Namaku Hasyim, Aku Orang Kurdi

by LareSabin

Pertemuanku dengan Hasyim terjadi lebih dari setahun lalu. Namun apa yang ia katakan saat itu begitu membekas. Aku masih mengingatnya dengan jelas.

Hasyim adalah pengemudi taksi yang kebetulan aku tumpangi dalam perjalanan dari Vienna Airport ke rumah. Aku tergerak untuk membuka percakapan setelah melihat nama yang terpampang di dashboard. Melihat tulisan ‘Hasyim’ segera aku menduga bahwa ia orang Turki.

Hasyim tidak menolak dianggap sebagai orang Turki, tapi ia lebih suka disebut sebagai orang Kurdi. Dan mulailah Hasyim bercerita tentang nasib bangsa Kurdi yang hidup terpisah di empat negara: Turki, Iran, Irak, dan Suriah.

Sesekali aku menimpali ceritanya. Untuk menunjukkan bahwa aku memiliki empati terhadap nasib bangsa Kurdi. Sampai kemudian satu pertanyaan kulontarkan. “Apakah bangsa Kurdi masih ingin memiliki negara Kurdistan yang merdeka?”

Hasyim tercenung dan diam sejenak. “Isu terpenting bangsa Kurdi sekarang bukan lagi soal merdeka atau tidak merdeka” katanya. “Tantangan terbesar adalah bagaimana membuat generasi muda dan anak-anak Kurdi tetap merasa sebagai bangsa Kurdi”.

Hasyim bercerita jika anak-anak muda Kurdi di Turki banyak yang merasa diri mereka sebagai orang Turki dan tidak peduli dengan identitas sebagai orang Kurdi. Sistem pendidikan menjadi sebab lunturnya identitas tersebut.

Menurut Hasyim lunturnya identitas bangsa Kurdi pada akhirnya akan melemahkan keinginan untuk memerdekakan diri. Generasi muda Kurdi merasa diri mereka lebih sebagai orang Turki, Iran, Irak, atau Suriah. Sesuai negara tempat mereka berada.

Hasyim mengakui bahwa memelihara identitas memang tidak mudah. Ia menjadikan anak-anaknya sebagai contoh. Mereka lahir dan besar di Austria, mengenyam pendidikan Austria, dan lebih banyak berbicara dalam bahasa Jerman.

Hasyim berusaha untuk selalu berbicara dalam bahasa Kurdi dengan anak-anaknya saat di rumah. Sementara kesempatan bertemu dengan anak-anaknya sangat terbatas.

Anak-anak Hasyim pada gilirannya lebih merasa sebagai ‘orang Austria’ dan ikatannya dengan identitas Kurdi kian menipis. “Pada kondisi seperti itu”, kata Hasyim, “apakah mereka akan tertarik untuk berdiskusi tentang negara Kurdistan merdeka?”

Akhirnya pembicaraan harus berakhir dan kami harus berpisah. Sambil menurunkan koper aku kembali menyampaikan empati terhadap perjuangan bangsa Kurdi.

Taksi yang dikemudikan Hasyim berlalu dan kini giliranku tercenung. Apa yang terjadi pada anak-anak Hasyim ada kemiripan dengan apa yang terjadi pada anak-anakku. Mereka besar dan belajar dalam suasana yang sangat berbeda dengan jaman orang tuanya. Tidak heran jika mereka juga memiliki definisi sendiri tentang identitas.

Namun aku bersyukur karena berbeda anak-anak Hasyim, anak-anakku punya negara sendiri yang merdeka. Meski begitu, aku setuju dengan Hasyim bahwa menjaga identitas generasi penerus bukan perkara mudah. Dan bukan hanya bangsa Kurdi yang mengalaminya.

Advertisements