Lelaki Tua Penjual Tangga

by LareSabin

Selasa pagi di Stasiun Duren Kalibata. Mentari berpendar, hawa mulai panas. Orang-orang yang duduk di stasiun mulai berpeluh.

Kereta ekonomi jurusan Bogor-Tanah Abang-Jatinegara melintas. Penumpang penuh sesak. Orang-orang yang berangkat menuju ke tempat kerja berjejal di dalam gerbong. Dari luar terlihat tatapan mereka yang penuh harap: agar kereta segera sampai ke stasiun tujuan.

Di atas gerbong ratusan penumpang duduk sambil bercanda. Seakan tidak ada bahaya yang mengintai mereka. Seperti biasa mereka mencoba menarik perhatian. Kali ini dengan melontarkan kata-kata yang tidak pantas.

Penjual permen dan tisu berjalan sepanjang peron, menyapa penumpang menawarkan dagangan. Suaranya tertelan deru kereta yang kembali melaju. Pagi yang normal di stasiun kereta.

Aku duduk di tempat yang agak teduh, menunggu kereta commuter line tujuan Gambir. Informasi yang disampaikan melalui pelantang mengabarkan kereta yang aku tunggu sudah masuk Staiun Lenteng Agung. Masih tiga pemberhentian lagi. Kereta ekonomi Bogor-Kota yang akan datang terlebih dulu.

Seperti kereta sebelumnya, kereta ekonomi yang penuh sesak terlihat gagah memasuki stasiun. Dan kejadian yang begitu menyentuh hati segera dimulai.

Tepat di depan tempatku duduk, seorang lelaki tua tertatih turun dari kereta. Badannya kurus dan ringkih. Baju putih lengan panjang yang dipakainya sudah pudar warnanya. Topi warna biru terlihat tidak sempurna posisinya.

Aku terkejut dengan barang yang dibawa turun lelaki tua itu. Tangga terbuat dari bambu, jumlahnya empat buah. Panjang tangga sekitar dua meter, masing-masing memiliki tujuh anak tangga.

Penuh perjuangan lelaki itu mengeluarkan tangga-tangga itu. Jam delapan pagi kereta penuh sesak. Mencari tempat untuk badan saja demikian susah. Apalagi bersama empat buah tangga yang makan tempat.

Semua penumpang menatap lelaki tua pembawa tangga. Mungkin mereka bersyukur karena tangga-tangga yang makan tempat itu akhirnya sampai ke tujuan. Bisa juga mereka merasa kasihan dengan lelaki tua yang tertatih itu. Atau mereka berpikir mengapa dia memilih kereta pada jam sibuk seperti pagi ini. Semua menatap, bahkan saat kereta melanjutkan perjalanan ke arah Cawang.

Kini lelaki tua itu tepat duduk di sebelahku. Dari dekat aku melihat raut wajahnya yang penat. Badannya terlihat lebih kurus dari saat pertama kali aku lihat. Pelan-pelan dia membetulkan tali pengikat tangga.

Tangga-tangga bambu itu berwarna hijau kekuningan. Masih baru. Betul jumlahnya empat dan masing-masing dengan tujuh anak tangga.

Aku mulai berpikir tentang banyak hal. Berapa harga tangga-tangga itu? Berapa jumlah uang yang akan diterima lelaki itu? Apakah sudah ada memesan? Jika belum, siapa yang akan membeli? Lalu dimana lelaki itu menjajakan tangga-tangga yang dibawanya? Apakah akan dibawanya berkeliling dari gang ke gang?

Dan dari mana lelaki itu membawanya? Mungkin dari sebuah desa yang jauh dari kota Bogor. Aku hanya bisa menduga.

Lelaki itu, masih dengan tertatih, mengangkat tangga-tangga itu ke pundaknya. Dia menggotong keluar dari stasiun. Langkahnya gontai. Aku merasakan betapa berat dia harus memikul beban. Tujuannya kemana aku tidak tahu.

Kereta yang aku tunggu tiba, aku bergegas masuk mencari celah. Sering aku menggerutu betapa berat tas kerja yang aku tenteng. Padahal isinya hanya laptop, buku, dan bekal makan siang dari istriku.

Melihat lelaki tua itu membawa empat tangga di kereta yang penuh sesak aku termenung. Mengapa selalu saja kita lupa bersyukur, padahal masih banyak orang yang lebih susah dari kita.

Saat menulis cerita ini, aku tak tahu sudah sampai mana lelaki tua dengan empat tangga di pundaknya itu tertatih berjalan. Mudah-mudahan tangga-tangga itu sudah mendapatkan pembeli dan dia bisa segera kembali ke rumahnya. Dan mudah-mudahan aku tidak lagi lupa untuk selalu bersyukur atas semua karunia yang dilimpahkan Tuhan.

Advertisements