Sebab Aku Bukan Adipati Karna

Hubunganku dengan Nona telah begitu dekat. Tidak heran jika teman-teman menganggap kami berpacaran. Padahal tidak begitu adanya. Kami belum resmi pacaran.

Sampai akhirnya tiba malam itu. Di luar hujan rintik-rintik. Kami duduk di warung bakso, menunggu hujan reda.

“Kamu tidak pernah mengutarakan rasa cintamu. Padahal hubungan kita sudah demikian dekat. Teman-teman bahkan menganggap kita pacaran.” Nona membuka pembicaraan.

“Mungkin aku perlu waktu lebih untuk berpikir,” aku menjawab.

“Apa lagi yang perlu dipikirkan?” Nona bertanya lagi.

“Banyak,” jawabku seperti tak bergairah.


Aku memang mencintai Nona. Tapi hati ini tidak terlalu yakin kalau aku adalah sosok yang pantas menjadi kekasihnya. Aku cuma mahasiswa dari kampung dengan modal pas-pasan. Jika pemerintah mengeluarkan  daftar harga sewa kos termurah di kota ini, kamar kosku pasti akan masuk lima besar.

Lalu asupan makanku sebagian besar berasal dari warteg dan gerobak angkringan. Dan naik becak – apalagi taksi – adalah sebuah kemewahan, karena sehari-hari bis kota adalah langgananku.

Kalau orang menyarankan untuk berkaca dulu, tidak ada waktu yang lebih tepat untuk berkaca selain saat ini. Ya, saat ini. Berkaca sambil menimang-nimang kepantasan menjadi pacar Nona. Cantik. Dari keluarga berada. Pintar. Mendekati sempurna.

Namun, aku juga berpikir, alangkah ruginya jika melewatkan kesempatan ini. Menjadi pacar Nona adalah impian setiap mahasiswa waras di kampus ini.

“Pernah dengar nama Adipati Karna kan?” tanyaku kepada Nona, memecah kebuntuan.

Adipati Karna yang kumaksud adalah tokoh di dunia pewayangan, diadopsi dari epos Mahabarata.

“Kenapa dengan Adipati Karna?”

“Adipati Karna adalah anak dewa. Anak Batara Surya. Namun karena sejak bayi diasuh oleh pengemudi delman, orang menganggapnya sebagai anak kusir. Bukan golongan bangsawan dari trah paling unggul.”

“Terus?” Nona mulai penasaran.

“Aku banyak belajar dari cerita Adipati Karna. Ketika dibuka sayembara memanah untuk memerebutkan seorang putri raja, Karna menolak ikut serta. Padahal semua tahu Karna adalah jago memanah nomor satu. Bahkan Arjuna pun dapat dikalahkannya.”

“Alasannya?” Nona tambah penasaran.

“Karna sadar sepenuhnya, meski menang di sayembara dia akan tetap ditolak. Karena statusnya cuma anak kusir. Golongan papa. Yang diinginkan oleh raja dan putrinya tentu saja satria dari kelas terpilih.”

“Karna tidak ikut sayembara?” Nona semakin serius menyimak.

“Betul. Dia merasa tidak pantas bersanding dengan putri raja. Golongannya adalah kaum papa. Bersanding dengan kaum bangsawan hanya akan mendatangkan cemoohan saja. Karenanya Adipati Karna memilih mundur saja.”

Nona terhenyak. Matanya terbelalak seperti tidak percaya.

“Dan kamu akan mengikuti jejak Adipati Karna? Tidak jadi mengungkapkan cintamu padaku, karena merasa tindak pantas?” Nona bertanya setengah berteriak.

Aku merasa tidak enak karena beberapa pengunjung warung bakso tanpa dikomando mengalihkan pandangan ke arah kami.

“Lalu apa gunanya kedekatan kita selama ini? Padahal aku sudah begitu berharap mendengar ungkapan cintamu. Dan sekarang, aku malah mendengar cerita tentang Adipati Karna yang mundur dari gelanggang.” Nona mulai sewot.

“Sabar, Non,” pintaku. Orang-orang mulai penasaran dengan keadaan kami.

“Sabar apa lagi? Sabar menunggu Adipati Karna berubah pikiran? Sampai kapan?” Suara Nona meninggi.

“Aku belum mengatakan semuanya,” kucoba menjelaskan.

“Apa lagi yang belum diceritakan dari kisah Adipati Karna? Jumlah sayembara yang tidak jadi dia ikuti? Karena ngga pede?

“Nona, bukan itu.”

“Lalu apa?” Nona setengah berteriak.

“Aku ingin mengatakan bahwa aku bukan Adipati Karna,” jelasku sambil mencoba tersenyum.

“Oh ya? So?” Nona terperanjat.

“Aku tidak bermaksud mundur seperti Adipati Karna. Sudah kubulatkan niatku untuk mengucapkan kata-kata ini. Nona, aku cinta padamu.” Kali ini aku tersenyum lebih lebar.

Nona terperanjat. Antara kaget dan tidak percaya. Pengunjung warung bakso yang menatap kami juga kelihatannya menarik nafas lega. Happy ending, orang-orang itu mungkin berpikir.

Untung mereka tidak bertepuk tangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s