Pilpres di Sana, Pilpres di Sini

by LareSabin

Tahun 2006-2009 saya tinggal di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Pada tahun 2008 saya berkesempatan menyaksikan dari dekat pemilihan presiden (pilpres) di negara tersebut. Kita tahu, Barack Obama dari Partai Demokrat keluar sebagai pemenang mengalahkan kandidat Republikan John McCain.

Pilpres 2008 dapat disebut sangat seru. Pertama, rakyat Amerika dihadapkan pada dua pilihan sulit.

Mempertahankan kebijakan konservatif di bawah Partai Republik atau beralih ke pembaruan yang ditawarkan Partai Demokrat.

Kedua, kedua kubu menyeleksi kandidat presidennya secara terbuka. Biasanya wapres petahana otomatis menjadi capres. Dick Cheney, wapres saat itu, tidak maju menjadi capres Partai Republik.


Perang terbuka internal partai pun dimulai untuk menjaring kandidat terbaik. Dari kubu Republik muncul John McCain, Sarah Palin, Mitt Romney, Rudy Giulinani. Sementara bakal capres dari Demokrat antara lain adalah Barack Obama, John Kerry, Hillary Clinton, Joe Biden, Bill Richardson.

Para bakal capres tidak hanya saling beradu visi dan misi, tetapi juga berupaya mencari kelemahan saingannya. Pernyataan ke publik pada masa lalu kembali diungkit, terlebih jika pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap yang ditunjukkan saat kampanye.

Hillary Clinton harus menanggung malu karena mengaku mendarat di bandara Sarajevo di tengah desingan peluru pada saat terjadinya Perang Balkan. Tayangan televisi menunjukkan Bu Hillary mendarat di tengah kondisi yang aman dan damai. Dia keluar pesawat sambil tersenyum, disambut oleh pejabat PBB yang ditugaskan di wilayah konflik Bosnia.

Barack Obama tidak luput dari serangan. Karena bernama tengah Hussein dan ayahnya adalah seorang Muslim asal Kenya, agama Obama dipertanyakan. Obama juga diisukan lahir di Jakarta, bukan di Hawaii. Oleh karenanya menurut konstitusi, dia tidak berhak nyapres.

Setelah berdebat dan saling mencari kelemahan lawan, Obama terpilih menjadi capres Demokrat dan McCain capres Republik.

Satu hal yang patut diteladani, kelompok-kelompok yang di kedua partai yang awalnya berbeda pandangan bersatu. Pendukung bakal capres yang kalah menyatakan dukungan kepada kandidat partai yang ditetapkan sebagai capres.

Tidak ada bakal capres yang sakit hati, ngambek, mutung, atau menyeberang ke partai lain. Meski awalnya mereka berkompetisi dan saling serang, pada akhirnya mereka bersatu mendukung capres yang dipilih melalui mekanisme partai.

Babak baru dimulai, pertarungan antara politisi gaek John McCain dan wajah baru Barack Obama. Kedua kandidat saling serang secara terbuka dan berupaya membongkar ‘aib’ masing-masing. Mereka berusaha saling mengalahkan melalui debat dan juga iklan di media.

Partai pengusung sebagai mesin politik bekerja menggalang dana, juga membentuk kelompok-kelompok relawan yang tersebar di seantero negeri. Capres tidak memberi atau menjanjikan uang kepada pemilih.

Sebaliknya, mereka meminta sumbangan dari masyarakat. Rekening untuk menampung donasi diumumkan secara terbuka.

Masa kampanye dimulai. Pendukung McCain mengulas kekurangan Obama. Sebaliknya, fans Obama mencari kelemahan McCain.

Meski saling serang, hampir tidak ada kampanye yang sifatnya provokatif. Tidak ada manifesto yang menyebabkan gesekan di akar rumput. Motivasi utama perdebatan dan saling serang tadi adalah mencari figur terbaik yang pantas memimpin Amerika. Tidak lebih dari itu.

Karena itu ketika Obama keluar sebagai pemenang – setelah melewati proses panjang dan berliku – setelahnya adalah hidup kembali berjalan normal. Partai pemenang diberi kesempatan duduk di pemerintahan. Yang kalah menjadi oposisi. Bagi yang menang, empat tahun ke depan adalah saat membuktikan janji. Bagi yang kalah, empat tahun ke depan adalah saat konsolidasi – persiapan untuk menang di pilpres mendatang.

Kelompok-kelompok sukarelawan dari kedua kubu membubarkan diri. Sebagian besar tidak mendapatkan imbalan apa-apa.

Pilpres adalah satu titik dalam perjalanan panjang berdemokrasi. Penting tapi bukan segalanya. Krusial tapi bukan tujuan akhir.

Jadi, anggaplah pilpres sebagai suatu yang lumrah alias biasa-biasa saja. Boleh mendukung atau tidak mendukung salah satu capres, dan lakukanlah dengan biasa-biasa saja.

Juga, siapapun yang terpilih maka dia yang harus didukung. Setelah pilpres, hidup tetap harus tetap berjalan seperti biasa.

Semoga pilpres negeriku berlangsung penuh damai.

Advertisements