Penyanyi Buta di Jantung Kota Wina

by LareSabin

Suara merdu sayup terdengar di tengah udara dingin kota Wina, Austria. Senja baru saja turun. Alam mulai gelap, cahaya mentari berganti lampu jalan yang berpendar. Suara merdu itu seperti menciptakan keheningan, di tengah hiruk-pikuk orang lalu-lalang.

Sabtu sore (28 Januari) di Zentrum, pusat kota Wina. Udara musim dingin terasa begitu menusuk. Angin bertiup pelan, tapi sudah cukup untuk membuat hawa menjadi semakin dungin. Lampu jalan mulai berpendar. Orang-orang masih ramai lalu-lalang. Semua membalut tubuh dengan jaket tebal dan tutup kepala. Sungguh musim dingin yang membuat sengsara.

Aku baru turun dari kereta bawah tanah yang menghubungkan setiap sudut kota Wina. Awalnya ingin kunikmati  indahnya gedung-gedung klasik peninggalan jaman pertengahan Eropa. Namun udara begitu dingin. Tubuh yang terbiasa berpeluh di negeri tropis tidak terbiasa. Akhirnya tujuan kualihkan ke Westbahnhof Mall. Udara di pusat perbelanjaan jauh lebih hangat.

Jam enam sore aku harus kembali ke Zentrum. Mobil yang akan mengantarku ke bandara menunggu di sana. Dari Westbahnhof, perjalanan ditempuh dengan kereta bawah tanah yang nyaman. Bersih dan terawat. Para penumpangnya juga begitu tertib. Rata-rata hanya diam sepanjang perjalan. Jika harus membuka suara, obrolan mereka seperlunya saja. Tidak seperti penumpang kereta listrik di Jakarta. Ramai cenderung lebay.

Kereta U-bahn jalur U3 berhenti di stasiun Stephanplatz. Aku bergegas naik melewati peron. Udara dingin segera menghadang. Kuberjalan setengah berlari untuk mengusir dingin. Sekilas kulihat Katedral St. Stephan yang berdiri megah. Temaram senja semakin menambah keanggunannya.

Langkah tergesaku tiba-tiba terhenti. Sayup kudengar suara merdu melagukan Santa Lucia. Datangnya pasti bukan dari pemutar musik di butik-butik yang banyak bertebaran di Zentrum. Suara merdunya begitu murni. Sehingga aku yakin kalau dia menyanyikannya tanpa bantuan pengeras suara.

Semakin aku melangkah, suara merdu semakin dekat. Benar saja. Akhirnya aku lihat sumber suara merdu itu, seorang laki-laki bernyanyi di emperan toko yang telah tutup. Baju dan topi musim dingin membalut tubuhnya. Tangan kanannya memegang tongkat. Tangan kiri ditekuk, memegang ember kecil. Hitam warnanya. Tempat uang tentu saja, untuk pelancong yang ingin memberi sedikit penghargaan untuk kemerduan suaranya. Di dekat kaki kirinya tergeletak pemutar disk. Dari situ mengalun musik pengiring lagu.

Penyanyi buta itu tidak hanya menggentikan langkahku, tapi juga mengusir dingin dari tubuhku. Seperti tersihir, aku mencari tempat duduk tidak jauh dari tempatnya  bernyanyi. Kunikmati lagu Santa Lucia sampai selesai.

Lagu berikutnya yang dilantunkan adalah O Sole Mio. Benar-benar membuatku merasakan suasana Eropa. Aku nikmati setiap bait syairnya, meski tidak paham makna dan artinya.

Seperti paham seleraku, sang penyanyi kemudian melantunkan Besame Mucho. Benar-benar penutup hidangan yang sempurna. Dilahukan dengan gaya opera, lagu Spanyol ini terasa begitu istimewa.

Hampir jam enam. Aku harus segera ke mobil, yang menunggu tiga blok dari tempat sang penyanyi. Terpaksa Besame Mucho menjadi lagu terakhir. Beranjak dari tempat duduk, kuletakkan beberapa koin di ember hitamnya. Danke. Katanya lembut dan lirih.

Segera kutinggalkan Zentrum menuju airport. Malam ini kutinggalkan Wina, kembali ke Jakarta. Dan merdu suara penyanyi buta itu menemaniku. Sepanjang perjalanan pulang.

Advertisements