Menikmati Keindahan Kota Budapest

by LareSabin

Meski cuaca diramalkan kurang baik, kami memutuskan untuk pergi ke Budapest – ibu negeri Hungaria – pada libur Paskah akhir pekan lalu. Perjalanan darat dari Wina, Austria ditempuh selama empat jam, ditemani mendung dan gerimis. Hujan yang turun dengan deras menyambut kedatangan kami – saya, istri, dan dua anak. Di penginapan kami menghabiskan malam sambil berdoa: semoga cuaca sedikit bersahabat esok hari.

Ramalan hujan di pagi hari ternyata sedikit meleset. Meski dikurung mendung, hujan tidak jadi turun. Perkenalan dengan Budapest dimulai dengan kunjungan ke Hosok Tere atau Heroes Square.

1364778442251044318

Monumen pahlawan ini dibangun untuk memperingati seribu tahun lahirnya bangsa Hungaria yang ditandai dengan kedatangan tujuh suku atau tribes pada abad ke-9. Tujuh suku yang diyakini berasal dari Asia Tengah tersebut merupakan nenek-moyang bangsa Hungaria. Bentuk monumen adalah tugu yang diapit oleh patung tujuh raja terkenal Hungaria di sebelah kiri dan tujuh figur terkemuka wakil dari masing-masing suku. Monumen tersebut tidak hanya terlihat gagah namun juga indah dan artistik.

Monumen tersebut bertambah indah karena diapit oleh dua bangunan dengan arsitektur nan megah yaitu Museum of Fine Arts dan Palace of Arts.

Setelah puas menikmati keindahan Heroes Square, kami melanjutkan perjalanan menyusuri Andrassy Avenue, salah satu jalan utama yang dengan berbagai bangunan kuno yang cantik dan megah di kanan-kirinya. Jalan ini oleh UNESCO ditetapkan sebagai World Heritage site atau cagar budaya dunia. Melintasi Andessy Avenue kami melihat Budapest Opera House yang terkenal. Keluar dari jalan tersebut kami juga berkesempatan menyaksikan Basilika St. Stephen, gereja terbesar di Hungaria, dan sinagoga yang katanya merupakan yang terbesar kedua di dunia. Semua bangunan tersebut terlihat megah, indah, dan anggun.

Tujuan berikutnya adalah Citadella, benteng kuno yang terletak di perbukitan barat daya kota Budapest. Selain menikmati kemegahan benteng, dari atas bukit kami juga dapat menyaksikan panorama kota Budapest dari ketinggian. Meski dikurung mendung, Budapest tetap terlihat cantik dengan dominasi gedung klasik dan aliran Sungai Danube yang terkenal.

1364779760475424284

Budapest dilihat dari Citadella

Oh ya, Budapest merupakan gabungan dua kota yaitu Buda – yang berada di sisi barat sungai Danube – dan Pest yang berada di sisi timur. Sungai Danube merupakan sungai terpanjang kedua di Eropa (setelah sungai Volga) dengan panjang 2.872 kilometer dan melintasi sepuluh negara. Sungai Danube mengalir dari Jerman dan bermuara di Laut Hitam. Sambil menikmati keindahan Budapest, karya komposer Johann Strauss berjudul On the Beautiful Blue Danube seperti terdengar di telinga.

Dari Citadella kami melanjutkan perjalanan melintasi kompleks istana kerajaan pada masa lalu yang dikenal sebagai Buda Castle. Komplek istana ini berdiri megah di atas bukit dan juga ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar budaya dunia pada tahun 1987. Sayang sekali karena keterbatasan waktu kami tidak dapat berhenti lama di istana tersebut karena harus mengejar agenda yang tak kalah seru: makan siang di kapal!

13647804481605986096

Makan siang sambil menikmati keindahan Sungai Danube

Pengalaman menyusuri Sungai Danube dengan kapal sambil menikmati makan siang menjadi pengalaman paling mengesankan dalam muhibah ini. Kapal memulai perjalanan dari dermaga di depan Parliament Building atau gedung DPR menuju ke arah utara sampai mendekati Pulau Margaret yang berada di tengah sungai. Kapal kemudian memutar haluan dan sepanjang perjalan kami dapat menikmati keindahan bangunan kuno yang berderet rapi di tepi sungai. Sebagian bangunan tersebut difungsikan sebagai museum, hotel, maupun kantor pemerintah dan swasta.

Setelah satu setengah jam, kapal lego jangkar. Rasanya waktu tersebut terlalu singkat, namun kami harus melanjutkan perjalanan. Tidak terasa hari sudah menjelang sore dan suhu udara mulai menukik tajam kembali mendekati nol. (Musim dingin belum juga berakhir, meski secara resmi sudah masuk musim semi).

Sebelum kembali ke penginapan, kami menikmati suasana sore yang dingin diErszebet Park. Di sekitar taman berdiri toko-toko semi permanen yang menjajakan makanan maupun souvenir khas Hungaria. Karena anak-anak sudah terlalu capai dan cuaca dingin semakin tidak bersahabat (plus mendung yang semakin pekat), kami memutuskan kembali ke penginapan.

Keindahan kota Budapest ternyata juga di dapat dinikmati dari penginapan yang terletak di tepi Sungai Danube, tepat di seberang Gedung Parlemen. Ketika hari mulai gelap dan lampu-lampu mulai berpendar, keindahan gedung tersebut tampak semakin nyata.

1364781533981366808

Keindahan Gedung Parlemen di malam hari

Malam itu saya menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan Budapest di malam hari yang tersaji dengan jelas di jendela, sementara istri dan anak-anak tertidur pulas setelah seharian menaklukkan dinginnya udara.

Budapest tidak hanya menyuguhkan kemegahan masa lalu tapi juga rasa percaya diri bangsa Hungaria yang selama hampir setengah abad terpuruk di bawa cengkeraman rejim komunis. Sekarang mereka kembali mencoba bangkit dan kejayaan di masa lalu kembali ditampilkan untuk menambah rasa percaya diri. Sebagai anggota Uni Eropa, Hungaria kini duduk di deretan yang sama dengan negara-negara maju lainnya.

Tepat tengah malam sebagian lampu yang berpendar di Gedung Parlemen dipadamkan. Saya beranjak tidur dan malam itu keindahan kota Budapest hadir kembali dalam mimpi.

(Pernah dimuat di Kompasiana)

Advertisements