Buku: The Post-American World

by LareSabin

Membaca satu buku sampai selesai, dalam waktu tidak terlalu lama, dan tanpa diselingi dengan kegiatan membaca buku lain, termasuk hal yang sulit saya kerjakan. Biasanya setelah selesai membaca sepertiga buku, saya berpaling ke buku lain. Artinya, pada saat yang bersamaan kadang ada sampai tiga buku yang saya baca.

Kesulitan tersebut teratasi minggu lalu, saat saya membaca buku terbaru tulisan Fareed Zakaria, The Post-American World. Mungkin karena rasa penasaran, sebab tulisan Zakaria sering saya baca di majalah Newsweek. Atau juga topiknya menarik, mengenai peran Amerika Serikat (AS) dalam tata politik global.

Zakaria adalah editor Newsweek International, pindah ke AS dari India pada tahun 1982.


Latar belakang tersebut membuat tulisan Zakaria berawasan luas, jauh berbeda dengan tulisan analis asli Amerika yang sering terjebak pada sikap jumawa. Selain itu Zakaria juga dibesarkan di keluarga Muslim, sehingga pemikirannya merupakan kombinasi pandangan seorang India (mewakili dunia ketiga) sekaligus seorang Muslim (kelompok yang saat ini berada pada posisi sulit di mata sebagian besar warga Amerika).

Dua hal saya catat dari buku tersebut. Pertama, salah jika ada yang mengatakan Amerika saat ini mengalami kemunduran. Yang terjadi adalah beberapa negara melaju lebih cepat dari Amerika. Seperti analis lain, Zakaria juga mengulas China dan India sebagai dua negara yang potensial menyalip Amerika. Tulisan Zakaria tentang India terasa spesial, karena ia tumbuh besar di negara tersebut.

Kedua, Zakaria membandingkan posisi Amerika saat ini dengan Inggris pada paruh pertama abad kedua puluh. Setelah hampir tiga abad menjadi negara terkuat, Inggris berubah menjadi negara biasa selepas Perang Dunia. Penyebabnya, menurut Zakaria, Inggris meski dalam bidang politik saat itu tetap dianggap sebagai superpower, secara ekonomi kemampuannya merosot tajam. Tidak didukung oleh perekonomian yang kuat, status superpower Inggris tanggal.

Posisi Amerika saat ini, lanjut Zakaria, berkebalikan dengan Inggris. Secara ekonomi Amerika tidak mengalami masalah. Sebagai contoh, pada saat banyak yang khawatir praktek outsourcing akan melemahkan ekonomi Amerika, Zakaria berpendapat sebaliknya. Keuntungan finansial yang didapat Apple, misalnya, jauh lebih besar dibandingkan yang diperoleh pabrik-pabrik pembuat iPhone yang ada di China.

Yang menjadi masalah di bidang politik. Selepas runtuhnya Uni Soviet, banyak yang berharap Amerika akan menggunakan statusnya sebagai sole superpower untuk menciptakan tata dunia yang lebih aman dan adil. Yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Amerika melalukan sejumlah kekeliruan.

Respon Amerika terhadap peristiwa 9/11 semakin menambah panjang daftar kekeliruan negeri Paman Sam tersebut. Pendekatan keamanan diutamakan, dialog dinomorduakan. Amerika seperti terbelenggu rasa takut yang berlebihan. Sebuah ironi, kata Zakaria. Amerika yang berjasa ‘mengglobalkan’ dunia justru seperti mulai menutup dan mengasingkan diri.

Amerika tetap akan dapat mempertahankan statusnya sebagai superpower, Zakaria menyimpulkan. Syaratnya, lakukan perubahan kebijakan, perubahan cara pandang. Pendekatan keamanan tetap penting, tetapi dialog dan diplomasi jangan dinomorduakan. Syarat lain, silakan baca di buku.

Di tengah hingar-bingar kampanye menjelang pemilihan presiden Amerika, pendapat Zakaria dalam buku ini layak didengar. Jika formula Zakaria diterapkan, citra Amerika akan pulih dan kontribusinya terhadap perdamaian dunia akan meningkat. Jadi, mari kita doakan ada kandidat presiden menyempatkan membaca bukui ini di sela kesibukan berkampanye.

Obama, perhaps?

Advertisements