Lebaran tiba

Ah, sehari menjelang lebaran. Aku terkenang dusunku nun jauh di sana, tersenyum menyambut kehadiran anak-anaknya dari perantauan.

Aku tahu apa yang dikerjakan para perantau itu. Menyusuri jalan dusun selepas subuh, menggandeng anak-anak mereka. Tanpa jemu para perantau itu bercerita. Tentang pematang sawah tempat mereka berlarian saat kanak-kanak. Tentang sungai berair jernih tempat mereka menghabiskan waktu di akhir pekan. Tentang bentangan rel kereta di ujung dusun, tempat mereka menunggu kereta api lewat.

Para perantau itu tahu benar bahwa dunia anak-anak mereka sudah jauh dari kesahajaan khas pedesaan. Anak-anak perantau itu berlari di taman-taman kota, bukan di pematang sawah. Mereka menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan, bukan di sungai berair jernih. Mereka juga tidak kagum dengan kereta api yang lewat karena modernitas sudah menjadi sesuatu yang biasa.

Namun, para perantau itu tetap saja merasa perlu mengajak anak-anak mereka menyusuri jalan dusun. Bukan sekadar bernostalgia, tetapi untuk menghubungkan anak-anak mereka dengan akarnya.

Ah, sehari menjelang lebaran. Engkau selalu mengajak para perantau itu menyusuri rentang waktu yang begitu panjang. Layaknya jalan yang harus mereka lewati untuk kembali ke rumah. Hingga mereka tersadar bahwa waktu telah banyak melahirkan perubahan.

Ah, sehari sebelum lebaran. Engkau selalu mengajakku bernostalgia, juga menerawang masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s