Kriket

by LareSabin

Entah kenapa saya agak suka nonton kriket. Padahal olahraga ini hampir tidak dikenal di Indonesia. Aturan mainnya saya juga nggak begitu paham. Satu pertandingan kriket kategori ‘test’ juga bisa makan waktu lima hari. Bagi banyak orang, durasi lima hari ini tidak hanya membosankan tapi juga nggak masuk akal.

Mungkin saya menikmati ‘drama’ yang terjadi di lapangan. Bagaimana dua batsman – pemukul – berkosentrasi penuh menunggu bola yang dilempar oleh bowler – pelempar bola dari tim lawan. Sebaliknya bowler bersiap melempar dengan tatapan yang intimidatif, membiarkan pemukul di depannya hanya bisa menerka ke arah mana bola akan dilempar.

Teman-teman si bowler berdiri di posisi yang diatur sedemikian rupa, sesuai dengan prediksi kemana bola akan jatuh. Jika bola yang dipukul berhasil ditangkap sebelum jatuh ke lapangan, pemukul harus meninggalkan lapangan. Out. Bagian ini mirip kasti.

Pemukul juga out jika tidak berhasil memukul bola yang dilempar lawan dan bola mengenai tiga tiang kecil di belakang si pemukul – kalau tidak salah disebut wicket. Aturan ini saya juga paham.

Namun wasit kadang memutuskan seorang pemukul harus out, tanpa saya pahami apa alasannya. Padahal bola tidak ditangkap. Wicket juga tidak jatuh terkena lemparan bola. Bagian ini bukan urusan saya 

Sebaliknya dua batsman akan berusaha memukul bola sejauh-jauhnya lalu saling berlari bertukar posisi. Satu kali tukar posisi artinya satu poin untuk pemukul. Jika bola dipukul keluar lapangan namun terlebih dahulu menyentuh permukaan lapangan, batsman yang memukul otomatis mendapat nilai 4. Jika bola berhasil dipukul dan keluar lapangan dengan melambung, batsman dapat tambahan poin 6. Semakin banyak poin yang dikumpulkan maka makin besar peluang sebuah tim untuk menang.

Ketika seorang batsman mengumpulkan 100 poin, dia disebut meraih ‘century’. Ini capaisn penting di dunia perkriketan. Hanya bisa dicapai dengan penuh kesabaran dan determinasi tinggi. Tidak hanya teman-temannya yang bertepuk tangan, penonton dan tim lawan juga memberikan penghormatan.

Tim yang mendapatkan giliran memukul belakangan harus meraih poin lebih banyak dibandingkan tim yang memukul pertama kali. Misalnya Tim A mendapatkan poin 500 dan seluruh pemukulnya out. Untuk dapat memenangkan laga, Tim B harus mengumpulkan poin di atas 500. Hanya berhasil mengumpulkan 499 poin artinya kalah.

Demikian, semoga tidak terlalu njlimet penjelasannya. Selamat menikmati akhir pekan.

*Ditulis sambil nonton streaming pertandingan Australia vs India.

Advertisements