Enam Jam di Belanda

on

13675025981093159316

Salah satu sudut kota Amsterdam dengan kanalnya yang terkenal. (Dok. Pribadi)

Belanda mungkin merupakan negara yang paling familiar bagi orang Indonesia. Sejak duduk di bangku SD – atau bahkan TK – setiap anak Indonesia sudah diajak mengenal negeri kincir angin ini. Menurut buku-buku sejarah, tiga setengah abad mereka menjajah kita. Tidak heran jika banyak yang penasaran mengapa kerajaan kecil ini bisa menguasai kerajaan-kerajaan Nusantara begitu lama.

Bulan lalu saya transit di Amsterdam dan kesempatan itu saya gunakan untuk melancong keliling kota. Agar tidak terlalu banyak bawaan, koper saya tinggal di Bandara Schiphol.


Menitipkan barang bawaan di Schiphol ternyata sangat praktis. Area penitipan barang terletak di lantai dasar, persis di bawah terminal kedatangan. Lemari besi atau loker berjejer rapi menempel ke tembok. Kita tinggal memasukkan koper ke loker yang kosong, menutup pintunya, dan membayar dengan kartu kredit atau debit di mesin yang terletak di dekat loker.

Jika pembayaran berhasil, loker secara otomatis mengunci dan resi bukti pembayaran akan keluar. Di resi tersebut tercantum nomor yang merupakan kode untuk membuka loker. Jika malas menekan tombol nomor, kita juga bisa memindai barcode yang tertera di resi tersebut. Tidak lupa saya memotret nomor loker agar tidak kebingungan pada saat mengambil barang.

Penitipan barang swalayan ini sangat praktis, semua dapat dilakukan sendiri. Petunjuk juga disediakan dalam bahasa Belanda dan Inggris sehingga memudahkan wisatawan untuk menggunakannya. Area penitipan barang yang begitu besar ini hanya dijaga oleh satu orang. Tugasnya pun hanya memberikan informasi dan membantu mereka yang mendapatkan masalah ketika mengeluarkan barang (resi hilang, dan sebagainya). Oh ya, ongkos titip koper selama 24 jam adalah sembilan euro!

Urusan koper selesai, selanjutnya masuk ke agenda utama: jalan-jalan. Karena waktu yang tersedia tidak begitu banyak, saya memutuskan untuk naik bus wisata. Lebih praktis karena dalam waktu sekitar satu jam kita bisa berkeliling kota. Selain itu tiket juga dapat digunakan untuk jangka waktu 24 jam dan penjelasan tentang tempat-tempat yang dilalui tersedia dalam bahasa Inggris.

13674999371928419250

Berperahu melintasi kanal, di bawah langit biru. (Dok. Pribadi)

Perjalanan dimulai dari depan Central Station menyusuri jalan-jalan di Amsterdam yang tidak begitu lebar. Bangunan di kanan-kiri jalan umumnya dipertahankan sesuai bentuk aslinya. Terlihat klasik dan anggun.

Kanal merupakan daya tarik tersendiri. Airnya terlihat jernih dan perahu terlihat berlalu-lalang. Udara yang mulai hangat di awal musim semi membuat banyak orang menghabiskan waktu di pinggir kanal. Menikmati kopi, membaca buku, bercengkerama, atau sekadar melamun sambil berjemur. Saya membayangkan Batavia tempo doeloe yang sebenarnya – konon – akan dikembangkan meniru model Amsterdam.

Daya tarik yang lain adalah sepeda yang ada di setiap sudut kota. Sepanjang jalan kita dapat menemukan sepeda – dikendarai atau diparkir – mulai dari yang butut sampai yang kinclong. Jalur khusus sepeda juga banyak dijumpai. Sebuah sumber menyebutkan bahwa panjang lintasan di seantero negeri Belanda adalah 15.000 kilometer. Sumber lain juga menyebutkan bahwa seluruh sepeda yang berada di Amsterdam diperkirakan berjumlah 600.000 unit. Luar biasa!

13675000542094035643

Sepeda ada di setiap sudut kota, dari butut hingga kinclong. (Dok. Pribadi)

Satu jam sudah berlalu, macet mulai menghadang. Banyaknya wisatawan yang tumpah di jalan membuat lalu-lintas menjadi padat. Driver menyarankan penumpang bus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Meski pemberhentian berikutnya tidak terlalu jauh, macet membuat jalan kaki menjadi pilihan terbaik.

Tujuan berikut adalah Paleis op de Dam atau Istana Kerajaan. Tentu saja tidak sampai masuk ke dalam istana, cukup melihat dari halaman depan saja.

Mendekati kompleks istana terlihat kapas dan bulu unggas banyak beterbangan. Ternyata sedang terjadi ‘perang bantal’ di lapangan depan istana. Sekelompok anak muda terlihat sedang heboh saling memukul dengan bantal. Lama-kelamaan kain bantal pun sobek dan isi bantal kemudian berhamburan ke udara.

Rupanya mereka sedang merayakan International Pillow Fight Day atau Hari Berantem dengan Bantal Sedunia! Filosofi ritual ini adalah ekspresi kebebasan di tengah semakin banyak aturan yang dibuat manusia. Ada-ada saja. (Terbayang ‘perang guling’ di atas sungai pada peringatan hari kemerdekaan di kampung halaman).

13675001491547451645

Kapas dan bulu unggas beterbangan, hasil perang bantal. (Dok. Pribadi)

Setelah puas menikmati pusat kota di sekitar istana, saya berjalan kaki menuju Central Station untuk kembali ke bandara dengan kereta.Sore itu stasiun begitu ramai. Orang lalu-lalang. Ada yang baru datang, ada juga yang akan meninggalkan Amsterdam.

Di tengah suasana hiruk-pikuk, informasi tentang kereta ke Bandara Schiphol dengan mudah dapat ditemukan di banyak tempat. Jelas dicantumkan peron tempat kereta berangkat dan jam keberangkatan berikut. Juga tempat pembelian tiket.

Suasana hiruk-pikuk ternyata tidak terlihat di peron. Yang ada adalah suasana lengang, sesekali ditimpali deru kereta api. Kereta tiba dan pergi setiap sepuluh menit. Karenanya tidak dijumpai ‘tumpukan penumpang.’

1367500223460219081

Menunggu kereta ke bandara di stasiun sentral. (Dok. Pribadi)

Perjalanan dari Central Station ke Schiphol tidak memakan waktu lama, sekitar 15 menit. Kereta berhenti di bawah terminal bandara. Cukup dengan satu kali naik tangga berjalan, kita sampai di pintu masuk terminal. Penunjuk arah tiap-tiap terminal juga terpampang dengan jelas. Karena masih ada waktu, saya menyempatklan diri berjalan memutari public area bandara.

Toko dan kios tertata rapi seperti di pusat perbelanjaan. Tempat yang menjual tanda mata khas Belanda juga banyak dijumpai. Juga bangku dan kursi untuk melepas penat.

13675003951602442426

Salah satu sudut Bandara Schipol. (Dok. Pribadi)

Dua jam sebelum jadwal terbang, koper saya ambil di loker. Sama mudahnya dengan saat menyimpan, cukup memindai barcode dan pintu loker otomatis terbuka.

“Selamat sore. Apa kabar?” petugas imigrasi menyapa dalam bahasa Indonesia dengan ramah setelah melihat gambar burung Garuda di sampul paspor yang saya sodorkan.

Berlalu dari pemeriksaan, saya tersenyum sambil membayangkan petugas tadi bergumam “Kowe inlander dari melancong ya…” Hehehe…

Selamat menikmati akhir pekan!

(Pertama kali dipublikasikan di Kompasiana)

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Shady says:

    Halo Mas Khasan, saya sudah byk browsing tentang apa yg harus dilakukan di Bandara Schiphol selama lebih dari 4 jam transit. Kebetulan saya akan terbang dari Frankfurt ke Jakarta dan transit di Amsterdam selama 8 jam 50 menit. Saya memang mengambil waktu transit yg panjang agar bisa jalan2 dulu di Amsterdam. Artikel Mas Khasan bagus, saya mau tanya apa ada tour/travel bandara-pusat kota khusus penumpang transit dgn waktu lebih dr 4 jam? Kalau tidak ada, apa saya blh minta info ttg transportasi bandara-pusat kota serta rincian biayanya? Kebetulan saya sendirian. Terimakasih mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s