Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi

Sebagian nama-nama tahanan yang meninggal di kamp konsentrasi Mauthausen. (Sumber foto: Dokumen pribadi)
Sebagian nama-nama tahanan yang meninggal di kamp konsentrasi Mauthausen. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Akhir pekan lalu saya mendapat kesempatan langka: hadir dalam acara re-launching bekas kamp konsentrasi Nazi yang kini difungsikan sebagai museum. Museum bernama Mauthausen Memorial tersebut terletak sekitar 20 kilometer sebelah timur kota Linz, Austria atau kira-kira dua jam perjalanan dari kota Wina. Pemerintah Austria baru saja selesai melakukan pemugaran dan mengundang sejumlah kalangan untuk hadir ke acara re-launching tersebut.


Mauthausen terletak di atas bukit dan dikelilingi hamparan padang rumput nan luas. Saat ini tidak jauh dari lokasi terdapat pemukiman penduduk. Namun saat kamp konsentrasi ini beroperasi pada tahun 1939-1945, Mauthausen merupakan daerah sepi dan sebagian besar masih berupa hutan belantara.

Setelah melewati pemeriksaan keamanan dan menaiki anak tangga, saya sampai di depan gerbang. Lurus dari arah anak tangga berdiri monumen peringatan hari pembebasan kamp konsentrasi oleh tentara Sekutu pada tanggal 5 Mei 1945. Acara re-launching dihelat bertepatan dengan hari pembebasan tersebut.

Tidak jauh dari monumen tersebut berdiri patung lelaki bertubuh kurus dan ringkih yang melambangkan penderitaan penghuni kamp konsentrasi. Dari foto-foto memang terlihat dominasi pria dengan tubuh kurus kering – kurang makan kurang gizi. Dengan kondisi yang mengenaskan itu mereka juga harus menjalani kerja paksa.

Tugu untuk mengenang korban kekejaman Nazi. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)
Tugu untuk mengenang korban kekejaman Nazi. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Jika dari anak tangga belok ke kiri, kita akan menemukan banyak plakat tertempel rapi di tembok. Nama-nama sebagian korban yang meninggal di kamp konsentrasi tercantum di plakat tersebut. Di balik tembok adalah hamparan padang rumput menuruni bukit. Di musim dingin padang rumput berubah menjadi padang salju yang susah untuk dilalui.

Pintu gerbang kamp konsentrasi
Pintu gerbang kamp konsentrasi. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Belok kanan dari arah anak tangga kita akan disambut oleh gerbang kamp konsentrasi yang dingin dan angkuh. Saat saya masuk yang menjaga gerbang adalah polisi-polisi Austria yang bertugas mengamankan acara. Tapi saat kamp konsentrasi ini beroperasi pada Perang Dunia Kedua, yang berdiri dengan garang di gerbang adalah serdadu SS Nazi yang terkenal kejam. Mereka tidak segan menembak penghuni kamp yang mencoba melarikaan diri. Bahkan mereka juga kerap menembak tahanan tanpa alasan yang jelas, hanya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pemilik kuasa.

Di balik gerbang kita akan menemukan deretan barak dengan cat warna hijau. Tanah lapang di antara deretan barak menjadi salah satu lokasi penyiksaan tahanan. Di beberapa sudut terlihat monumen tempat karangan bunga diletakkan, untuk mengenang penghuni kamp kosentrasi yang meregang nyawa di area ini.

Barak tahanan di balik gerbang. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)
Barak tahanan di balik gerbang. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Kompleks barak ini dikelilingi tembok tinggi dengan rangkaian kawat berduri di atasnya. Tembok tinggi dan penjaga yang selalu siaga membuat peluang melarikan diri sangat kecil. Jika ada tahanan yang berhasil merlarikan diri, peluang untuk dapat melewati padang rumput yang luas juga kecil. Terlebih di musim dingin saat salju menggunung dan suhu secara konstan berada di bawah nol.

Pos penjaga yang tersebar di setiap sudut kamp. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)
Pos penjaga yang tersebar di setiap sudut kamp. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Setelah melihat-lihat sekeliling, saatnya acara re-launching dimulai. Seperti biasa, pidato-pidato disampaikan. Banyak tokoh penting yang hadir, termasuk presiden Austria, Hungaria, dan Polandia. Dari sekian banyak pidato, saya teringat dengan dua hal yang ditekankan oleh Menteri Dalam Negeri Austria.

Pertama, mengapa tragedi kemanusiaan ini sampai terjadi – di tengah masyarakat Eropa yang saat itu menjadi pusat peradaban? Kedua, bagaimana caranya agar tragedi ini tidak terulang di masa mendatang? Dua hal tersebut, menurut Sang Mendagri, merupakan esensi dari preservesi bekas kamp konsentrasi ini menjadi museum.

Tembok tinggi dan kawat berduri membuat peluang melarikan diri sangat kecil. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)
Tembok tinggi dan kawat berduri membuat peluang melarikan diri sangat kecil. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Bagian paling mengharukan dari seluruh prosesi adalah pada saat sejumlah survivor atau tahanan yang selamat satu demi satu maju ke podium. Sebagian dari mereka sudah renta, harus dipapah oleh kerabat. Beberapa menyampaikan testimoni, menggambarkan betapa kejamnya masa di kamp konsentrasi yang harus mereka lewati.

Mauthausen merupakan salah satu kamp konsentrasi terbesar yang didirikan oleh Nazi. Tercacat hampir 200 ribu orang pernah menjadi penghuni. Tidak ada catatan pasti mengenai jumlah tahanan yang meninggal, namun diperkirakan mencapai angka 80 ribu jiwa. Sebagian meninggal karena dieksekusi – ditembak atau dimasukkan kamar gas; sebagian yang lain meninggal karena kelaparan, penyakit, atau sebagai korban eksperimen medis.

Membaca literatur, ternyata tidak semua penghuni kamp konsentrasi adalah etnis Yahudi. Kelompok etnis Yahudi merupakan mayoritas, namun terdapat kelompok non-Yahudi yang juga menjadi tahanan. Mereka berasal dari kelompok yang dianggap sebagai ’sampah masyarakat’ oleh rejim Nazi seperti aktivis komunis, sosialis, anarkis, dan kaum homoseksual.

Penghuni kamp konsentrasi juga berasal dari berbagai latar belakang kebangsaan. Sebuah literatur menyebut adanya tiga orang Indonesia yang menjadi penghuni kamp konsentrasi Mauthausen. Bagaimana mereka bisa terdampar di sana? Apakah tiga orang tersebut termasuk yang selamat? Wallahu a’lam. Perlu riset lebih lanjut. Saat itu negara Indonesia belum terbentuk sehingga parameter untuk menetapkan kebangsaan Indonesia juga perlu diteliti lebih jauh.

Akhirnya acara re-launching selesai. Dalam perjanalan pulang terbayang bagaimana manusia dapat menjadi sosok yang begitu kejam terhadap sesamanya. Atas nama kekuasaan. Atas nama ideologi. Atas nama keyakinan.

Semoga tragedi serupa tidak akan pernah terulang. Pada masa hidup kita dan masa hidup anak keturunan kita.

Barak tempat tinggal tahanan: saksi bisu kekejaman manusia kepada sesamanya. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Barak tempat tinggal tahanan: saksi bisu kekejaman manusia kepada sesamanya. (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

(Dipublikasikan pertama kali di Kompasiana)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s