Delapan Hari Menjelajah Eropa (2): Liechtenstein

by LareSabin

Kami mengawali perjalanan ‘keliling Eropa’ ini dari Austria, melintasi wilayah Jerman bagian tenggara, masuk wilayah Austria lagi, kemudian ke sisi timur Swiss, sampai akhirnya tiba di sebuah negara kecil: Kepangeranan (alias Kadipaten) Liechtenstein. Dalam waktu sekitar tujuh jam, kami sudah melintasi empat negara!

Tidak seperti di belahan dunia yang lain, perjalanan melintasi batas negara di wilayah Uni Eropa tidak ribet. Tidak ada pemeriksaan imigrasi.

Saat masuk wilayah Jerman dari Austria, kami hanya melihat marka jalan bertuliskan ‘Selamat Datang di Jerman.’ Begitu juga saat kami kembali masuk di wilayah Austria, di perbatasan hanya kami lihat ucapan selamat datang di wilayah Austria. Tidak ada pos penjagaan. Seperti batas antardesa saja.

Saat masuk ke wilayah Swiss, baru kami menemui pos penjagaan. Meskipun masuk dalam zona Schengen, Swiss bukan merupakan anggota Uni Eropa. Saat melewati gardu jaga, kami tidak ada menjumpai pemeriksaan apa-apa. Saya hanya membuka kaca samping dan mengucapkan selamat siang kepada petugas jaga. Dan dia mempersilakan kami masuk wilayah Swiss.

Sekitar setengah jam berkendara di bagian paling timur wilayah Swiss, kami tiba di kota Vaduz – ibukota Kepangeranan Liechtenstein. Cuaca mendung siang itu, namun gerimis tidak lagi turun.

Bagi sebagian orang, Vaduz mungkin bukan destinasi wisata yang menarik. Alamnya tidak begitu indah. Pusat kotanya juga kecil, mungkin hanya seukuran Blok M. Jumlah penduduknya sekitar 5.000-an jiwa, masih kalah banyak dengan jumlah penduduk desaku di lereng Gunung Slamet nun jauh disana.

Namun, status sebagai ibukota ‘negara terkecil ketujuh di dunia’ membuat kami penasaran. Luas wilayah negara Liechtenstein hanya 160 kilometer persegi – hanya sedikit lebih luas dari wilayah Kota Jakarta Selatan. Luas wilayah Jaksel adalah 145,73 kilometer persegi.

Perjalanan sejarah Liechtenstein sebagai negara juga cukup menarik. Pada abad ke-17 keluarga Liechtenstein membeli ‘tanah perdikan’ Schellenberg dan Vaduz. Secara lokasi, dua tanah perdikan ini sebenarnya terpencil. Jauh dari kota Wina, tempat keluarga bangsawan tersebut bermukim. Meski terpencil, dua wilayah tersebut memiliki status perdikan alias wilayah bebas. Kepemilikan atas wilayah bebas ini menaikkan derajat keluarga Liechtenstein. Tadinya hanya menyandang gelar bangsawan tanpa wilayah kekuasan, sekarang keluarga Liechtenstein berdiri sejajar dengan raja-raja dan pangeran-pangeran Eropa abad pertengahan yang memiliki wilayah kekuasaan.

Pada tanggal 23 Januri 1719, dua wilayah tersebut secara resmi ditetapkan sebagai Principality atau Kepangeranan Liechtenstein, mengikuti nama keluarga empunya tanah. Uniknya, selama hampir seratus tahun setelah dibeli tidak pernah ada pangeran dari keluarga Liechtenstein yang mengunjungi negara ini. Liechtenstein hanya menjadi pendongkrak status dan dibiarkan begitu saja.

Pada tahun 1818, Prince Aloys menjadi pangeran pertama dari keluarga Liechtenstein yang berkunjung ke ‘negara yang dipimpinnya.’ Penguasa Liechtenstein baru berdiam secara permanen di Vaduz setelah runtuhnya Kekaisaran Austria-Hungaria pasca Perang Dunia Pertama. Sejak itu Liechtenstein mulai berkembang. Negara ini juga mulai lebih mendekatkan diri dengan Swiss – negara tetangga di sebelah barat.

Singkat kata, kami mulai menyusuri pusat kota Vaduz. Setelah membeli perangko dan kartu pos, kami mampir ke toko souvenir. Istana pangeran tampak di ketinggian, di puncak bukit di kota Vaduz. Kami tidak sempat naik ke istana karena hari sudah semakin sore dan mendung terlihat semakin pekat.

Setelah sekitar satu jam di Vaduz, kami melanjutkan perjalanan. Hanya sekitar lima menit berkendara dari pusat kota, kami sudah masuk kembali ke wilayah Swiss. Perjalanan dilanjutkan menuju pemberhentian berikutnya: Zurich.

Rute perjalanan Vienna-Vaduz.

Rute perjalanan Vienna-Vaduz.

Advertisements