai ancaman. Ekspor negeri tirai bambu ke Amerika melonjak tajam. Barang-barang produksi China membanjiri pasar Amerika. Harganya sangat murah. Mayoritas konsumen lebih memilih barang impor asal China. Akibatnya beberapa industri lokal seperti mati suri.

Persoalan lain yang disoroti adalah sejauh mana China siap menyandang status superpower. Satu kosa kata yang menggambarkan kecemasan akan daya tahan China adalah hard landing. Intinya adalah kekhawatiran apabila politik domestik China menjadi tidak stabil pada saat pertumbuhan ekonomi demikian tinggi.

Sistem politik China yang masih belum demokratis dianggap sebagai potensi ancaman. Pada saat negeri tersebut semakin makmur, jumlah kelas menengah juga akan meningkat. Tingkat pendidikan semakin tinggi. Pertanyaannya, jika kemakmuran telah dicapai, apakah mereka tidak akan menuntut kebebasan?

Ketidakmerataan juga menjadi sorotan. Sementara kota-kota di belahan timur semakin maju, bagian pedalaman China masih saja tertinggal. Kemiskinan masih menjadi persoalan utama.

Terlepas dari persoalan di atas, kebangkitan China merupakan sebuah fenomena yang harus diberi perhatian khusus. Mulus atau hard landed, dampaknya akan meluas kemana-mana. Termasuk Indonesia.

 

Advertisements