Indonesia Pemimpin ASEAN

on

Membuka majalah The Economist (edisi 24 Mei 2008), perhatian saya tertuju pada dua artikel tentang Indonesia. Terus terang saja, bagi saya terpampangnya dua artikel mengenai Indonesia cukup mengejutkan. Sebab biasanya yang menjadi sorotan adalah China dan India, dua negara yang sedang begitu ramai diperbincangkan. Topiknya juga seputar pertumbuhan ekonomi mereka yang mencengangkan.

Artikel tentang Indonesia berjudul “Forcing help on Myanmar: ASEAN needs to play a bigger role in its region, and Indonesia a bigger role in ASEAN”dan “Not yet a dream; no longer a nightmare: a boom satire marks a decade of sturdy democracy.”

Saya akan mengulas artikel pertama.


Artikel tersebut berangkat dari keengganan junta militer Myanmar mengijinkan masuk bantuan asing (personil maupun materi) menyusul terjadinya bencana badai beberapa waktu lalu. Awalnya masyarakat internasional berharap ASEAN akan mampu membuka jalan. Namun, asosiasi negara-negara Asia Tenggara ini tidak mampu berbuat banyak.

Melihat kenyataan tersebut, The Economist menyarankan agar ASEAN, dan khususnya Indonesia sebagai negara terbesar, berusaha lebih keras mendesak pemerintah Myanmar. Jika tidak, situasi pasca-bencana akan kian memburuk.

The Economist kemudian mengulas peran Indonesia di kawasan. Majalah ini juga menyebut Indonesia selalu memiliki peran penting di ASEAN. Menengok sejarah, munculnya ASEAN tidak dapat dilepaskan dari pergantian rejim di Indonesia pada pertengahan 1960-an. Melihat kondisi sekarang, jumlah penduduk Indonesia setara dengan dua perlima penduduk ASEAN dan PDB Indonesia sepertiga PDB ASEAN.

Menurut The Economist, di tengah berkembangnya gagasan untuk meningkatkan peran aktif ASEAN, Indonesia (bersama Singapura) terlihat aktif mendukung gagasan ini. Sementara anggota yang terlihat kurang antusias.

Pada akhir artikel, The Economist menyatakan Indonesia telah menjadi ‘a different sort of model-of the transition from military to civilian rule, of openness and pluralism.’ Sekarang saatnya bagi Indonesia menggunakan pengaruhnya untuk menularkan pengalamannya ke beberapa tetangganya di kawasan, antara lain Myanmar, serta mewujudkan ASEAN yang lebih berperan aktif.

Masyarakat internasional (atau setidaknya majalah The Economist) sekali lagi mengakui peran penting Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Pertanyaannya, apakah kita siap mengemban peran tersebut? Atau kita lebih suka menyibukkan diri dengan urusan internal? Kita menunggu jawaban para elit politik. Mudah-mudahan mereka memiliki waktu membaca artikel tersebut di tengah-tengah kesibukan menyongsong hajat besar tahun 2009. Semoga.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. verdinand says:

    indonesia memang penting di ASEANtapi bukan dalam posisi sebagai pemimpin.Malaysia, Singapura dan Thailand sulit meraih posisi pemimpin di ASEAN. Inilah susahnya organisasi tanpa pemimpin.Nggak jelas mau kemana.Nggak bisa bertindak kalau ada masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s