Obama dan Hillary Sebagai Negarawan

by LareSabin

Putaran pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk menetapkan capres sebentar lagi berakhir. Tinggal tiga wilayah yang belum menggelar pemilihan, yaitu Puerto Rico, Montana, dan South Dakota. Dan sejauh ini Barack Obama memimpin perolehan jumlah delegasi, mengungguli rivalnya Hillary Clinton.

Obama meraih lebih banyak delegasi. Baik delegasi yang dipilih dalam pemilihan pendahuluan maupun delegasi super yang ditunjuk karena statusnya sebagai pengurus partai atau kader partai yang menjadi pejabat publik. Berdasarkan perhitungan terakhir koran Los Angeles Times hari ini, misalnya, Obama meraih 1.965 delegasi (1.656 merupakan hasil pemilihan dan 309 delegasi super). Hillary meraih 1.780 delegasi (1.500 dari hasil pemilihan dan 280 delegasi super).

Jumlah delegasi yang dibutuhkan oleh Obama maupun Hillary untuk menjadi capres adalah 2026. Artinya, Obama membutuhkan tambahan 61 delegasi dan Hillary 246. Jumlah delegasi yang masih menjadi rebutan keduanya saat ini adalah 250; terdiri dari 86 delegasi yang dipilih dan 164 delegasi-super.

Melihat komposisi tersebut, tidak heran jika banyak yang menyatakan secara matematis peluang Hillary telah tertutup. Untuk mencapai angka keramat 2.026, Hillary harus menang 100% di tiga wilayah tersisa dan mendapatkan dukungan seluruh delegasi super yang belum menentukan preferensi. Dan hal ini hampir tidak mungkin terjadi.

Persoalannya, politik bukan melulu kalkulasi matematika. Hillary bergeming, berulang kali menegaskan tidak akan mundur dari gelanggang. Hillary melihat peluang masih terbuka.

Alasannya?

Dulu, pada saat sebagian delegasi super belum menentukan pilihannya, sementara Obama unggul di perolehan delagasi terpilih; Hillary berkilah ‘biar saja Obama meraih dukungan mayoritas delegasi terpilih, tetapi saya akan didukung oleh mayoritas delegasi super.’ Hillary berhitung, hal ini akan membuatnya unggul secara keseluruhan.

Kubu Obama sempat was-was juga dengan rumus Hillary ini. Hingga muncullah himbauan, agar aspirasi delegasi super hendaknya sejalan dengan suara pemilih. Intinya, pada saat sebagian besar pemilih mendukung Obama, masa delegasi super mendukung Hillary. Bagi Obama, hal ini bukan saja tidak lucu tetapi juga sangat merugikan.

Waktu berjalan, rumus Hillary ternyata meleset. Hari ini, lebih banyak delegasi super yang mendukung Obama. Dua bekas kandidat presiden yang sudah mundur dari bursa, Bill Richardson dan John Edwards, juga menytakan mendukung Obama. Alhasil, Hillary kalah di semua lini.

Bukannya mundur, Hillary mencari jurus baru. Dihembuskan isu hasil pemilihan pendahuluan di negara bagian Florida dan Michigan (Florigan). Dua negara bagian ini dianggap mbalelo alias membangkang terhadap aturan partai. Sejak awal mereka sudah diingatkan untuk tidak menyelenggarakan pemilihan pendahuluan pada hari Selasa Wage … oh, maaf … sebelum tanggal 5 Februari. Hukumannya, apapun hasil pemilihan tidak akan diperhitungkan, dianulir. Delegasi dari kedua negara bagian tersebut akan kehilangan hak suaranya di konvensi partai.

Namun pengurus daerah partai di Florigan menganggap sepi ancaman tersebut. Pemilihan pendahuluan pun digelar pada bulan Januari. Tidak ada kandidat yang berkampanye di kedua negara bagian ini. Bahkan nama Obama tidak tercantum dalam kartu pemilihan di Michigan.

Karena jumlah penduduknya yang banyak, dua negara bagian ini berhak mengirimkan 366 delegasi. Melihat besarnya jumlah delegasi, Hillary – yang unggul di Florigan – meniupkan isu baru. Hasil pemilihan pendahuluan Florigan diusulkan untuk tidak dianulir. Disebutnya, itu mengabaikan suara pemilih. Dalam hatinya, jika diikutkan jumlah delegasi yang mendukung saya bertambah banyak.

Kubu Obama, tentu saja, menolak argumen Hillary. Seandainya Obama bisa berbahasa Purwokerto (bukan Puerto Rico), ia akan bertanya: Apa maning kiye? Hillary karepe kepriwe jane? Lho, apa lagi nih? Hillary maunya apa?

Bukankah dulu semua kandidat telah sepakat patuh pada aturan partai? Sehingga semuanya tidak melakukan kampanye di Florigan? Dan apapun hasil pemilihan tidak akan diakui?

Hillary tetap kukuh. Akhirnya, dewan pimpinan pusat partai akan memutuskan perkara ini pada akhir Mei.

Obama terlihat tidak mau mengeluarkan energi menghadapi manuver Hillary. Sebaliknya, ia mulai mengalihkan perhatian ke capres Partai Republik John McCain. Minggu lalu, mereka mulai saling menyerang di media. Topiknya mengenai kebijakan luar negeri.

Meski hampir dipastikan keluar sebagai pemenang di tingkat Partai Demokrat , Obama tidak buru-buru menyampaikan pidato kemenangan. Bahkan, dalam pidatonya di Iowa pekan ini ia memuji Hillary atas sikap maju tak gentarnya. (Sementara Hillary tak henti-hentinya menyerang Obama). Tujuannya, agar suara pemilih Demokrat tidak terpecah. Jika ia terlalu dini mengaku menang, pendukung Hillary akan tersinggung dan mereka bisa lari ke McCain di pilpres nanti.

Jika sikap kenegarawanan dijadikan parameter, skor 1-0 untuk Obama. Namun jangan khawatir, meski kalah Hillary dijamin tidak akan mendirikan partai baru sebagai kendaraan politik. Tidak seperti di kita. Percayalah!

Advertisements