Bolehkah Media Memihak?

by LareSabin

Saat melanjutkan studi di Australia, saya mendapatkan pengalaman baru. Menjelang pemilu, koran-koran setempat secara terbuka memberikan endorsement kepada partai politik yang mereka yakini akan membawa Australia ke arah yang lebih baik.
Hal serupa juga saya temui di Amerika Serikat. Koran-koran di negara Paman Sam juga secara terbuka menyampaikan endorsement kepada capres yang mereka yakini lebih tepat memimpin Amerika.
Pemberian endorsement menunjukkan bahwa media tidak dapat sepenuhnya bersikap netral. Oleh karenanya publik juga tidak dapat menyalahkan sebuah media dengan alasan penyampaian berita yang tidak berimbang. Yang ada adalah pilihan, koran mana yang paling sesuai dengan selera.
Meski setiap media memiliki preferensi, saya melihat adanya semangat yang kuat untuk menjaga kode etik jurnalistik. Keberpihakan pada satu kandidat tidak membuat awak media melecehkan profesi mereka sebagai jurnalis. Mereka tetap menulis berita berdasarkan fakta, bukan atas dasar asumsi atau desas-desus. Selain itu juga hampir tidak ada berita yang berisi fitnah atau hujatan serta berita yang provokatif.
Wajar jika kandidat yang di-endorse mendapatkan porsi pemberitaan lebih banyak. Atau op-ed yang dimuat lebih banyak mendukung kandidat yang di-endorsed tersebut. Namun berita-berita yang sifatnya menjelekkan kandidat lain tidak akan pernah ditampilkan.
Media umumnya mencantumkan alasan mengapa mereka memberikan endorsement pada satu calon. Dukungan diberikan secara rasional dan bukan karena pertimbangan lain.
Pemberian endorsement juga bersifat dinamis. Pada pilpres 2008, misalnya, koran A memberikan endorsement kepada kandidat dari Partai B. Bisa jadi pada pilpres mendatang koran tersebu mendukung kandidat dari Partai C.
Soal dukung-mendukung selesai setelah pilpres digelar. Jika kandidat yang didukungnya menang, sebuah koran tidak akan berubah menjadi jumawa. Demikian juga jika kalah, sebuah koran tidak kemudian diolok-olok karena dianggap salah memberikan dukungan.
Pemilu dan pilpres hanyalah satu fragmen dalam kehidupan bernegara. Jika timbul perbedaan, hal itu hanyalah riak kecil di tengah perjalanan menuju tujuan.
Pilpres selesai and life must go on. Perbedaan dianggap selesai dan saatnya memberikan dukungan kepada presiden terpilih.

Advertisements