Jangan Bicara Politik

on

Kaos warna hitam bertuliskan ‘Jangan Bicara Politik.’ Saya membelinya di toko koperasi mahasiswa UGM. Mungkin menjelang akhir 1994 saat kuliah masuk semester ketiga.

Frasa ‘Jangan Bicara Politik’ merupakan slogan mendiang majalah Editor. Pesan yang ingin disampaikan redaksi majalah ini adalah jangan bicara politik sebelum membaca majalah Editor. Menyusul pembredelan Editor oleh rejim Orde Baru pada medio 1994, kaos ini menjadi semacam simbol perlawanan. Atau setidaknya sindirian kepada rejim yang berkuasa.

Bagi sebagian orang saat itu, bicara politik adalah tabu. Alasannya? Tidak mungkin kita kita bicara politik tanpa menjelek-jelekan rejim penguasa saat itu.

Mengenakan kaos itu di Jogja – apalagi di kampus UGM – merupakan hal biasa. Sesuatu yang lumrah. Bahkan masih kalah hebat jika dibandingkan dengan orasi anti-pemerintah yang rutin digelar kampus.

Mengenakan kaos itu di Akademi Militer (Akmil) ternyata menjadi luar biasa. Karena memang tidak punya kaos lain, saya memakai kaos bertuliskan ‘Jangan Bicara Politik’ tadi ke acara wisuda masa basis teman-teman SMA yang masuk Akmil.

Foto saya dengan teman berseragam taruna Akmil melahirkan cerita baru. Foto itu dipilih menjadi sampul majalah SMA. Alasannya mungkin karena merepresentasikan unsur sipil-militer. Ada tiga orang di foto itu, dua mahasiswa dan satu taruna Akmil.

Ternyata ada yang tidak senang dengan tulisan ‘Jangan Bicara Politik’ yang saya kenakan. Mungkin dianggap kurang sopan. Atau menyinggung perasaan. Menyindir. Provokatif. Absurd. Melawan. Saru. Tidak pada tempatnya. Wallahu a’lam.

Entah mengapa, foto tersebut tetap dijadikan sampul majalah. Tidak diganti dengan foto lain yang ‘lebih pantas dan jelas lolos sensor.’

Namun, dan ini cerita lucunya, tulisan ‘Jangan Bicara Politik’ di foto itu diblok dengan spidol warna hitam! Jadi seolah yang saya pakai adalah kaos hitam polos tanpa tulisan apapun. Sayang beribu sayang, warna hitam spidol dan warna hitam kaos saya ternyata berbeda. Satu hitam tua, satunya lagi hitam muda.

Jadilah sebuah sampul majalah yang sama sekali tidak estetis. Mengundang senyum, juga rasa penasaran. Memang di tahun 1994 belum banyak beredar piranti lunak montase foto. Corat-coret dengan spidol menjadi cara termudah hehehe…

Terlepas dari sampul yang wagu tadi, saya menduga ada pesan sponsor yang hendak disampaikan. Pertama, penghilangan – secara paksa – tulisan ‘Jangan Bicara Politik’ adalah simbol sensor. Intinya, jangan coba-coba menyindir penguasa.

Kedua, bicara politik adalah tabu. Cara menjadi pemimpin bukanlah dengan berpolitik, namun dengan cara lain yang dianggap wajar saat itu. Pandangan ini memang refleksi zeitgeist atau jiwa jaman saat itu. Saat oposisi dibungkam dan perbedaan pandangan politik seperti diharamkan.

Empat tahun berlalu, situasi berubah drastis. Reformasi membuat politik menjadi salah satu topik yang paling enak dibicarakan. Tidak ada lagi rasa takut untuk bersilang pendapat atau menyampaikan argumen yang berbeda. Lebih dari itu, muncul juga kesadaran bahwa terjun ke dunia politik merupakan sebuah keniscayaan bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin.
Bagi saya kaos ‘Jangan Bicara Politik’ melahirkan kenangan tersendiri. Kaos itu merupakan simbol perlawanan mahasiswa yang duduk di kampus pada tahun 1990-an, saat rejim Orde Baru hampir tenggelam. Dan sampul majalah SMA itu menjadi saksi bahwa kita tidak dapat selamanya bertahan melawan perubahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s