Politik Luar Negeri Amerika Pasca-Bush

by LareSabin

Babak baru menjelang pilpres Amerika dimulai pekan lalu. Perdebatan antar-kandidat sudah mulai merambah ke isu politik luar negeri. Pemicunya adalah pernyataan Presiden George Bush di sela-sela kunjungannya ke Israel. Dalam pidatonya di depan parlemen Israel, Bush mempersoalkan kesediaan beberapa pihak di Amerika yang mau berdialog dengan ‘teroris dan kaum radikal.’

Meski tidak menyebut nama, terlihat jelas yang dituju Bush adalah Barack Obama, kandidat presiden dari Partai Demokrat. Dalam berbagai kesempatan Obama memang menyatakan kesediaannya berdialog dengan pemimpin dari negara-negara yang dianggap ‘musuh’ Amerika; seperti Iran, Korea Utara, dan Venezuela.


Gayung bersambut.

Obama menanggapi pernyataan Bush dengan serius. Kebijakan luar negeri Amerika di bawah Bush selama tujuh tahun terakhir dianggap sebagai sebuah kegagalan. Amerika dikucilkan oleh masyarakat internasional. Rakyat Amerika dijejali ancaman dan rasa takut. Politik luar negeri Amerika, tegas Obama, harus diubah total. Pendekatan keamanan harus diganti dengan kesediaan berdialog.

Kandidat presiden dari Partai Republik menambah ramai perdebatan dengan mengeluarkan pernyataan mendukung Bush. Ia juga mempertanyakan alasan Obama, misalnya, mau berunding tanpa syarat dengan Presiden Iran Ahmadinejad.

Meski Obama belum ditetapkan menjadi capres Demokrat, perdebatan tadi merupakan awal perdebatan mengenai kebijakan luar negeri AS. Demokrat mengedepankan dialog, Republik tetap dengan pendekatan keamanan.

Sebagai satu-satunya great power dalam politik global dewasa ini, kebijakan luar negeri Amerika memiliki peran penting. Dapat menjadi kontribusi positif, atau sebaliknya. Melihat kiprah Bush tujuh tahun terakhir, di Irak, di Afghanistan, di Guantanamo; rakyat Amerika akan menentukan pilihan pada bulan November. Apakah mereka akan memilih capres yang akan meneruskan kebijakan Bush; atau memilih capres yang menjanjikan perubahan. Kita di belahan dunia lain menunggunya sambil berharap.

Advertisements