Kereta Api Kenangan

on

Jalan kereta api rute Purwokerto-Cirebon melintang di ujung selatan desaku. Lokasinya di dekat area perawahan – jauh dari pemukiman penduduk. Jalan kereta yang dibangun Belanda itu meliuk di antara dua gundukan bukit, lalu melintasi sungai yang menjadi batas dengan desa sebelah.

Meski setiap hari melintas dalam jumlah puluhan, kereta merupakan sosok asing bagiku. Juga bagi teman-teman sebayaku. Seumur-umur tidak ada di antara kami yang pernah naik kereta.

Padahal jika malam telah larut dan alam hanyut dalam hening, bunyi kereta yang melintas terdengar jelas sampai ke tengah desa. Suaranya khas seperti berirama. Sumbernya adalah bunyi hentakan teratur dari pertemuan roda kereta dan sambungan rel. Sampai kemudian bunyi itu melirih, lalu sirna ditelan sunyi.

Karena lokasinya yang jauh dari pemukiman, sehari-hari kami jarang melihat dari dekat kereta yang melintas. Hanya pada bulan Ramadhan kami memiliki banyak kesempatan untuk bermain di area sekitar rel kereta. Selepas shalat subuh biasanya kami beramai-ramai menapaki jalan desa menuju ke sana. Juga setelah waktu ashar sambil menunggu maghrib tiba.

Jika beruntung, kami akan menjumpai momen penting ketika kereta melintas. Kami melihat sosok asing itu dengan antusias. Dari atas bukit kereta terlihat melintas dengan angkuh tetapi berwibawa.

Sebagian dari kami berteriak: Minta! Minta! Dalam pikiran kami semua penumpang kereta adalah orang kaya. Kami berharap mereka akan melempar satu atau dua keping uang logam keluar jendela. Meskipun kami tahu tidak pernah ada koin yang dilemparkan oleh orang-orang kaya itu.

Jika memang ada yang melempar dengan niat derma, bagaimana kami akan tahu sementara kami hanya melihat dari jauh di atas bukit. Dan koin itu pasti jatuh tertelan semak belukar yang tumbuh rimbun di sisi rel kereta.

Ada juga yang sibuk menghitung jumlah gerbong. Setelah kereta melintas, selalu muncul kesimpangsiuran. Satu orang menyebut sepuluh gerbong, satu lagi hanya menghitung sembilan.

Beda hitungan ini disebabkan oleh perbedaan aliran dan keyakinan. Yang sepuluh berkeyakinan bahwa lokomotif harus dikategorikan sebagai ‘gerbong.’ Sebaliknya yang sembilan berpendapat bahwa lokomotif bukanlah ‘gerbong’. Karenanya hitungan harus dimulai dari gerbong di belakang lokomotif.

Demikianlah. Perbedaan ini menjadi topik debat seru dalam perjalanan pulang. Tidak pernah ada kata sepakat, meski kami berulang-ulang menghitung saat kereta lewat.

Meski menjadi topik perdebatan, kereta tetap saja menjadi sosok asing bagi kami. Tidak ada yang pernah naik kereta – moda transportasi yang setiap hari melintasi ujung selatan desa kami.

Sampai akhirnya aku tamat SMP dan hijrah ke daerah lain untuk melanjutkan studi tingkat SMA. Saat semester pertama memasuki bulan keempat, seluruh murid kelas satu diajak berwisata ke Jakarta. Saat itulah pertama kali aku naik kereta api: kelas ekonomi rute Kutoarjo-Pasar Senen.

Sesaat setelah kereta api melewati Stasiun Purwokerto, aku beranjak menuju ke jendela di ujung gerbong. Suasana di luar gelap karena malam telah tiba. Tapi aku merasa yakin lokasi dua gundukan bukit ujung selatan desaku – tempat rel kereta ini melintas – akan aku temukan.

Benar saja. Samar-samar kulihat gundukan itu. Juga persawahan yang dibalut gelapnya malam. Lalu kereta melintasi jembatan di atas sungai, meninggalkan desaku di belakang. Semuanya berlangsung begitu cepat. Seperti berkelebat saja.

Di dekat jendela di ujung gerbong itu aku menitikkan air mata. Serasa kawan-kawanku berderet di atas bukit berteriak: Minta! Minta! Dan ketika kereta berlalu mereka sibuk dengan silang pendapat soal jumlah gerbong. Sayang keretaku lewat di malam hari. Saat itu teman-temanku sedang lelap bersama mimpi mereka.

Aku juga menitikkan air mata teringat ayah dan ibu. Mereka mungkin juga sedang terlelap tidur. Jika masih terjaga, mereka hanya bisa mendengar dari jauh bunyi khas pertemuan roda dan rel kereta. Tanpa tahu jika keretaku baru saja melintas, meliuk di sela gundukan bukit di ujung desa.

Aku terisak sambil berdiri di dekat jendela di ujung gerbong. Sampai rasa lelah membawaku kembali ke tempat duduk, dan keretaku terus melaju ke ibukota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s