Kebab dan Orang Turki di Tanah Rantau

Salah satu makanan cepat saji yang mudah dijumpai di kota Wina adalah kebab. Ya, kios atau stall penjual kebab tersebar di berbagai sudut kota – di stasiun kereta dalam kota, halte bus, tempat wisata, pusat belanja, dan seterusnya.

Untuk ukuran Eropa harga kebab termasuk murah. Doner kebab – roti sandwich berisi irisan daging ayam, sapi, atau kambing panggang plus sayuran – dapat dibeli dengan dua setengah euro. Durum kebab – sama dengan doner namun menggunakan roti pita – dijual seharga tiga euro. Porsi keduanya lumayan besar untuk ukuran perut Indonesia, karena harga daging di Eropa termasuk murah.


Selain murah dan mengenyangkan, membeli durum juga selalu menjadi pengalaman tersendiri. Sebagian besar pemilik dan penjaga kios adalah imigran asal Turki. Jumlah mereka di sejumlah negara Eropa – termasuk di Austria – memang cukup besar. Mereka umumnya mengisi lapangan kerja yang tidak begitu mendapatkan peminat di kalangan penduduk asli.

Karena sebagian besar penjual kebab adalah kaum Adam, saya biasanya menggunakan obrolan seputar sepakbola sebagai pembuka percakapan atau ice breaker. Tentu saja jika si penjual menunjukkan itikad baik untuk bercakap-cakap dan sedang terlalu sibuk melayani pembeli.

Nah, karena klub sepakbola asal Turki yang tersohor adalah Galatasaray dan Fenerbahce; saya menggunakan keduanya sebagai pembuka percakapan. Which team is the best? Galatasaray or Fenerbahce?

Penjual yang suka sepakbola dan merupakan pendukung salah satu klub itu umumnya senang mendengar pertanyaan tersebut. Siapa sih yang nggak bangga ada orang asing yang tahu klub sepakbola kesayangannya?

Jika penjual adalah pendukung Galatasaray, saya menyebut satu dua nama pemain klub tersebut. Atau kalimat simpati atas kekalahan di pertandingan terakhir kompetisi Eropa. Begitu juga sebaliknya jika penjual adalah pendukung Fenerbahce. Karena si penjual merasa tersanjung ada orang asing yang tahu klub kesayangannya, porsi irisan daging dan sayur kebab kita akan ditambah sesuai kemurahan hatinya. Lumayan.

Pernah saya bertemu dengan penjual kebab yang bukan pendukung Galatasaray maupun Fenerbahce. Dia mengaku sebagai pendukung Bursaspor sambil dengan riang menceritakan kiprah klub. Tidak lupa, porsi kebab juga ditambah.

Tapi pernah juga saya bertemu penjual yang sama sekali tidak tertarik dengan sepakbola. Kalau sudah begini, tidak akan ada tambahan kuantitas porsi kebab.

Obrolan ringan soal sepakbola ini membuat saya akrab dengan penjual kebab yang mangkal tidak jauh dari kantor. Setiap kali saya mampir di kiosnya, dia menyabut dengan teriakan: Viva Fenerbahce! Saat saya pamit dia kembali setengah berteriak: Don’t forget. Fenerbahce! Gara-gara saya pernah dengan pede-nya salah berteriak Viva Galatasaray saat mampir ke kiosnya.

13672221301475843651

Daging panggang: komponen utama kebab (foto dipinjam dari Wikipedia)

Ada tiga hal menarik dari cerita ringan ini. Pertama, betapa sepakbola sudah menjadi bahasa yang universal. Hubungan dua orang yang tidak saling kenal dengan latar belakang budaya yang berbeda dapat dimulai dengan obrolan soal sepakbola.

Kedua, orang Turki semakin mudah dijumpai di berbagai kota besar negara-negara Eropa bagian tengah. Mereka dikenal memiliki etos kerja yang kuat dan menjadi imigran yang mapan secara ekonomi serta setia dengan budaya asalnya.

Ketiga, kebab sudah seperti makanan asli Austria. Saya jadi ingat cerita tentara Turki Usmani yang mengepung kota Wina pada tahun 1683. Tidak jadi menduduki kota, tentara Turki meninggalkan berkarung-karung kopi bekal mereka. Kopi tersebut diambil dan dinikmati penduduk Wina. Konon, itulah perkenalan pertama kali penduduk Wina dengan kopi. Sekarang, keturunan tentara Turki memperkenalkan kebab. Sama seperti moyang mereka, tapi tanpa tentara dan pengepungan.

Demikian cerita dari Wina dan selamat menjalani pekan yang produktif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s