Hillary vs Obama: Sampai Kapan?

on

Pada saat banyak pihak menganggap Demokrat berpeluang besar menang di pilpres AS, sampai sekarang siapa kandidat yang akan maju mewakili partai tersebut belum juga diketahui. Padahal pelaksanaan pilpres tinggal enam bulan lagi.

Pemilihan pendahuluan di dua negara bagian yang digelar Selasa lalu (Rabu waktu Indonesia) belum menghasilkan bakal capres terpilih. Barack Obama menang di North Carolina, sementara Hillary Clinton unggul tipis di Indiana. Masih melihat peluang untuk memenangkan pertarungan, belum ada kandidat yang mengibarkan bendera putih.

Situasi ini memunculkan dua pertanyaan. Sampai kapan persaingan Hillary-Obama akan berlangsung? Apa dampaknya terhadap peluang Demokrat dalam pilpres November mendatang?


Pergeseran peta kekuatan

Lima bulan lalu Hillary merupakan kandidat terkuat, sementara Obama dianggap underdog. Banyak yang memprediksikan Hillary akan dengan mudah merebut tiket capres Demokrat. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Popularitas Obama di kalangan pemilih perlahan naik dan secara mengejutkan ia menang di Iowa, negara bagian yang menggelar pemilihan pendahuluan pertama kali.

Bagi Obama kemenangan di Iowa sangat penting. Pertama, anggapan bahwa Hillary tak tertandingi terpatahkan. Kedua, kemenangan di negara bagian yang 95% penduduknya kulit putih mengindikasikan rakyat Amerika telah siap memiliki presiden berkulit hitam.

Kemenangan Obama berlanjut dan ia berbalik unggul atas Hillary. Berubah ke posisi yang tidak diuntungkan, Hillary mengubah strategi kampanye dan mulai melancarkan serangan ke Obama.

Strategi Obama menjawab serangan tersebut cukup tepat. Ia tidak menanggapi secara emosional, namun mengajak pemilih tetap berpikir jernih. Akibatnya serangan Hillary tidak menemui sasaran. Sebaliknya banyak yang melihatnya sebagai bentuk ketidakdewasaan Hillary. Hasilnya, simpati justru mengalir kepada Obama.

Serangan terhadap Obama, meski demikian, tak juga berhenti. Sebulan terakhir beredar luas rekaman video pernyataan pendeta kulit hitam Jeremiah Wright yang bernada memojokkan AS. Wright adalah pendeta di gereja yang secara rutin dihadiri Obama.

Pernyataan Wright kemudian dijadikan senjata untuk menyerang Obama. Obama berusaha mengelak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemikiran Wright. Namun di berbagai forum Wright menyatakan bahwa apa yang disampaikan mencerminkan pemikiran sebagian besar warga kulit hitam AS, termasuk Obama.

Pernyataan Wright berdampak besar. Bukan saja merugikan Obama, tetapi juga mengangkat kembali isu ras dalam kancah perpolitikan AS.

Tiga skenario

Ketatnya persaingan antar kandidat membuat kubu Demokrat pada posisi sulit. Pada satu sisi, mereka berharap capres yang terpilih adalah kandidat yang didukung mayoritas pemilih dan pengurus partai. Oleh karenanya tidak ada pilihan lain kecuali menunggu sampai salah satu kandidat mendapatkan 2025 kursi delegasi, jumlah minimal yang diperlukan untuk menjadi pemenang.

Namun pada sisi lain Partai Republik telah menetapkan bakal capres mereka. Artinya Demokrat sudah tertinggal satu langkah. Demokrat akan semakin jauh tertinggal jika bakal capres tak kunjung ditetapkan.

Melihat kondisi terakhir, setidaknya ada tiga skenario penetapan capres Demokrat. Pertama, salah satu kandidat mundur dalam waktu dekat. Kuncinya adalah hasil pemilihan pendahuluan di West Virginia (13 Mei) serta Oregon dan Kentucky (20 Mei). Tiga negara bagian ini menyediakan 131 kursi delegasi.

Jika Hillary menang telak (dan ini kelihatannya sulit terjadi), ia memiliki alasan untuk terus maju. Namun jika imbang atau Obama yang menang, secara matematis peluang Hillary mengecil. Pilihan terbaik adalah mundur dan memberi kesempatan kepada Obama menjadi capres. Jika skenario ini berjalan, Demokrat akan memiliki capres sebelum bulan Mei berakhir.

Skenario kedua adalah tidak ada kandidat yang mundur sampai putaran terakhir pemilihan pendahuluan digelar tanggal 3 Juni dan super delegates (pengurus partai dan pejabat pemerintah yang berasal dari kubu Demokrat) menentukan pilihan pada minggu pertama Juni. Kuncinya adalah kombinasi antara distribusi 217 delegasi yang tersisa di enam negara bagian dan distribusi dukungan 277 super delegates yang sejauh ini belum menentukan sikap. Jika skenario kedua berjalan, Demokrat akan memiliki capres pada bulan Juni.

Skenario ketiga merupakan yang terburuk. Tidak ada kandidat yang mundur, super delegates tidak segera menentukan pilihan, dan kubu Hillary terus mempersoalkan hasil pemilihan di Michigan dan Florida. Sebagaimana diketahui, dua negara bagian ini menyelenggarakan pemilihan mendahului jadwal yang ditetapkan partai sehingga hasilnya dianulir. Padahal Hillary menang di keduanya.

Jika skenario ini yang terjadi, publik harus menunggu pelaksanaan konvensi partai Demokrat akhir Agustus mendatang. Menunggu sampai konvensi digelar merupakan sebuah mimpi buruk. Lazimnya capres terpilih sudah diketahui sebelum konvensi berlangsung. Sejauh ini konvensi hanya merupakan ajang formalitas untuk mengesahkan capres terpilih.

Dampak bagi Demokrat

Persaingan Hillary-Obama yang tak kunjung berakhir akan berdampak negatif bagi Demokrat. Pertama, sangat mungkin suara Demokrat terpecah dalam pilpres. Mulai muncul berita bahwa sebagian pendukung fanatik Hillary menyatakan tidak akan memilih Obama jika Obama yang maju sebagai capres. Demikian juga sebaliknya, sebagian pendukung fanatik Obama tidak akan memberikan suaranya ke Hillary. Jika benar-benar terjadi, yang memetik keuntungan adalah kubu Republik.

Kedua, jika capres Demokrat baru dapat ditetapkan pada bulan Agustus 2008 maka waktu yang dimiliki capres terpilih sangat sedikit. Padahal waktu tersebut sangat diperlukan untuk berkampanye, mengumpulkan dana, dan menggalang dukungan.

Ketiga, sangat mungkin capres terpilih kehabisan peluru menjelang pelaksanaan pilpres. Kubu Republik telah berkesempatan mengamati perdebatan dan menganalisis kampanye negatif sesama kandidat Demokrat. Hasilnya akan digunakan untuk menyerang capres Demokrat menjelang pemilu nasional.

Dewasa ini publik di AS (dan juga masyarakat internasional) sangat mengharapkan terjadi pergantian rejim di Washington. Pada tingkat domestik, model kepemimpinan saat ini dianggap tidak cocok dan banyak merugikan kepentingan AS. Pada tingkat global, model seperti itu dianggap tidak sejalan semangat menciptakan perdamaian dunia. Presiden dari Partai Demokrat diharapkan dapat mengubah kondisi tersebut.

Banyak yang berharap perseteruan Hillary-Obama segera berakhir dan siapa yang maju sebagai capres dapat segera ditetapkan. Dengan demikian Demokrat terhindar dari situasi kalah sebelum bertarung. Jika tidak, selain peluang menyaksikan presiden wanita atau kulit hitam pertama AS menipis, kita juga harus bersiap-siap untuk tidak melihat perubahan signifikan kebijakan Washington empat tahun ke depan.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. atrix says:

    Well, As perlu pemimpin muda yang punya orientasi yang lebih matang dan moderat. As terlalu sering didominiasi partai Republik yang konservatif yang lebi berorientasi pada kebijakan LN yang agresif, bahkan smenjak Bush berkuasa bergeser lebih “aneh” ke pre-emptive hanya untuk sekedar “jaga-jaga. Semntara urusan dalam negeri AS sendiri bermasalah. Publik AS harus memilih tokoh yang bukan hanya visioner, namun lebih rasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s