Orang Pandai Kalah dari Orang Beruntung

by LareSabin

“Wong pinter kalah karo wong bejo.”

Orang pintar kalah dari orang beruntung. Saya mendengar lagi kalimat bijak dari Jawa ini dua malam lalu. Uniknya, saya mendengar dari dua orang bukan Jawa yang sedang berbincang. Mereka sedang menganalisis cara memandang hidup ala budaya Jawa. Kejadiannya di warung tenda ayam taliwang, seberang Taman Makam Pahlawan Kalibata. Saya sedang duduk sendirian menunggu menu pesanan. Mereka berdua datang belakangan, duduk di meja sebelah.

Segera angan saya melayang ke masa SMA, duapuluh tahun silam. Saya bersekolah di Magelang, orang tua saya tinggal di Purwokerto. Tahun 1990 telepon seluler belum menjadi konsumsi umum. Rumah kami jauh di desa, belum terjangkau sambungan telepon milik Telkom. (Bahkan sampai hari ini!) Alat komunikasi saya dengan orang tua adalah surat. (Sesuatu yang aneh untuk anak SMA jaman sekarang, yang sudah terbiasa dengan telepon seluler, SMS, dan BBM)


Seperti biasa saya ingin membuat Bapak dan Ibu bangga dengan kondisi anaknya di rantau. Isi surat selalu mengabarkan kondisi di asrama baik-baik saja. Everything is fine and under control. Singkatnya begitu. Dan Bapak akan membalas dengan tulisan tangannya yang rapi. Isinya nasehat.

Entah surat keberapa, saya mulai menulis cerita tentang kisah sukses di SMA. Dapat nilai lumayan bagus. Aktif di OSIS. Banyak kegiatan ekstra kurikuler. Dan seterusnya. Selain untuk membuat orang tua senang membacanya, ini adalah penerapan prinsip akuntabilitas alias keterbukaan. 🙂

Seperti biasa Bapak membalas surat penuh dengan nasehat. Salah satunya dengan mengutip petuah di atas: bahwa orang pintar kalah dari orang beruntung. Wong pinter kalah karo wong bejo. Bolehlah kau, Nak, menjadi orang pintar. Tapi orang pintar masih kalah sama orang beruntung.

Membacanya saya mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin orang yang hanya karena beruntung lebih tinggi derajatnya dari orang pintar? Lalu apa gunanya saya belajar keras agar menjadi pintar – atau setidaknya dianggap pintar? Jika ternyata kepintaran itu akan kalah oleh keberuntungan.

Protes itu lama saya pendam. Berdebat dengan orang tua bukan adat yang baik jaman itu. Jadi saya mencoba mencari jawaban sendiri. Benarkah orang pintar kalah dari orang beruntung?

Setamat SMA saya menemukan jawabannya. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, orang tua saya tidak akan mampu membiayai kuliah. Sementara saya ingin kuliah di UGM, universitas impian sejak kecil. Saya tidak ingin bergabung dengan kawan-kawan yang memilih melanjutkan studi ke lembaga pendidikan kedinasan yang gratis. Saya ingin kuliah di UGM, tanpa bisa membayangkan bagaimana membiayai impian tersebut.

Ternyata Tuhan memberikan jalan. Sebuah BUMN membuka kompetisi beasiswa, dan saya berhasil lolos sebagai penerima beasiswa. Saya juga diterima di UGM. Namun, seorang dermawan menawarkan pilihan lain. Beliau, seorang purnawirawan pati, menawarkan untuk membiaya kuliah saya. Jika dibiayai BUMN itu, kamu harus bekerja sebagai pegawainya. Jika mau menerima tawaran saya, kamu bebas bekerja dimana saja. Demikian pesan Bapak yang dermawan ini.

Setelah berkonsultasi dengan orang tua, akhirnya saya putuskan untuk menerima tawaran Bapak yang dermawan tersebut. Sebagai informasi, beliau adalah ketua yayasan yang menaungi SMA tempat saya bersekolah. Dalam kapasitas sebagai ketua yayasan, beliau telah mendapatkan informasi tentang saya selama duduk di SMA.

Wah, Anda beruntung. Begitu komentar orang-orang, mendengar Bapak yang dermawan itu membiaya kuliah saya. Memang, saya merasa beruntung. Dan saat itu saya teringat nasehat Bapak. Ternyata keberuntungan tidak datang begitu saja. Bapak yang dermawan itu membiayai kuliah saya karena menganggap saya pintar. Sebagai ketua yayasan, beliau aktif mengamati perkembangan di SMA saya. (Mungkin saya GR, tapi setidaknya itulah informasi yang saya terima)

Begitulah. Protes saya terhadap surat Bapak terjawab sudah. Orang pintar kalah dari orang beruntung. Tapi untuk menjadi “beruntung”, kita harus terlebih dahulu menjadi “pintar.”

Terima kasih, Bapak.

Terima kasih, Bapak angkatku yang dermawan.

Advertisements