Nostalgia Kuliner Jogja

by LareSabin

Pilihan kata ‘kuliner’ di sini sebenarnya kurang tepat. Karena yang akan saya ceritakan adalah nostalgia makan kelas warung. Harganya tidak jauh dari ukuran kantong mahasiswa, sekitar limabelas tahun lalu.

Akhir pekan kemarin saya ditugaskan oleh kantor ke Yogya. Penginapan disediakan di Jalan Jenderal Sudirman. Saya kemudian berpikir untuk menikmati menu langganan saat menjadi mahasiswa. Pilihan jatuh pada tiga tempat di sekitar penginapan.

Tujuan pertama adalah tenda Mie Jakarta sebelah timur tugu. Tepatnya di depan Hotel Phoenix. Tidak ada yang istimewa dari warung tenda yang mulai buka jam lima sore ini. Penandanya adalah kain lusuh berwarna kuning dengan atap terpal oranye. Satu bangku dan meja disediakan di dalam tenda. Hanya muat untuk duduk lima orang. Selebihnya adalah gelaran tikar di trotoar. Dan menikmati mie di trotoar terasa lebih menyenangkan. Tentu saja jika hari tidak hujan.

Menu yang disediakan hanya satu: mie ayam pangsit. Entah mengapa saya menganggapnya enak, sejak pertama kali ‘menemukannya’ tahun 1994. Mie, cacahan daging ayam, dan dua potong pangsit goreng disajikan dalam satu mangkok. Kuah dan dua potong pangsit rebus disajikan dalam mangkok kecil terpisah.

Harga satu porsi Rp 6.500. Tahun 1994, jika tidak salah, harganya Rp 700! Ditambah es jeruk, saya mengeluarkan Rp 8.000.

Esok harinya, saat jam makan siang, Ayam Goreng Ninit jadi tujuan. Lokasinya di Jalan C. Simanjuntak, Terban. Agak mengejutkan, Ninit yang saya kunjungi tidak seperti medio 1990-an. Warungnya lebih luas, tapi suasana khasnya seakan hilang. Mungkin karena sekarang mereka juga menjual menu makanan biasa, selain ayam goreng.

Satu potong dada atas goreng dihargai Rp 6.500. Nasi dihargai Rp 2.000 per porsi. Ketika disuguhkan, ayam terasa lebih garing. Tidak seperti dulu, cita rasa bacem tidak begitu terasa. Hanya sambalnya yang masih terasa seperti limabelas tahun lalu.

Tujuan terakhir adalah warung makan di area parkir sebelah selatan Pasar Beringharjo, masih masuk area Maloboro. Menu yang saya pilih adalah nasi, oseng kikil (kulit sapi) cabai hijau, dan tumis daun pepaya. Mbah yang jualan mengguyurnya dengan sedikit kuah gulai. Biar lebih nikmat, katanya.

Memang luar biasa nikmatnya. Sambil mengunyah pelan, pikiran melayang ke jaman mahasiswa dulu. Sabtu sore naik bis kota ke Malioboro, pulangnya kebingungan karena bis kota berehenti beroperasi jam tujuh malam. Naik taksi tidak ada ongkos. Akhirnya malam minggu diisi dengan long march dari Malioboro ke Jalan Kaliurang.

Nikmatnya sego kikil saya nikmati suapan terakhir. Ketika saya tanya harga plus satu gelas es jeruk, si Mbah menjawab sambil bercanda: sembilan juta. Ya, dengan Rp 9.000 saya kembali ke masa lalu yang mengenyangkan.

Napak tilas ke tiga tempat di atas adalah kenikmatan. Sayang sekali, dua hari di Yogya saya tidak berkesempatan mampir ke angkringan. Lain kali, kalau mampir, akan saya ceritakan di blog ini.

Advertisements