Cerita Buah Mundu

by LareSabin

Hari Sabtu kemarin saya membeli dua kilogram buah apel berwarna hijau kekuningan. Atau kuning kehijauan, terserah. Difoto dengan smartphone, ternyata bagus juga hasilnya.

Saat menikmati apel yang renyah dan manis ini, tiba-tiba saya teringat buah mundu saat kecil dulu. Melirik wikipedia, nama latin buah mundu adalah ‘garcinia dulcis’. Katanya buah ini asli Indonesia, bukan pendatang. Masih satu kerabat dengan manggis dan asam kandis. Karena penampakannya mirip apel, mundu kerap disebut sebagai ‘apel jawa.’

Nah, ‘apel jawa’ ini merupakan buah impian saat saya kecil. Kalau tidak salah, hanya ada satu pohon mundu yang tumbuh di desa kami. Pohonnya tinggi menjulang di pekarangan depan sebuah rumah, tidak jauh dari sungai tempat kami ramai-ramai mandi.

Setiap melewati pohon itu, dalam perjalanan menuju sungai, saya dan kawan-kawan sepermainan hanya bisa menatapnya sambil menahan air liur. Membayangkan enaknya rada buah mundu yang bergantungan. Buah yang masih hijau pun kami bersedia diberi. Apalagi buah yang telah matang dan berwarna kuning mengkilat.

Sayang sekali, tidak ada di antara kami yang berkerabat dengan empunya pohon. Kenyataan ini membuat akses kami untuk dapat mencicipi buah mundu itu otomatis tertutup. Karena itu, kami hanya bisa kembali menatap pohon mundu itu, setiap kali kami melewatinya dalam perjalanan menuju ke sungai.

Pernah saya dengar beberapa anak hendak memetik buah mundu secara ilegal alias mencurinya malam-malam. Sial, upaya tak terpuji itu rupanya ketahuan. Satu anak yang sedang beroperasi di atas pohon tergesa turun. Karena tergesa, kain sarung yang dikenakan anak itu tertinggal di pohon.

Esoknya si anak mengetuk pintu rumah pemilik pohon mundu, mengambil sarung yang ‘tertinggal’ dan menyampaikan pengakuan dosa.

Cerita ini membuat saya semakin terkesan dengan pohon mundu satu-satunya di desa kami itu. Mencicipi rasa buahnya yang lezat adalah impian di masa kecil, saat keseharian anak-anak masih begitu sederhana…

Advertisements