Menyikapi Kedatangan Obama

by LareSabin

Setelah dua kali ditunda, Presiden Amerika Serikat Barack Obama akhirnya jadi berkunjung ke Indonesia. Kunjungan Obama menarik perhatian banyak pihak. Bukan hanya karena Obama merupakan presiden negara terkuat di dunia. Atau karena dia menghabiskan sebagian masa kecilnya di Jakarta. Tetapi juga karena adanya rencana aksi demonstrasi menentang kunjungan tersebut.



Penolakan terhadap Obama menarik dicermati. Alasan yang diusung oleh mereka yang menolak adalah sikap Amerika yang terlalu pro-Israel, berat sebelah kepada Palestina, dan kebijakan mereka menduduki Irak dan Afghanistan.

Alasan yang digunakan tersebut semuanya berdimensi global. Artinya, alasan tersebut sudah diusung berkali-kali untuk mendemo pejabat Amerika, termasuk Obama. Tidak hanya pada saat pejabat tersebut melawat ke luar negeri. Tetapi juga demonstrasi yang dilakukan oleh warga Amerika, di negeri mereka sendiri.

Artinya, tidak ada yang baru dari alasan-alasan penolakan kedatangan Obama. Meski demikian, di Indonesia yang demokratis ini, tidak ada alasan untuk melarang seseorang atau sekelompok orang untuk menyampaikan pendapat.

Yang perlu dicermati adalah bagaimana cara menyampaikan pendapat tersebut. Mengingat alasan-alasan yang digunakan untuk menolak Obama sudah banyak disampaikan, tanpa demonstrasi besar-besaran pun Obama (dan juga publik Amerika dan masyarakat internasional) sudah tahu pesan yang disampaikan.

Dengan demikian, demonstrasi sebaiknya dilakukan secara simbolik saja. Cukup beberapa orang, tidak perlu mengerahkan massa dalam jumlah ribuan.

Pengerahan massa potensial mendatangkan masalah. Di tengah pengamanan yang begitu ketat, terbuka kemungkinan terjadi gesekan dengan aparat. Pengerahan massa, apalagi jika diikuti dengan aksi anarkis, juga membuat citra yang kurang baik tentang Indonesia. Karakter sebagai bangsa yang toleran, bangsa yang menghargai tamu yang bekunjung, akan sirna dengan aksi anarki.

Momen kunjungan Obama seharusnya dijadikan sebagai ajang dialog. Inilah saat yang tepat untuk menyampaikan aspirasi Indonesia dengan cara yang baik, dalam suasana yang hangat bersahabat. Apalagi Obama akan menyampaikan kuliah umum di Universitas Indonesia. Apalagi kunjungannya juga bernuansa romantis untuk mengenang masa kecilnya di Jakarta.

Sambutan yang kurang ramah hanya akan membuat citra Indonesia semakin terpuruk. Jika demikian, akan semakin sulit bagi Indonesia berperan di tingkat global untuk menyuarakan keberatan-keberaratan yang diusung para demonstran yang menolak kedatangan Obama.

Mengharapkan seorang presiden Amerika yang tiba-tiba menjadi anti-Israel adalah ‘hil yang mustahal.’ Namun setidaknya ada upaya Obama untuk menjalankan kebijakan yang lebih bersahabat dari pendahulunya. Jadi, mari kita sampaikan keberatan kita dengan cara-cara yang arif. Cara-cara yang bermartabat.

Advertisements