Ke Chicago

Akhir pekan lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Chicago. Waktu berangkat Jumat siang, melihat airport San Francisco yang begitu padat, terbayang perjalanan bakal melelahkan. Maklum, musim panas telah tiba. Sekolah mulai libur. Saatnya keluarga Amerika bepergian ke luar kota. Seperti biasa, petugas imigrasi menyambut calon penumpang dengan wajah siaga. Sepertinya seluruh calon penumpang pesawat harus dicurigai.


Keamanan dibuat berlapis-lapis. Kadang seorang petugas lama tertegun memandang wajah calon penumpang, mencocokannya dengan foto yang terpampang di kartu tanda pengenal atau paspor. Terlebih jika foto di tanda pengenal berkumis tapi aslinya sudah dicukur rapi.

Jika terlihat sesuatu yang mencurigakan, tidak jarang tanda silang ditorehkan di boarding pass. Artinya, calon penumpang harus masuk ke kotak khusus untuk diperiksa secara seksama. Dengan teknologi tertentu, kecurigaan apakah ada yang sesuatu yang membahayakan dapat diketahui di kotak ajaib ini.
Keluar dari kotak, persoalan belum selesai. Sekujur tubuh kemudian dipindai. Perlu dibuktikan sekali lagi, apakah kondisi telah benar-benar aman. Jika terdengar bunyi beep, artinya pemeriksaan lanjutan harus dilakukan. Kadang diikuti dengan wawancara.
Bagi mereka yang boarding pass-nya ditandatangani (tidak dibubuhi tanda silang), tidak perhatian pemeriksaan selesai. Mereka harus menyerahkan barang bawaan untuk dipindai. Sepatu harus dicopot, demikian juga aksesoris yang terbuat dari logam seperti sabuk, arloji, gelang, dan kalung. Laptop juga harus dikeluarkan dari tas.
Ketika memasuki pintu detektor, seluruh aksesoris harus ditanggalkan. Jika ada benda logam yang tertinggal di badan, alarm akan berbunyi. Jika petugas sedang berbaik hati, ia akan mencari tahu sumbernya. Apakah kalung yang lupa dilepas atau arloji yang masih melingkar pergelangan tangan.
Kadang ada juga petugas yang tidak mau repot. Mendengar alarm berbunyi, ia memerintahkan calon penumpang masuk ke kotak detektor. Artinya, masih ada antrian yang harus dilewati.
Lolos dari pemeriksaan keamanaan, persoalan saya belum juga tuntas. Tidak ada nomor kursi di boarding pass yang saya genggam. Instruksinya jelas, silakan hubungi customer service di depan gerbang keberangkatan untuk pengaturan kursi. Melihat suasana airport yang demikian ramai, terbayang antrian panjang yang harus dilewati sekali lagi. Di customer service.
Benar saja, untuk mendapatkan kursi saya harus berdiri mengantri. Ada sekitar sepuluh calon penumpang lain di sepan saya. Jika setiap orang memerlukan waktu tiga menit, hanya harus berdiri sekurang-kurangnya 27 menit.
Untunglah, tidak lama saya berdiri terdengar pengumuman. Tidak perlu mengantri karena calon penumpang yang belum mendapatkan kursi akan dipanggil satu-satu. Saya pun mencari tempat. Belum lagi naik pesawat, capai sudah terasa.
Ketika penumpang dipersilakan naik pesawat, nama saya belum juga dipanggil. Saya tanyakan ke petugas, jawabannya tunggu sampai penumpang terakhir masuk pesawat. Untuk menghibur diri, saya membayangkan hal ganjil: berdiri naik pesawat. Seperti naik bus atau kereta api jika tempat duduk tidak didapat.
Akhirnya nama saya dipanggil juga dan boarding pass tanpa nomor kursi ditukar dengan yang bernomor kursi. Senang rasanya bisa masuk ke pesawat. Lebih senang ketika melihat nomor kursi yang tertera, 8E. Rupanya mereka berbaik hati, saya didudukkan di kelas ekonomi plus. Meski tetap bernama ekonomi, leg room-nya lebih luas. Posisinya juga di bagian pesawat, persis di belakang kompartemen bisnis.
Setelah semua penumpang duduk, pramugari mengabarkan pengumuman pertama hari itu. Pesawat belum bisa berangkat karena pilotnya belum ada. Rupanya pilot yang akan memegang kemudi sebelumnya bertugas di pesawat rute lain di penerbangan sebelumnya. Namun pesawat tersebut terlambat tiba. Akibatnya jadwal penerbangan pesawat yang saya tumpangi tertunda.
Tidak sampai seperempat jam, pilot datang. Karena duduk di dekat pintu pesawat, saya melihat sang pilot tersenyum saat memasuki pesawat yang akan dikenadalikannya. Ia juga minta maaf ke pramugari, karena keterlambatannya menyebabkan jadwal penerbangan terganggu.
Meski permintaan maaf itu tidak ditujukan kepada saya, mulut ini seperti mau mengeluarkan kalimat. Tidak apa-apa, yang pesawat bisa segera terbang.
Ternyata tidak demikian. Perlu sekitar 40 menit untuk menyiapkan pesawat. Hampir satu jam kamu menunggu. Pesawat belum berjalan, badan mulai diserang penat.
Akhrinya pesawat mengudara. Menuju Chicago, kota yang akan saya kunjungi untuk pertama kali.
Pesawat terus membubung tinggi. Melintasi awan. Meninggalkan airport San Francisco.
Advertisements

One Comment Add yours

  1. Bonjour…salam kenal dari HI Unpad..di pesisir kota Bandung…amateur blogger nih…need visit 4 support..ditunggu..kunjungan kenegaraannya…Carpe diem!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s