Rindu Untuk Bapak

by LareSabin

Anakku, sudah lama aku ingin menuliskan kisah ini. Terlebih saat hati ini merindukan Bapak, Eyang Kakungmu. Aku ingin kamu menyimaknya dan mengetahui betapa dalam kasih ibu pada anaknya.

Sudah hampir jam tiga sore saat itu. Angin musim gugur menjatuhkan dedaunan ke pelataran Canberra Public Hospital. Aku masih menahan sakit menunggu kehadiranmu. Sudah dari jam delapan pagi aku terbaring di ranjang rumah sakit ini. Tapi kamu, Anakku, belum juga mau keluar untuk ditimang Sang Ibu yang telah lama memendam rindu.

“Ya Allah. Beri hamba-Mu kemudahan dalam memenuhi tugas sebagai seorang ibu. Ijikan hamba-Mu menimang karunia terindah buah cinta ini.”


Doaku menggumpal pada tiap tetesan keringat. Suster menyekanya dari mukaku setiap lima menit. Kalimat penjaga semangat selalu dia katakan, meski kadang tidak terdengar jelas ditelan rasa sakit yang tak terperikan.

Sementara ayahmu hanya bisa duduk dan berdiri di sebelah ranjang. Dielusnya tangan kiriku. Mulutnya tercekat dan nafasnya memburu. Rasa bahagia menunggu kelahiranmu dan rasa khawatir akan kondisiku bercampur aduk.

Hampir jam empat, kamu belum mau keluar juga. “Ayo, Nak. Kami sudah begitu merindukanmu.” Aku menarik nafas dalam-dalam dan bersiap untuk menekan. Suster memberi aba-aba. Tetapi belum juga berhasil.

Setengah terjaga, Anakku, angan ini terbang melintasi waktu. Sukarno-Hatta airport dua tahun lalu. Senja sebentar lagi turun. Langit merona di atas Teluk Jakarta. Selepas senja aku akan terbang ke Australia, menyusul ayahmu.

Waktu yang tinggal sedikit aku gunakan untuk bercengkerama dengan Eyang Kakung danEyang Putri. Terasa berat bagi mereka melepas kepergian anak perempuan pertama, yang sejak kecil tidak mengenal dunia selain kota Yogya.

Aku merasakan kekhawatiran itu. Lima bulan lalu aku dan ayahmu menikah. Dan sekarang kami harus mengarungi hidup berdua di negeri orang, jauh dari rumah. Terus terang aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan aku temui di Australia. Negeri yang asing. Dengan bahasa dan budaya yang asing.

Itu juga yang dipikirkan kakek dan nenekmu, terutama Eyang Kakung. Berkali-kali Eyang Kakung memintaku untuk selalu berdoa, mendekatkan diri kepada Yang Maha Pengasih. Hidup di rantau jauh dari sanak saudara pasti tidak mudah. Eyang Kakung memintaku selalu berhati-hati.

Saat panggilan masuk ke ruang tunggu terdengar, aku segera memeluk dan menciumEyang Putri. Mulutku bergumam memohon restu, tertelan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

Lalu Eyang Kakung memelukku erat-erat, memberikan restu kepada anak perempuannya yang ingin berbakti ke suami. Kalimat yang diucapkannya seperti tercekat dan aku mencium tangan kanannya penuh hormat. Mataku mulai basah. Hanya salam pamit yang mampu kuucapkan.

Beragam rasa mengantarku ke ruang tunggu pesawat. Sedih harus meninggalkan orang tua. Bahagia akan segera bertemu ayahmu. Penasaran dengan hidup baruku di negeri orang. Campur aduk rasa itu membuatku menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Eyang Putri terlihat tersenyum memberi semangat. Eyang Kakung melambaikan tangan mengiring langkahku.

Dengan bantuan alat vacuum dan penanganan dokter ahli, kamu lahir menjelang jam enam sore. Aku segera meminta ayahmu melihat kondisimu, berharap kamu terlahir sempurna.

“She is a beautiful girl. Congratulations!” Kata suster seakan tahu kekhawatiranku.

Segera kutarik nafas dalam-dalam. Perjuangan antara hidup dan mati ini berhasil aku lewati, Ya Allah, berkat karunia dan keagungan-Mu.

Perlahan air mataku menetes, terkenang lambaian tangan Eyang Kakung di Sukarno-Hatta dua tahun lalu. Aku ingin segera memberitahukan kabar gembira ini. Cucu pertama yang dinanti telah lahir, meski jauh terpisah oleh laut.

Menjelang kelahiranmu, Eyang Kakung selalu menyebut keinginan untuk menimangmu, cucu pertamanya. Dalam pembicaran per telepon, nada bicaranya terdengar penuh harap. Aku mendengarnya sambil menahan tangis seraya berdoa agar keinginan Eyang Kakungmu terwujud.

Memasuki bulan keenam kehamilan, sakit Eyang Kakung bertambah parah. Kadang aku bimbang, antara pulang ke Yogya untuk mendampingi Eyang Kakung atau tetap di Australia bersama ayahmu. Tengah malam aku sering terbangun dan menangis, meminta pendapatmu. Kamu hanya menendang dinding rahim, seakan tahu apa yang aku rasakan.

Sampai akhirnya dokter menyarankan untuk tidak terbang ke Yogya, demi kebaikanmu di kandungan. Akhirnya aku putuskan untuk tetap di Australia sampai kelahiramu.

Tiga hari sebelum kamu lahir, Anakku, kabar yang tidak ingin aku dengar itu datang. Eyang Kakung berpulang. Aku menangis sejadi-jadinya. Jika karena tidak ingat bahwa aku tengah mengandungmu, aku ingin meronta. Berontak atas ketidakadilan ini. Mengapa cobaan ini datang pada saat aku jauh dari keluarga, pada saat aku harus mengatasi semuanya hanya berdua dengan ayahmu.

Dari berita itu datang sampai detik kelahiranmu dunia terasa hening, sampai akhirnya tangismu yang pertama memecah kehampaan. Keinginan Eyang Kakung menimangmu tidak terkabul. Namun aku yakin dia tersenyum di atas sana, menyaksikan kelahiran cucu pertamanya yang cantik.

Dan aku melihat lambaian tangan itu sekali lagi saat suster menyerahkanmu untuk aku dekap pertama kali.

“Ananda menimang buah hati ini untukmu, Bapak.” Aku bergumam lirih, menengadah ke atas.

Saat kamu besar nanti, Anakku, aku akan bercerita lebih banyak tentang Eyang Kakungmu.Dan bacalah kisah ini saat kamu merindukannya.

Advertisements