Inspirasi Dewaruci

Pada saat ingin menulis (lagi) di blog, saya menemukan buku karangan Cornelis Kowaas berjudul Dewaruci. Buku ini berkisah tentang perjalanan keliling dunia pertama kapal Dewaruci pada tahun 1964 dan diterbitkan kembali oleh Kompas.

Kenangan saya bergerak 25 tahun ke belakang, saat saya (belajar) membaca versi lama buku ini. Ejaan yang dipakai belum disempurnakan. Warna kertasnya putih kusam. Penjilidannya dengan teknologi benang. Saya menemukannya di antara buku-buku kepunyaan kakek.


Duduk di kelas 3 SD, besar di daerah pegunungan, dan belum pernah melihat laut; saya mencoba membaca buku Dewaruci. Yang muncul saat itu adalah imajinasi anak kecil, dengan pemahaman sepotong-sepotong.

Alat bantu untuk memahami kisah dalam buku tersebut boleh dikatakan tidak ada. Laut hanya pernah saya liat di televisi dengan layar masih hitam putih. Narasumber yang tahu tentang samudera atau kapal layar juga tidak ada ada sekeliling saya.

Dengan segala keterbatasan itu, yang muncul di benak bukannya kekaguman pada kadet-kadet Akademi Angkatan Laut yang dengan gagah berani berjuang mengatasi ganasnya ombak Samudera Hindia. Karena saya belum pernah melihat laut. Juga belum pernah naik kapal.

Sebaliknya yang muncuk di otak adalah imajinasi tentang tempat-tempat yang disinggahi Dewaruci. Imajinasi tentang negeri-negeri yang jauh. Mohon maklum. Pergi ke kota kecamatan, yang jaraknya hanya enam kilometer dari pintu rumah, bagi saya saat itu sudah merupakan perjalanan panjang.

Saya mulai membayangkan Ceylon, atau Sri Lanka. Lalu mereka-reka Pulau Socotra di Laut Merah. Kemudian terkesima dengan kota Port Said, semata-mata karena kombinasi bahasa Arab dan Inggris pada nama kota di Mesir tersebut.

Mungkin hanya beberapa lembar dari buku tersebut yang tuntas saya baca. Namun imajinasi tersebut membawa kesan yang demikian dalam. Sampai akhirnya terbentuk menjadi suatu keinginan. Jika besar nanti, saya ingin mengunjungi negeri-negeri yang jauh. Tidak sekadar kota kecamatan yang hanya berjarak enam kilometer tadi.

Masa berlalu, beberapa negeri yang jauh telah saya kunjungi. Apa yang kita baca pada masa kecil, saat angan dan pikiran mulai dirajut, ternyata bisa membekas demikian dalam. Setelah itu muncul imajinasi, kemudian inspirasi. Tahun berjalan, kita mengenangnya dengan senyum, atau sambil tertawa.

Terima kasih, Pak Kowaas. Terima kasih, Dewaruci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s