Filipino? Mexican? Indonesian!

by LareSabin

Beberapa kali saya disangka orang Filipina. Pada kesempatan lain, saya dikira orang Meksiko. Populasi dua kelompok etnis ini di San Francisco dan sekitarnya memang cukup besar, terutama di wilayah pinggiran tempat saya tinggal.

Meksiko berbatasan langsung dengan Amerika Serikat (AS). Tidak mengherankan banyak penduduk negara tersebut yang pindah melintasi perbatasan ke utara. Tujuannya mencari penghidupan yang lebih baik. Sedangkan Filipina memiliki hubungan sejarah yang cukup istimewa dengan AS. Setelah lepas dari penjajahan Spanyol, tetangga kita yang satu ini diduduki Paman Sam. Pada Perang Dunia II, banyak tentara Filipina yang bertempur di pihak AS. Tidak mengherankan jika banyak Filipino yang melintas Samudera Pasifik, beremigrasi ke AS.


Nah, tampang orang Filipino dan Meksiko umumnya mirip dengan orang Indonesia. Sama seperti kita, orang Filipino berasal dari rumpun ras Melayu. Tampang orang Meksiko dari etnis Indian (bukan keturunan Spanyol) juga mirip dengan ras Melayu. Rambut mereka hitam. Kulitnya sawo matang.

Di sekitar tempat saya tinggal, orang Filipina banyak yang berprofesi sebagai kasir di pusat perbelanjaan. Pada sejumlah kesempatan, ketika saya akan membayar belanjaan, si kasir ini segera saja melontarkan sejumlah kalimat dalam bahasa ibunya. Dikiranya saya juga Filipino.

Saya katakan kalau saya tidak bisa berbahasa Tagalog. Si kasir terperanjat. Lalu dia berkata dalam bahasa Inggris. Why? You must not forget your heritage? Dia mengira saya orang Filipina yang sudah lupa bahasa sendiri. Saya jelaskan bahwa saya orang Indonesia, tetangganya Filipina. Jadi tampangnya hampir mirip.

Seakan belum puas, si kasir meminta saya menunggu sebentar. Ada rekan kerja saya orang Indonesia, katanya. Saya ingin tahu apakah kamu dapat berbicara dengannya, dalam bahasa Indonesia. Karyawan toko asal Indonesia ini kemudian dipanggil. Saya bekenalan. Ngobrol dalam bahasa Indonesia. Barulah si kasir percaya. I believe now. You are Indonesian. Katanya sambil tertawa.

Cerita tentang Meksiko lain lagi. Kebetulan dua blok dari kantor ada warung makan Meksiko yang menurut saya cukup enak. Apalagi tersedia menu carne asada super burrito yang cocok untuk perut dengan kapasitas lumayan besar.

Nah, pemilik warung ini orang Meksiko keturunan Spanyol. Tampangnya bule Eropa. Saat saya datang untuk pertama kali ke warung tersebut, si pemilik bertanya dalam bahasa Spanyol. Saya hanya bisa menduga-duga. Mungkin menanyakan mau makan apa hari ini.

Karena memang tidak ngarti bahasa Spanyol, saya jawab dengan bahasa Inggris. May I have beef steak super burrito, please. Wajah Ibu yang punya warung terlihat masam. Dalam hati mungkin dia berpikir. Lha wong pertanyaan apa kabar kok jawabannya super burrito. Namanya juga menduga-duga. Kalau datang ke warung makan biasanya kan ditanya mau makan apa.

Atau mungkin dia agak sebel. Mexican-Indian yang satu ini sok berbahasa Inggris. Mentang-mentang sudah tinggal di Amerika, nggak mau lagi menggunakan bahasa Spanyol.

Beberapa kali saya datang lagi, selalu saja ada kata dalam bahasa Spanyol dalam pertanyaan pemilik warung. Misalnya pada saat menanyakan jenis salsa apa yang diinginkan. Seolah dia ingin mendengar saya bertutur kata dalam bahasa Spanyol. Melihat saya tetap berbahasa Inggris, kali ini pemilik warung tersenyum seidikit sinis.

Akhirnya, pada kesempatan lain saya datang bersama dengan beberapa teman orang Indonesia. Saya katakan ke mereka, nanti pada saat pesan makanan kita bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Teman-teman saya sedikit bingung. Lah selama ini kita selalu ngobrol dalam bahasa Indonesia?

Saya bilang agar pemilik warung tahu kalau saya bukan orang Meksiko. Biar dia mendengar saya berbicara dalam bahasa ‘planet lain.’ Supaya dia tahu kalau saya tidak sombong. Tetapi karena memang bukan orang Meksiko.

Benar juga. Pemilik warung agak terperanjat mendengar kami bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Mungkin dia berpikir, memang benar pembeli yang satu ini bukan orang Meksiko.

Sambil makan, saya ceritakan sikap pemilik warung tersebut. Dia mengira saya orang Meksiko yang somse tidak mau berbahasa Spanyol. Makanya, kalau makan burrito ngajak-ngajak, kata salah satu teman. Biar dia dengar kalau bahasa kita beda jauh dengan punya mereka.

Setelah itu, setiap kali saya makan siang di warung tersebut, sendirian atau bersama teman, tidak ada lagi kata dalam bahasa Spanyol yang terlontar dari pemilik warung. Dia sudah haqqul yakin jika saya bukan orang Meksiko. Senyumnya pun tidak lagi sinis, berubah menjadi senyum nan ramah.

Sampai di sini, masalah belum selesai. Cerita di atas hanya untuk satu toko dan satu warung makan. Berpindah toko, masih ada juga kasir yang mengira saya Filipino. Mencoba restauran Meksiko yang lain, masih ada saja pelayan yang menyapa saya dengan bahasa Spanyol.

Lambat laun, saya anggap salah duga ini sebagai resiko. Tidak ada ruginya. Sambil mengatatakan jika saya adalah tiyang Jawi saking Indonesia, kadang saya memberi sedikit penjelasan tentang Indonesia.

Advertisements