Menjadi Indonesia di Slovenia

by LareSabin

Akhir Oktober 2012. Salju tidak turun seperti kemarin malam, tetapi hawa begitu dingin. Angin bertiup menusuk tulang. Orang-orang berlalu-lalang dalam balutan jaket tebal. Ini adalah malam keduaku di kota Ljubljana, ibu negeri Slovenia.

Di tengah hawa dingin, kehangatan tercipta di sebuah restoran pinggir kota. Bukan karena tungku dinyalakan tapi karena orang-orang Indonesia yang menetap di Slovenia berkumpul malam itu.

Memang tidak begitu banyak orang Indonesia yang tinggal di negeri pecahan Yugoslavia ini. Slovenia negara kecil, penduduknya hanya sekitar dua juta jiwa. Ljubljana – ibukota negara – hanya berpenduduk sekitar 275 ribu jiwa. Mungkin kalah banyak dibandingkan jumlah penduduk Kecamatan Jagakarsa. Dan hanya sekitar dua kali jumlah Kompasianer!

Jumlah yang sedikit justru membuat pertemuan menjadi begitu bermakna. Bertemu dengan saudara sebangsa di negeri asing selalu menyenangkan. Rasa rindu kampung halaman sedikit terobati. Meski berasal dari berbagai kota dengan bermacam ragam latar belakang sosial, rasa kekeluargaan sesama perantau begitu terasa.

Malam itu 15 keluarga hadir dalam pertemuan. Hampir semuanya adalah keluarga ‘kawin campur’. Wanita Indonesia bersuamikan pria Slovenia atau kebalikannya pria Indonesia beristrikan wanita Slovenia. Dan mulailah saya bertanya mengapa mereka bisa sampai ke negeri yang terletak di lereng tenggara Pegunungan Alpen ini.

Warga Indonesia di Slovenia dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah golongan perintis. Mereka datang dengan status sebagai mahasiswa pada tahun 1960-an saat Slovenia masih menjadi bagian dari Yugoslavia. Saat itu Indonesia dan Yugoslavia berkawan dekat sebagai sesama negara pendiri Gerakan Non-Blok.

Beberapa mahasiswa tidak kembali ke tanah air. Mereka memilih menetap dan beranak-pinak di Yugoslavia. Ketika Yugoslavia pecah pada awal 1990-an, sebagian kecil eks mahasiswa tersebut memilih tinggal di Slovenia. Ada yang karena bekerja di Slovenia, ada juga yang karena istrinya berasal dari Slovenia.

Pak Purnomo adalah salah satu anggota kelompok ini. Berasal dari Banyumas, Jawa Tengah; Pak Purnomo datang ke Yugoslavia untuk belajar teknik mesin. Pak Purnomo menikah dengan wanita Slovenia dan memilih tinggal di negara barunya.

Meski sudah puluhan tahun menggunakan bahasa Slovenia untuk berkomunikasi sehari-hari, Pak Purnomo mengaku tidak lupa dengan bahasa Jawa dialek Banyumasan yang sering disebut sebagai ngapak-ngapak. “Ora bakal kelalen. Apa maning siki bisa ngrungokna siaran Radio Cilacap liwat internet.” Tidak akan lupa. Apalagi sekarang bisa mendengarkan siaran Radio Cilacap melalui internet. Semua yang hadir tertawa mendengarnya.

Kelompok kedua adalah mereka yang menetap di Slovenia setelah negeri ini merdeka tahun 1992. Kisah mereka ‘terdampar’ di Slovenia juga tidak kalah menarik. Gopang dan Hono, dua warga Indonesia yang beristrikan warga Slovenia, bertemu pasangan masing-masing pada saat keduanya bekerja sebagai pemandu wisata. Gopang sebelumnya berprofesi sebagai pemandu wisata dan peselancar di Pantai Pengandaran, Jawa Barat. Sedangkan Hono adalah pemandu wisata yang biasa mangkal di kampung Sosrowijayan, sebelah barat Malioboro.

Keduanya mengaku berjuang keras untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Masalah utama yang mereka hadapi adalah bahasa. Menurut mereka bahasa Slovenia sulit dipelajari.Seperti kata Gopang:

“Dalam bahasa Indonesia minum ya minum, ngga peduli minumnya kapan. Kemarin, sekarang, besok, tahun depan, dua hari lalu. Semuanya minum. Dalam bahasa Slovenia kata minum disesuikan dengan waktu kejadian dan bentuknya tidak beraturan. Jadi tambah susah,” kata Gopang sambil tertawa lepas.

Di sudut lain terdapat beberapa keluarga campur, wanita-wanita Indonesia yang bersuamikan pria Slovenia. Ada yang bertemu karena bekerja di tempat yang sama, ada yang menjalin cinta sejak bertemu dalam program pertukaran pelajar.

Yang menarik adalah beberapa pasangan bertemu via jejaring sosial di internet. Berawal dari perkenalan di dunia maya mereka kemudian hijrah ke Slovenia. Lagi-lagi perbedaan bahasa menjadi kendala utama. Ima, asli Bogor, mengaku kesulitan menguasai bahasa Slovenia. “Kalau sudah mentok, komunikasi dengan suami dilakukan melalui bahasa tubuh,” katanya seraya tertawa tanpa beban.

Ada banyak tawa malam itu. Rasa rindu tanah air sedikit terobati. Ikut dalam pertemuan tersebut membuat saya merasakan betapa rasa persaudaraan akan menggumpal pada saat kita berada di negeri orang.

Semoga sukses dalam mengarungi hidup di Slovenia, saudara-saudaraku…

Advertisements