Marak

Menghabiskan masa kecil di sebuah desa di kaki Gunung Slamet, saya beruntung menjumpai tradisi menangkap ikan di sungai dengan cara ‘marak’. Sampai dengan awal 1980-an, air Sungai Mengaji di sisi timur desa masih mengalir jernih. Sungai Mengaji juga dipenuhi bebatuan dengan berbagai bentuk dan ukuran. Batu-batu itu mungkin dimuntahkan oleh Gunung Slamet saat meletus di masa silam.

Ikan dan udang masih banyak hidup di sungai, berkeliaran di antara bebatuan dan meliuk hilir-mudik. Menangkap ikan dengan cara memancing, menjala atau memasang perangkap dari bambu (bubu atau wuwu) masih banyak dilakukan saat itu.

Musim kemarau – saat debit air sungai berkurang – adalah saat paling tepat untuk menangkap ikan dengan cara marak. Cara ini tidak hanya mudah dilakukan tetapi juga ramah lingkungan. Sungai dibendung dengan tumpukan batu dan dialihkan hingga air hanya mengalir di salah satu sisi sungai – misalnya sisi sebelah kanan. Karena dibendung, air di sisi sebelah kiri sungai akan berkurang – seperti pantai saat air laut surut.

Karena kekurangan air, ikan dan udang keluar dari persembunyian. Malang buat mereka, orang-orang sudah menunggu momen ini dan dengan cekatan menangkap ikan dan udang itu. Setelah dirasa cukup, aliran sungai dikembalikan seperti semula. Ikan dan udang yang bernasib baik – tidak tertangkap – berhak melanjutkan kehidupan dan aktivitas di sungai. Ikan dan udang yang tertangkap dikumpulkan jadi satu, lalu dibagi rata di antara mereka yang tergabung dalam kelompok marak ini.

Sayang sungguh sayang, sifat jelek manusia adalah tidak pernah merasa puas. Merasa hasil tangkapannya tidak cukup banyak, orang-orang berusaha menemukan metode baru yang lebih jitu. Selain membendung aliran sungai, mereka mulai menggelontorkan cairan yang disebut ‘tuba’ ke sungai. Tuba adalah residu yang dihasilkan dari proses penyulingan daun cengkeh. Ikan dan udang akan ‘kemleyeng’ lalu pingsan saat habitatnya digelontor cairan ini.

Dengan cairan tuba hasil tangkapan bertambah banyak. Namun cara menangkap ikan sudah tidak lagi ramah lingkungan. Sungai Mengaji mulai tercemar dan akibatnya jumlah ikan dan udang lambat-laun berkurang.

Karena hasil tangkapan kian menipis, orang-orang mulai menyalahkan cairan tuba yang dianggap tidak lagi ampuh untuk membuat ikan dan udang pingsan. Mereka beralih menggunakan racun ikan potas. Sejak itu potas mulai digelontorkan ke Sungai Mengaji.

Awalnya ikan dan udang yang berhasil ditangkap begitu melimpah. Namun orang-orang lupa jika potas juga membunuh ikan dan udang kecil serta merusak habitat mereka. Terlebih saat potas digelontorkan di hulu sungai. Kerusakan terjadi secara paripurna dari hulu ke hilir.

Tidak butuh waktu lama, ikan dan udang menghilang dari Sungai Mengaji. Habitat mereka rusak oleh tuba dan potas. Keserakahan dan ketidaktahuan mengubur cerita tentang menangkap ikan dan udang di sungai sebagai kenangan masa lalu. Tidak terdengar lagi nama-nama ikan sungai yang lucu dan aneh seperti benter, lunjar, sidat, nyongo, srewet, pelus, dan sebangsanya.

Kondisi bertambah memprihatinkan karena debit air Sungai Mengaji jauh berkurang akibat penggundulan hutan di daerah hulu. Marak juga telah menjadi kosa kata usang. Betapa keserakahan dan ketidaktahuan telah mengubah banyak hal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s