Sang Penari

Ada dua alasan mengapa saya menonton film Sang Penari. Pertama, saya membaca novelnya saat duduk di bangku SMA. Novel  yang mengagumkan. Dengan pilihan kata-kata yang jitu, Ahmad Tohari mampu membawa pembacanya ke alam pedesaan yang damai namun penuh dengan kegetiran hidup penghuninya.

Kedua, setting film (seperti juga novelnya) adalah daerah pedesaan di Purwokerto, Jawa Tengah. Saya menghabiskan masa kecil di sebuah desa, sekitar duapuluh kilometer arah baratlaut Purwokerto. Menonton film ini, saya berandai-andai, dapat menjadi wisata emosional ke masa lalu.

Perkiraan saya tidak salah. Seperti novelnya, Sang Penari juga patut diacungi jempol. Suasana pedesaan yang bersahaja namun muram tergambar dengan baik. Sang sutradara dengan piawai dapat meramunya dengan bumbu cinta, eksotisme budaya lokal, dan politik.

Menonton Sang Penari, ingatan saya melayang ke kampung halaman. Dengan setting yang berbeda, Dukuh Paruk adalah potret kampung saya di tahun 1960-an. Atas nama politik, rakyat kecil diperalat dan, pada akhir cerita, jatuh sebagai korban. Dendam pribadi dan keluarga disederhanakan menjadi warna kendaraan politik. Ketika satu pihak kalah, warna itu meninggalkan luka. Luka yang perlu waktu lama untuk disembuhkan.

Pada tokoh Srintil saya melihat sosok perempuan pedesaan masa kini. Srintil menjadi penari ronggeng untuk mengangkat harkat keluarganya. Dengan resiko yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dengan alasan yang hampir sama, banyak perempuan di pedesaan yang terpaksa, misalnya, menjadi buruh migran. Tujuannya adalah menggapai kemakmuran, karena laki-laki semakin sulit mendapat kerja. Sebagian dapat menggapai impiannya. Yang lain, seperti Srintil, berakhir dengan duka.

Menonton Sang Penari seperti menyaksikan kegetiran. Kegetiran yang sampai sekarang masih banyak kita jumpai. Yang membuat saya tertawa adalah bagaimana dialek Banyumasan dilafalkan dengan cukup sempurna, hampir di sepanjang cerita.

Di tengah cerita yang getir, saya menertawakan diri sendiri. Pada akhirnya, menertawakan diri sendiri adalah satu-satunya pilihan solusi yang ada. Penyembuh luka akibat serangkaian kemalangan.

Sang Sutradara menutup cerita dengan sempurna. Srintil tertawa lepas, berlarian bersama Sakum penabuh gendang. Tawa untuk meluruhkan hati yang perih akibat derita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s