Mencium Tangan Gus Dur

by LareSabin

Di kalangan santri, mencium tangan seseorang yang dihormati – seperti kyai – merupakan hal yang lumrah. Ritual ini adalah bentuk penghormatan. Biasanya juga merupakan harapan agar didoakan oleh orang yang dihormati tersebut.

Mencium tangan Gus Dur, yang dianggap memiliki status istimewa di antara kyai dan ulama, merupakan sebuah momen khusus yang tidak bisa dialami setiap orang. Selain itu, untuk bisa bertemu dengan tokoh sekaliber Gus Dur bukan hal yang mudah.

Meski tidak mengenyam pendidikan di pesantren, mencium tangan juga menjadi bagian dari budaya di kampung saya. Maklum, generasi orang tua saya  umumnya adalah lulusan pesantren. Sekolah ‘umum’ belum banyak dijumpai di jaman mereka.

Pada bulan Maret 2006, saya bepergian dari Jakarta ke Yogyakarta. Pesawat tidak juga berangkat, padahal sudah cukup lama saya duduk di kursi penumpang. Ternyata, setelah awak kabin mengumumkan, Gus Dur akan menggunakan pesawat yang sama. Karena keterbatasan fisik, beliau terlambat masuk ke pesawat. Saat itu tidak ada pikiran lain yang terlintas, selain tambahan pengetahuan bahwa Gus Dur terbang dengan pesawat yang sama.

Mendarat di Yogya, awak kabin mengumumkan bahwa Gus Dur akan meninggalkan pesawat setelah penumpang yang lain turun terlebih dahulu. Karena beliau duduk di kelas bisnis deretan terdepan, saya harus melewati kursi yang ditempati Gus Dur.

Saat melewati kursi Gus Dur, tiba-tiba terlintas pikiran untuk mencium tangannya. Maklum, seumur-umur belum pernah berinteraksi langsung dengan Gus Dur. Paling banter cuma membaca buku-bukunya.

Akhirnya dengan tekad bulat saya membungkukkan badan dan mencium tangan Gus Dur. Dengan bahasa Jawa, saya mohon doa beliau. “Nyuwun berkahipun, Gus.”

Kaget karena ada yang mencium tangannya – juga karena keterbatasan penglihatan – Gus Dur bertanya kepada sang istri yang duduk di sebelahnya, juga dalam bahasa Jawa. “Sopo kuwi?”

Terburu-buru mau turun dari pesawat, saya tidak ingat jawaban Ibu Shinta Nuriyah. Mungkin beliau menerangkan kalau yang baru saja mencium tangan adalah penumpang pesawat. Just ordinary passenger.

Begitulah. Ketika berinteraksi dengan kolega dengan latar belakang pesantren, dengan bangga saya ceritakan jika saya pernah mencium tangan Gus Dur. Walau kejadiannya di pesawat, bukan di pengajian atau kajian keilmuan, hehehe….

Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untuk Almarhum Abdurrahman Wahid. Amin.

Advertisements