Teh Jahe

by LareSabin

Syahdan, tenda angkringan yang bertebaran di setiap sudut kota Jogja selalu memiliki tiga buah ‘ceret’ – tempat menjerang air. Ceret pertama berisi air putih, ceret nomor dua berisi seduhan teh kental, dan ceret nomor tiga berisi air jahe. Ketiganya diletakkan di atas tungku arang – biasanya di bagian kanan gerobak angkringan.

Jika pengunjung memesan kopi, Juru Angkring akan menyeduh kopi dari ceret pertama. Jika yang dipesan adalah teh – panas, hangat, maupun dingin – air dari ceret nomor dua yang digunakan. Sebagai catatan, tidak perlu menggunakan kata ‘teh manis’ di Jogja. Kata teh secara otomatis akan diartikan sebagai teh manis. Jika ingin pesan teh tawar, sampaikan ke Juru Angkring kalau kita pesan ‘teh tidak pakai gula’.

Salah satu minuman yang identik dengan angkringan adalah ‘teh jahe’. Dari namanya kita paham jika minuman ini dibuat dari campuran teh dan jahe. Idenya mirip-mirip dengan oplosan atau koktail, cuma dalam bentuk yang paling sederhana. Juru Angkring mencampur isi ceret nomor dua dan tiga.

Pedas jahe dan segarnya teh melati berbaur menjadi satu menghasilkan rasa nan unik. Lebih nikmat lagi jika diminum sambil menikmati satu telur puyuh bacem. Nikmatnya sampai ubun-ubun. Achtung: hanya berlaku bagi mereka yang kadar kolesterolnya masih dalam batas normal. Meski rasanya enak, kadar kolesterol telur puyuh sangat tinggi. Katanya.

Teh jahe – versi hangat atau panas – cocok dinikmati di tengah hawa dingin. Sangat pas dinikmati saat malam sudah larut, saat hawa kota Jogja mulai adem. Atau bisa juga dinikmati di angkringan yang pakai AC. Tapi setahu saya belum ada angkringan yang pasang AC. Susah mau pasang dimana.

Di penghujung bulan November ini suhu udara di Wina sudah bolak-balik di kisaran 1 sampai 6 derajat celcius. Namanya orang di rantau, kalau ketemu susah langsung membayangkan yang enak-enak kampung halaman. Di saat hawa begitu dingin menusuk tulang, saya bayangkan teh jahe ala angkringan ada depan mata. Sepertinya nikmat sekali.

Nah, saat ke supermarket dua hari lalu, saya lihat teh kemasan dengan judul Gruener Tee Ingwer-Zitrone. Teh hijau dengan jahe dan jeruk. Sepertinya perlu dicoba.

Setelah diseduh, rasanya memang tidak ‘seotentik’ teh jahe made in angkringan. Tapi lumayanlah jika diminum sambil berandai-andai, sambil mengkhayalkan suasana angkringan Jogja. Rasanya sedikit berubah, menjadi lebih mirip teh jahe ala Jogja.

Kesimpulannya, sekali-kali hidup ini juga perlu diisi dengan khayalan. Lho??#!^*???

Anyway, selamat menikmati akhir pekan – dengan maupun tanpa teh jahe.

Advertisements