Mudahnya Pindah Sekolah ke Austria

Hari ini anak-anakku mulai masuk sekolah, sekitar dua minggu setelah mereka meninggalkan Jakarta. Yang sulung masuk kelas 3 sekolah dasar, adiknya kelas 1. Hari yang berat bagi mereka. Lingkungan baru, bahasa baru. Karena masuk public school, mereka harus menggunakan bahasa Jerman. Bahasa yang masih asing buat mereka.

Memang ada international school yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Namun biaya sekolah internasional di negara maju semacam Austria sangatlah mahal. Sekolah jenis ini hanya cocok untuk orang tua dengan anggaran pendidikan anak yang berlimpah.

Tentang public school atau sekolah negerisaya punya cerita yang mungkin layak dibagi. Cerita tentang bagaimana cara mendaftar ke sekolah.


Setelah mendapatkan alamat tempat tinggal yang permanen, saya (tentu saja dibantu teman yang mahir berbahasa Jerman) mendatangi kantor distrik sekolah yang wilayahnya mencakup tempat saya tinggal. Mungkin sejenis Kantor Dinas Pendidikan tingkat kecamatan di Indonesia.

Di kantor tersebut saya menyampaikan maksud untuk mendaftarkan dua anak saya. Petugas yang melayani meminta dokumen yang mencantumkan nama dan tanggal lahir anak. Saya serahkan fotokopi akte kelahiran anak-anak saya. Satu akte berbahasa Inggris, karena si sulung lahir di Canberra. Sedangkan akte milik adiknya berbahasa Indonesia, karena lahir di Yogyakarta. Tidak ada persayaratan legalisasi. Demikian simpel.

Sang petugas kemudian mencari sekolah yang berlokasi paling dekat dengan alamat saya tinggal. Aturan di sini menyebutkan bahwa murid harus bersekolah di lokasi yang terdekat dengan rumahnya. Tentu saja dengan syarat ada kelas yang dapat menampung. Sebagai catatan, rasio jumlah guru dan murid merupakan satu hal tidak bisa ditawar-tawar.

Petugas menyampaikan berita gembira: anak-anak saya dapat diterima di public school yang beralamat di Cottagegasse, sekitar satu kilometer dari tempat saya tinggal. Setelah itu petugas memasukkan data-data ke komputer berdasarkan fotokopi akte kelahiran yang saya berikan.

Selang lima menit, dua lembar kertas keluar dari printer. Belakangan saya tahu jika dua lembar kertas itu adalah surat pengantar dari kantor distrik sekolah untuk disampaikan kepada kepala sekolah yang dirujuk.

Sambil mencetak dokumen, petugas yang ramah ini menelepon seseorang. Setelah telepon ditutup, dia menyerahkan dua lembar pengantar dan meminta saya menemui kepala sekolah yang dirujuk.

“Saya sudah bicara dengan kepala sekolah. Datanglah ke sekolah tanggal 2 Oktober dan ajak anak-anakmu. Mereka pasti akan gembira di sekolah yang baru.” Kira-kira begitu yang disampaikan.

Fotokopi akte kelahiran ternyata dikembalikan ke saya. Artinya tidak ada dokumen apapun yaang harus saya serahkan. Sungguh sederhana prosesnya, berlangsung tidak lebih dari limabelas menit. Oh ya, jumlah petugas di ruangan juga cuma dua orang. Lagi-lagi saya terkagum-kagum dengan tingkat efisiensi bangsa Austria.

Tanggal 2 Oktober pagi saya, istri dan dua anak saya menuju ke sekolah. Ibu kepala sekolah menerima dengan ramah. Dua dokumen (semacam formulir pendaftaran) disodorkan. Setelah urusan mengisi dokumen selesai, kami diantar menemui guru wali kelas 3.

Wali kelas memberikan sejumlah lembar isian (surat pernyataan, nomor telepon yang dapat dihubungi pada kondisi darurat, dan seterusnya) serta selembar kertas yang berisi daftar barang yang harus dibawa oleh murid (alat melukis, sepatu ruangan, napkin, dan sejenisnya).

“Anakmu boleh langsung masuk kelas hari ini. Nanti jam 1 siang saat kelas selesai silakan jemput dia.” Prosesnya berlangsung begitu cepat dan praktis.

Setelah bertemu wali kelas 3, kami seharusnya menemui wali kelas 1. Namun karena saat itu anak-anak kelas 1 sedang melakukan kunjungan lapangan ke kebun binatang, pertemuan dengan wali kelas 1 diundur sehari ke tanggal 3 Oktober. Dan proses yang sama sederhananya juga kami temui di kelas 1.

Ternyata proses pindah sekolah di Austria begitu sederhana dan tanpa proses yang rumit. Konsep ‘pendidikan dasar dan menengah sifatnya wajib’ benar-benar diterapkan. Pihak sekolah bahkan tidak menanyakan apakah saya dan keluarga memiliki visa dan ijin tinggal di negara ini, apalagi soal pekerjaan. Anak usia sekolah hukumnya wajib bersekolah tanpa melihat status kewarganegaraan.

Selain mudah, seluruh proses juga gratis alias tanpa biaya sepeser pun. Tidak ada uang pangkal, uang gedung, sumbangan suka rela, sumbangan suka tapi kurang rela, dan seterusnya.

Memang, orang tua diwajibkan untuk membekali anaknya dengan peralatan sekolah. Tetapi semua sudah dicantumkan secara jelas dan orang tua harus mencarinya sendiri. Terserah beli dimana dan dengan merek sesuai selera. Pihak sekolah sama sekali tidak berurusan dengan penyediaan perlengkapan belajar murid.

Sambil terkagum-kagum, saya berharap orang tua dan murid di Indonesia juga dapat merasakan kemudahan seperti ini. Somehow, someday….

Dan mudah-mudahan anak-anak saya dapat segera beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa yang baru. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s