Peristiwa Trenggalek: Mengapa Penyelundupan Manusia Terjadi?

Membaca berita tentang tanggelamnya kapal berpenumpang warga negara asing di perairan Trenggalek, Jawa Timur; banyak pertanyaan terlontar. Siapa penumpang kapal-kapal itu? Mengapa mereka berada di Indonesia? Mengapa mereka nekad berlayar, meski tahu kapalnya kelebihan kapasitas? Mengapa mereka menuju ke Australia?

Peristiwa Trenggalek – dan juga sejumlah peristiwa serupa yang terjadi sebelumnya – merupakan fragmen dari alur cerita yang lebih besar tentang penyelundupan manusia. Atau people smuggling dalam bahasa Inggris. Inti ceritanya adalah penyelundupan orang atau sekelompok orang dari suatu tempat ke negara tujuan dengan cara melanggar hukum, tidak melalui prosedur keimigrasian yang wajar. Biasanya orang yang diselundupkan memberikan imbalan materi kepada pihak yang menyelundupkan.

Jadi, ada kesadaran dari pihak yang ingin diselundupkan. Dan biasanya mereka memiliki alasan mengapa ingin diselundupkan negara lain. Ada yang merasa terancam karena alasan politik di negara asalnya. Ada yang telah ditampung badan pengungsi PBB (UNHCR) bertahun-tahun, namun tak kunjung mendapatkan negara yang mau memberi suaka. Tetapi banyak juga karena faktor ekonomi. Intinya, mereka mencari kehidupan yang lebih baik.

Celakanya, alur cerita ternyata tidak sederhana. Kadang mereka tidak menyadarai hal itu. Mungkin karena kekurangtahuan. Sebagian karena ada faktor nekad tadi.

Kisah rekaan berikut dapat dijadikan contoh, untuk menggambarkan bagaimana sebuah kasus penyelundupan manusia terjadi.

Fulan tidak lagi merasa nyaman hidup di Kabul, Afghanistan. Sebagai bagian dari rejim masa lalu, dia merasa hidupnya terancam. Dia kemudian melarikan diri ke negeri tetangga, Pakistan. Harapannya, dia akan mendaftarkan diri sebagai pengungsi di kantor UNHCR di Pakistan dan segara mendapatkan negara ketiga yang meu menerimanya secara permanen. Sebagai catata, negara tujuan pengungsi biasanya adalah negara maju.

Nasib Fulan ternyata tidak begitu baik. Ternyata antrian pengungsi begitu panjang. Ada jutaan orang Afghanistan lain yang memiliki harapan sama. Sementara jatah yang diberika negara penerima pengungsi terbatas. Negara-negara tersebut juga memiliki kriteria khusus dalam menerima pengungsi.

Setelah dua tahun tanpa kepastian, Fulan meninggalkan Pakistan menuju – katakanlah – Malaysia. Tentu saja dengan segala upaya untuk mendapatkan dokumen perjalanan yang diakui. Kisah di Pakistan terulang lagi di Malaysia. Fulan menemukan kawan senasib, dan mereka sepakat untuk menyeberang dengan kapal ke Indonesia.

Setelah upaya melalui jalur resmi gagal, mereka memutuskan mencoba jalur tidak resmi. Biasanya yang menjadi tujuan adalah Australia. Mengapa Australia? Negeri Kanguru tersebut adalah pihak pada Konvensi PBB tentang Pengungsi tahun 1951. Mereka berkewajiban menampung ‘orang dengan status pengungsi’ yang memasuki wilayahnya. Selain itu Australia dikitari laut. Mereka berpikiran perjalanan ke Australia dapat ditempuh melalui laut.

Situasi ini dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan internasional. Ada ribuan orang seperti Fulan, dalam kondisi antara pasrah dan nekad. Mereka ingin menuju ke Australia, bagaimanapun caranya. Secara psikologis, mereka lelah dan telah menemui banyak ketidakpastian. Berapa pun akan mereka bayar, agar diseberangkan ke Australia. (Tidak heran jika ada korban peristiwa Trenggalek mengaku membayar 4000 dolar AS ).

Lanjutan cerita, terkumpul 300 orang seperti Fulan. Mereka tidak hanya berasal dari Afghanistan, tetapi juga dari negara-negara lain seperti Iran dan Irak. Sebagian memiliki kisah serupa dengan Fulan. Ada juga yang datang ke Indonesia dengan dokumen perjalanan resmi. Dengan paspor dan visa yang sah. Tujuan mereka sama: Australia. Mereka juga bersedia diseberangkan secara irregular alias tidak sesuai ketentuan yang berlaku.

Sindikat kejahatan kemudian menjalankan aksinya. Mereka mencari perahu dan anak buah kapal yang bersedia mengemudikannya. Namanya penjahat, sering kali mereka menggunakan tipu daya. Pada beberapa kasus, anak buah kapal tidak diberi tahu muatan apa yang ada di kapal. Tujuan kapal juga diberitahukan last minute. Sementara mereka telah diberi persekot, upah di muka. Karena upah sudah habis digunakan (membayar jeratan utang, misalnya); tidak ada pilihan lain kecuali mengemudikan kapal ke Pulau Christmas yang masuk wilayah Australia.

Akhirnya peristiwa Trenggalek terjadi. Kapal karam karena kelebihan beban. Yang selamat mungkin hanya seperlimanya. Penumpang yang selamat larut dalam duka karena keluarganya hilang. Mereka juga marah karena merasa ditipu. Sudah membayar mahal tetapi diberi kapal yang tidak layak.

Harapan akan kehidupan yang lebih baik di negeri impian pupus di tengah jalan. Mereka tidak punya pengetahuan tentang ombak Laut Selatan yang ganas. Terlebih ombak musim penghujan di bulan Desember. Harta benda mereka terkuras habis. Anak buah kapal juga menjadi pesakitan. Upah tidak seberapa yang mereka terima berujung malapetaka.

Yang tertawa adalah sindikat internasional yang mengendalikan semua ini. Ironisnya, keberadaan mereka kerap tidak diketahui. Lenyap membawa lari keuntungan finansial yang didapatnya. Dan siap menerkam calon korban baru. Masih banyak Fulan-Fulan lain yang berkeliaran.

Pada beberapa kasus, kapal mencapai tujuan. Penumpang yang bisa membuktikan diri sebagai pengungsi yang diakui PBB mendapatkan hak-haknya di Australia. Sementara anak buah kapal Indonesia menjadi pesakitan. Mereka adalah pelaku kejahatan, karena membawa secara tidak sah orang-orang ke Australia. Ganjarannya adalah penjara Australia. (Saat ini ada sekitar 500 WNI yang ditahan di penjara Australia dengan tuduhan terlibat dalam penyelundupan manusia. Ironis.)

Peristiwa Trenggalek menyadarkan kita. Penyelundupan manusia merupakan kejahatan dengan banyak faktor yang saling terkait. Konflik di negara asal. Ketimpangan kesejahteraan. Oknum aparat yang memungkinkan mereka masuk ke Indonesia. Peraturan yang memiliki celah untuk dimanfaatkan. Sindikat internasional yang lihai dan rapi dalam bekerja. Kebijakan imigrasi negara maju yang cenderung tidak bersahabat. Kemiskinan di kalangan nelayan. Dan seterusnya.

Singaktnya, perlu kerja keras banyak pihak untuk menyelesaikan masalah penyelundupan manusia ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s