Pernah Singgah: Buenos Aires, Argentina

by LareSabin

Entah mengapa saya suka dengan yang berbau Argentina. Mungkin karena kemenangan mereka di Piala Dunia (sepakbola) 1986 di Mexico. Saat itu saya masih kelas 6 sekolah dasar. Dini hari saya bangun untuk menonton partai final di televisi hitam putih milik tetangga. Argentina menang atas Jerman (Barat). Sejak itu saya selalu menjagokan Argentina di setiap Piala Dunia. (Mau mendukung Garuda, timnas kita entah kapan akan berlaga di perhelatan olahraga paling kesohor sejagat itu)

Seiring dengan waktu, saya mulai mengenal Argentina lewat literatur. Setelah menonton film musikal Evita yang dibintangi Madonna – kisah perempuan kesayangan Argentina Evita Peron, saya mulai penasaran untuk melihat langsung negeri Tango ini.

1328873761363514933

The Obelisk (Sumber: Wikipedia)

 


Pucuk dicinta ulam tiba ternyata masih berlaku. November 2006 saya berkesempatan mengunjungi Buenos Aires. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Saya tiba hari Minggu, di musim panas bumi belahan selatan. Sepanjang perjalanan dari bandara siang itu jalanan terasa lengang. Toko-toko tutup. Pusat keramaian terlihat sepi. Rupanya hampir semua aktivitas berhenti pada hari Minggu di negara yang mayoritas penduduknya bergama Katolik ini. Hampir saya mendapat kesan yang salah tentang Buenos Aires sebagai kota yang kosong.

Apalagi saat melintas di tugu El Obelisco atau The Obelisk – Monas-nya Argentina. Avenida 9 de Julio atau Jalan 9 Juli yang menuju ke tugu terlihat begitu lapang dan lengang. Lalu lintas sepi. Padahal jalan ini terdiri dari 9 lajur. Bayangkan, 9 lajur dan sedikit sekali kendaraan yang melintas. Terasa begitu hening.

Bangunan-bangunan di sepanjang jalan bergaya Eropa klasik. Menurut cerita, bangunan kuno itu dibangun dengan bahan berkualitas terbaik. Rata-rata diimpor langsung Eropa. Pada saat membangun gedung-gedung itu, Argentina abad ke-18 dan ke-19 adalah negeri yang makmur. Salah satu negara termakmur di dunia. Mereka adalah penghasil bahan tambang perak terbesar di dunia kala itu. Karena kualitas material yang oke, bangunan-bangunan itu masih kokoh berdiri sampai sekarang.

Esoknya saya berkesempatan mengikuti guided tour keliling kota. Salah satu objek yang disinggahi adalah distrik La Boca. Yang terkenal di distrik itu adalah kawasanCaminito, tempat lahirnya tarian khas Tango. Menurut sebuah riwayat, awalnya Tangoadalah tarian kalangan kelas pekerja, dibawakan untuk mengisi waktu luang. Lama-lama, peminat tarian tersebut meluas keluar dari Caminito dan mulai disuka kalangan atas. Setelah itu Tango menjadi tari nasional Argentina.

Bangunan apartemen, toko souvenir, kafe, dan restoran dicat dengan warna menyala. Warna-warni bangunan itu menjadi ciri khas Caminito. Selain itu turis juga bisa menyaksikan seniman menarikan Tango di pinggir jalan. Sangat eksotis. Turis juga dapat berpose dengan sang penari. Tentu saja dengan gaya seperti penari handal.

La Boca juga merupakan lokasi Estadio de la Bombonera, kandang klub Boca Juniors. Klub sepakbola ini merupakan idola kelas pekerja menengah ke bawah di Buenos Aires. Maradona, yang mengawali karirnya di sini, dipuja layaknya dewa oleh fans klub. Warna kebanggaan Boca Juniors, biru dan kuning, terlihat dominan di sekitar stadion.

Objek menarik lainnya adalah La Casa Rosada atau Rumah Pink. Warnanya memangpink, padahal fungsinya adalah sebagai istana kepresidenan. Namun warna pink tidak mengurangi wibawa istana presiden ini.

Istana terletak di dekat Plaza de Mayo, alun-alun nasional Argentina. Setiap hari Kamis di Plaza de Mayo digelar kegiatan untuk mengenang mereka yang hilang pada saat Argentina dikuasai junta militer tahun 1960-an sampai pertengahan 1970-an. Foto-foto mereka yang dihilangkan secara paksa oleh junta militer dipajang. Ibu-ibunya berpawai tak kenal lelah, seolah anak-anak mereka yang hilang puluhan tahun silam itu akan kembali. Ibu-ibu beranjak tua, masyarakat dan simpatisan mulai banyak bergabung. Ritual ini sangat terkenal dan menjadi inspirasi. Termasuk ditiru oleh ibu-ibu korban Tragedi Trisakti di Jakarta.

13288738101831604366

La Casa Rosada (Sumber: Wikipedia)

 

Peternakan adalah salah satu sumber ekonomi Argentina. Tidak heran jika daging mendominasi kuliner negeri ini. Makan daging mungkin hal biasa. Namun menikmatinya ala Argentina benar-benar luar biasa. Bayangkan saja, sapi dipotong jadi empat atau lima bagian dibakar di tengah restauran. Pengunjung tinggal datang membawa piring, tunjuk bagian mana yang ingin dinikmati, dan katakan porsinya sebesar apa. Tergantung kekuatan perut dan ada tidaknya pantangan. Membeli sate kiloan di tanah air rasanya menakjubkan. Apalagi makan daging sepuasnya, dalam arti yang sebenarnya. Mereka yang kemaruk bisa mabuk daging .

Berkunjung ke Argentina kurang lengkap tanpa melihat pertunjukan Tango. Malam terakhir di Buenos Aires saya berkesempatan menontonnya langsung, di rumah pertunjukan yang menyajikan paduan makan malam dan pertunjukan musikal. Tema yang disuguhkan adalah romantika di sela perjuangan merebut kemerdekaan Argentina.

Plotnya sederhana. Skenarionya mudah ditebak. Seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara harus meninggalkan kekasihnya, berjuang mengangkat senjata merebut kemerdekaan. Cerita terus bergulir. Ada adegan memadu kasih yang romantis. Adegan peperangan yang menggelegar, kisah sedih tentang mereka yang gugur di medan laga. Semua disajikan dalam tarian Tango yang memesona. Sampai akhirnya cerita berujung dengan kemerdekaan Argentina. Bendera biru-putih-biru berkibar. Alur cerita yang sederhana namun menakjubkan. Disertai bumbu nasionalisme yang tidak dibuat-buat.

Malam itu saya tidur nyenyak. Keinginan melihat Argentina terwujud. Dalam tidur, alunan suara Madonna menyanyikan lagu Don’t cry for me, Argentina sayup terdengar.

Don’t cry for me Argentina
The truth is I never left you
All through my wild days
My mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance

Advertisements