Bangsa yang Ramah?

by LareSabin

Kesemrawutan lalu lintas di Jakarta yang terjadi hampir setiap hari, tawur antar warga, dan aksi premanisme yang kian tak terkendali memunculkan pertanyaan di benak. Apakah kita layak mengaku sebagai bangsa yang ramah?

Ramah-tamah adalah merk yang selalu kita unggulkan jika kita bicara tentang bangsa ini. Spesifikasinya mencakup sopan santun, penghormatan terhadap orang lain, mendahulukan orang tua dan kelompok cacat, mengutamakan kepentingan umum, dan seterusnya. Semua serba ideal dan masih saja diagung-agungkan.


Kenyataan yang terjadi luar biasa berbeda. Berkendara tanpa aturan sudah menjadi santapan sehari-hari. Berhenti saat lampu hijau, jalan saat merah sering kita jumpai. Begitu juga motor yang nyelonong ke trotoar (sudah trotoarnya terbatas, masih direbut oleh pedagang dan motorists). Padahal, kata orang bijak, kondisi lalu lintas menunjukkan kepribadian suatu masyarakat. Jika ini benar, entah kepribadian seperti apa yang kita miliki saat ini.

Terakhir kita dikejutkan dengan aksi premanisme di sebuah rumah sakit milik tentara. Siapa yang tidak akan menghela nafas. Aksi brutal secara leluasa terjadi di instansi militer – yang lazimnya identik dengan penjagaan yang ketat. Lalu siapa yang dapat menjamin kalau aksi serupa terjadi di tempat-tempat biasa, tempat khalayak ramai berinteraksi sehari-hari?

Kemudian kepada siapa kita harus menggantungkan harapan tentang kepastian hukum? Jika preman itu sedang mencari penunggak hutang atau memburu kelompok pesaingnya, bagaimana kalau salah sasaran? Banyak di antara kita yang memiliki kemiripan wajah dan perawakan, termasuk mirip dengan orang berprofesi sebagai preman.

Membaca koran pagi ini, saya teringat sepuluh tahun lalu di Canberra. Saya datang ke kota itu untuk belajar, pengalaman pertama hidup di negeri orang. Hari kedua saya mengikuti sesi pengenalan kota, bagaimana hidup sehari-hari di Canberra. Pelajaran yang saya ingat benar adalah keharusan untuk “uluk salam” atau menyapa pengemudi pada saat naik bis umum dan mengucapkan terima kasih ketika turun.

Awalnya terasa aneh. Masa sih harus begitu. Saya membatin setengah tidak percaya. Beberapa hari kemudian, saat mulai menggunakan transpotasi umum, keramah-tamahan ini benar-benar saya jumpai. Nyata. Penumpang naik, memasukkan koin atau tiket sambil menyapa pak sopir. Yang paling pelit hanya berucap hi atau hello. Inipun sudah cukup. Yang pemurah mengucapkan how are you going. Pak sopir sambil tersenyum menjawab fine. Atau jika sedikit muram akan menjawab not bad.

Saat turun juga begitu. Penumpang akan mengucapkan terima kasih dan sopir akan menjawan dengan no worries alias ngga papa. Bahkan sering ditambah dengan have a good day, mate. Begitu saya jumpai selama dua setengah tahun di sana.

Interaksi antara pengemudi dan penumpang membuat masing-masing pihak merasa nyaman. Pengemudi merasa pekerjaannya dihargai dan hal ini membuatnya merasa lebih bertanggung jawab. Penumpang juga merasa aman dan nyaman dalam bepergian.

Di Jakarta suasana seperti itu merupakan barang mahal. Kewajiban penumpang bukan mengucapkan terima kasih kepada sopir atau kondektur. Tapi mempelajari ilmu turun dari bus saat bus masih melaju. (Maklum, waktu sedemikian berharga hingga menginjak rem secara penuh agar mobil berhenti susah dilakukan).

Pelanggaran tentu ada di setiap kelompok. Ada juga penumpang yang main selonong.Atau pengemudi yang enggan menjawab salam. Namun persentasenya kecil. Lebih banyak yang mempraktekkan kebiasaan di atas. Dan lebih penting lagi, kebiasaan saling menyapa ini sudah dianggap sebagai budaya. Guru mengenalkannya kepada murid-murid di sekolah. Pihak univeritas mengenalkannya kepada mahasiwa asing. Sehingga semua yang hidup di Canberra memahami budaya baik ini.

Ah, mungkin saya terlalu jauh membandingkan dengan hidup di luar negeri yang serba teratur. Sementara di Jakarta keadaannya ya begini ini. Jalan macet. Pengemudi Mayasari harus mengejar setoran. Pengemudi Transjakarta kesel karena jalurnya diserobot motor dan mobil dengan plat nomor khusus. Bagaimana mau ramah dengan yang lain?

Akhirnya kita dihadapkan pada dua pilihan: berubah atau menyerah pada keadaan. Jika kita memilih yang kedua, generasi setelah kita tidak akan pernah tahu seperti apa sebenarnya hidup yang “normal.” Yang mereka anggap normal ya lalu lintas yang semrawut dan sikut-sikutan di jalan (dan di semua aspek kehidupan). Karena itu yang mereka saksikan sehari-hari.

Mudah-mudahan kita masih memiliki kesadaran dan waktu untuk memperbaiki.

Advertisements