Malaysia dan Demokratisasi Gelombang Ketiga

by LareSabin

Hasil pemilu Malaysia menarik perhatian banyak kalangan. Banyak yang menyebut melemahnya dominasi Barisan Nasional sebagai awal dari sebuah babak baru dalam kancah perpolitikan negeri tetangga kita itu. Malaysia dianggap mulai memasuki era yang lebih demokratis.

Apa yang terjadi di Malaysia mengingatkan kita kepada tesis Samuel Huntington tentang the third wave of democratization atau demokratisasi gelombang ketiga. Huntington (1991) menyebut tiga periode perkembangan demokrasi. Gelombang pertama, terjadi pada kurun waktu 1828-1926, dimulai di Eropa dan dipicu oleh perkembangan di bidang sosial dan ekonomi. Kemajuan di bidang ekonomi, industrialisasi, urbanisasi, dan meningkatnya jumlah kelompok kelas menengah oleh Huntington dianggap sebagai penyebab utama tumbuhnya demokrasi di sejumlah negara Eropa saat itu.


Gelombang kedua terjadi pada kurun waktu 1943-1962 dan penyebab utamanya adalah faktor politik dan militer. Menyusul kemenangan pihak Sekutu pada Perang Dunia Kedua, beberapa negara kemudian beralih ke demokrasi. Gelombang kedua ini berlanjut di sejumlah negara yang baru merdeka menyusul proses dekolonisasi.

Demokratisasi gelombang ketiga dimulai tahun 1974 dengan faktor penyebab yang lebih kompleks dibandingkan dua gelombang terdahulu. Empat di antaranya adalah melemahnya legitimasi rejim otoriter, perkembangan di sektor ekonomi, dampak dari proses serupa di kawasan (snowball effect), dan tekanan dari luar.

Huntington memberi sebutan gelombang ketiga (third wave) untuk proses demokratisasi yang terjadi mulai pertengahan 1970-an sampai awal 1990-an. Dimulai dari Revolusi Mawar di Portugal sampai dengan perubahan politik di negara-negara eks Blok Timur menyusul usainya Perang Dingin.

Meski demikian apa yang terjadi setelah itu masih tetap relevan dianggap sebagai kelanjutan dari gelombang ketiganya Huntington. Contohnya adalah proses demokratisasi di Indonesia. Dilihat dari faktor penyebabnya demokratisasi di Indonesia bermula dari melemahnya legitimasi rejim otoriter yang berkuasa mulai awal 1990-an. Perkembangan di sektor ekonomi, yaitu kegagalan mengatasi krisis ekonomi tahun 1997, menjadi puncak dari perlemahan legitimasi tersebut.

Faktor tekanan dari luar terlihat tidak begitu dominan. Namun dengan berkurangnya kepentingan negara adikuasa di Indonesia setelah runtuhnya blok komunis, bagi negara-negara maju mendukung rejim otoriter tidak lagi menjadi pilihan populer. Sistem politik global tidak lagi berpihak kepada rejim Orde Baru yang berkuasa saat itu.

Dilihat dari pola yang disusun Huntington, proses demokratisasi di Indonesia dapat dikategorikan sebagai transplacements dimana pemerintah dan oposisi bersama-sama mengusung proses demokratisasi. Mungkin penggolongan ini tidak sepenuhnya tepat mengingat sebelumnya konsep oposisi tidak dikenal di Indonesia. Meski demikian realita politik dewasa ini menunjukkan adanya kerjasama antara kelompok yang sebelumnya duduk di pemerintahan dan kelompok yang sebelumnya berada di luar pemerintahan.

Lalu, bagaimana dengan tetangga kita Malaysia? Apakah yang terjadi sekarang ini juga merupakan kelanjutan dari gelombang ketiganya Huntington?

Dilihat dari penyebabnya, faktor sosial dan ekonomi memegang peran penting pada kasus Malaysia. Mereka menikmati kemajuan ekonomi di atas rata-rata tetangganya di kawasan. Mereka juga berada di jajaran terdepan dalam proses industrialisasi. Selain itu, sebagai dampak dari tingginya pertumbuhan ekonomi jumlah kelas menengah Malaysia meningkat tajam.

Meski dapat mewujudkan kesejahteraan, sistem politik yang ada saat ini dianggap tidak populer. Hal ini telah ditengarai Huntington. Disebutkan bahwa kemakmuran yang dihasilkan dari proses industrialisasi lebih berpeluang mendukung proses demokratisasi dibandingkan dengan kemakmuran yang asalnya dari penjualan kekayaan alam saja. Proses demokratisasi di Malaysia membenarkan tesis ini.

Dari sini dapat dikatakan bahwa demokratisasi di Malaysia memiliki kemiripan karakter dengan gelombang ketiganya Huntington. Seperti juga di Indonesia, faktor ekonomi memegang peran dominan. Bedanya jika di Indonesia kegagalan di bidang ekonomi menjadi pemicu, di Malaysia keberhasilan yang menjadi penyebab.

Dilihat dari polanya, beberapa kemungkinan dapat terjadi mengingat hasil pemilu bulan ini baru merupakan sebuah tahap awal. Realita politik ke depan akan menentukan pola demokratisasi yang lebih jelas. Seandainya elit politik Barisan Nasional berhasil mengusung program demokratisasi, pola yang mungkin terbentuk adalah transformasi. Jika pemerintah dan kelompok oposisi bersama-sama menggulirkan demokratisasi, polanya adalah transplacements. Namun jika tidak terjadi kesepahaman dan kemudian oposisi naik ke tampuk kekuasaan, pola demokratisasi yang terbentuk adalah replacements atau pergantian.

Kasus Malaysia menunjukkan bahwa demokratisasi gelombang ketiga masih berlangsung. Setelah Malaysia, bukan tidak mungkin akan ada negara lain yang menyusul. Bisa karena keberhasilan atau sebaliknya kegagalan di bidang ekonomi. Terlebih jika terjadi efek snowball. Apa yang terjadi di satu negara akan menjadi inspirasi bagi penduduk di negara lain.

Advertisements